Kontribusi Ilmu dalam Membangun Peradaban

0
1888
Kontribusi Ilmu dalam Membangun Peradaban
ilustrasi. sumber: geotimes.com
Iklan

Oleh: KH. Mohamad Muzamil (Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Tengah)

Alloh SWT maha berilmu. Seandainya seluruh ranting pohon dijadikan sebagai pena, dan air lautan dijadikan sebagai tintanya, niscaya tidak akan cukup untuk menuliskan ilmu Alloh. Alloh memberikan ilmu kepada umat manusia kecuali sedikit.

Manusia pertama yang dikasih pelajaran oleh Alloh adalah Nabi Adam. Ia dikasih tahu tentang nama-nama benda semuanya. Kemudian Nabi Adam mengajarkan kepada anak keturunannya. Malaikat pun mengakui keunggulan Nabi Adam sehingga malaikat mau menghormatinya atas perintah Alloh.

Para malaikat berkata, “Maha suci Engkau, kami tidak mengetahui kecuali apa yang telah Engkau ajarkan, sesungguhnya Engkau maha mengetahui lagi maha bijaksana”.

Karena itu dari sisi ketaatan kepada Alloh, malaikat lebih taat. Namun dari sisi ilmu, manusia lebih banyak diberikan ilmu. Manusia yang diwakili para nabi dan utusan Alloh, lebih banyak diberikan ilmu ketimbang para malaikat. Para malaikat hanya diberikan ilmu sesuai bidang tugasnya. Untuk itu manusia lah yang diberikan amanat oleh Alloh sebagai pemimpin atau khalifah di muka bumi ini.

Guna menjalankan tugas sebagai khalifah, manusia diciptakan oleh Alloh dalam bentuk yang sempurna, diberikan panca indera, hati, akal dan nafsu. Juga diberikan petunjuk berupa wahyu melalui para nabi dan utusan-Nya. Dari sini sudah jelas bahwa yang disebut dalil terdapat dua, yakni dalil naqli (wahyu) dan aqli (pemikiran akal). Bahkan juga ada ulama yang menambahkan, yakni waqi’i (dalil yang terjadi pada alam).

Karena itu yang dimaksud ilmu adalah penggunaan panca indera, hati dan akal dalam memahami wahyu di satu sisi dan memahami gejala alam di sisi yang lain.

Kedua hal ini tidak dapat dipisahkan karena merupakan satu kesatuan yang utuh. Para ulama terdahulu mulai dari generasi sahabat dan tabi’in serta ulama al-salafu sholih tidak memisahkan kedua ilmu pokok tersebut.

Kemudian karena kemampuan manusia terbatas maka kajian terhadap objek ilmu tersebut dibedakan bahwa pokok kajian yang pertama disebut ilmu agama dan yang kedua disebut ilmu pengetahuan alam atau ilmu umum.

Kedua ilmu yang pokok atau ushul ini merupakan kebutuhan bagi umat, karena adanya pernyataan baginda Nabi Muhammad, “Barangsiapa yang menghendaki dunia maka harus menggunakan ilmu, barangsiapa yang menghendaki akhirat juga dengan ilmu dan barang siapa yang menghendaki keduanya juga harus dengan ilmu”.

Dengan memilih ilmu, Nabi Sulaiman mendapatkan kehormatan dan kemudahan dalam hidup. Ia menjadi raja kaya raya dan memimpin dunia dengan adil serta memiliki istri yang cantik.

Karena itu awal mulanya dengan ketaatannya kepada Alloh dan utusan-Nya, umat Islam menjadi umat yang menguasai ilmu, baik ilmu dunia dan ilmu akhirat, sehingga masyarakat Islam menjadi rujukan dalam membangun peradaban umat manusia dengan ketinggian ilmu dan akhlak yang mulia. Namun pada perkembangan berikutnya terjadi kemunduran, karena terjadi pergolakan internal umat Islam terkait politik atau kepemimpinan umat.

Pergolakan ini terjadi karena faktor internal seperti menurunnya kualitas moral di satu pihak dan ekstern di pihak lain seperti adanya provokasi dan propaganda yang menimpa umat.

Tentu sudah banyak ide dan pemikiran agar umat Islam dapat kembali memegang supremasi ilmu. Namun banyaknya ide dan pemikiran tersebut juga masih membuat umat Islam terkotak-kotak dalam gerakan ideologi dan politik.

Kecenderungan ilmiah yang terjadi, misalnya, kelompok Wahabi yang berkuasa di tanah suci sejak 1924 lebih cenderung menggunakan dalil naqli semata dan tidak mau menggunakan dalil aqli dan waqi’i, sehingga pemahamannya bersifat harfiah, tekstual.

Sementara itu dunia Barat hanya mau menggunakan dalil aqli dan waqi’i semata, sehingga cenderung liberal. Perbedaan ini kemudian menimbulkan pertentangan dari kelompok jihadis dengan melakukan teror dan kekerasan.

Pada bagian lain, mestinya terdapat kelompok mayoritas yang moderat, yang menerima dalil naqli, aqli dan waqi’i secara seimbang, namun umumnya berada di dunia ketiga, atau negara-negara yang berkembang. Meski besar jumlahnya, namun belum signifikan mengambil peranan, karena masih terbatasnya melakukan inovasi terhadap ilmu.

(Konten Kolaborasi nujateng.com bersama justisia.com dan pmiiwalisongo.com)