Di Balik Makna Tradisi Pujian Setelah Adzan

0
2594
Credit foto: serayunews.com
Iklan

Oleh:Muhammad Lutfi N Setiawan (Mahasiswa UIN Walisongo Semarang)

Islam, budaya, dan seni merupakan dimensi yang berbeda. Namun, jika budaya dan seni dijadikan sebagai medium dakwah ajaran Islam, maka bisa dimungkinkan menjadi hal yang baik. Pun hasilnya akan signifikan untuk pertumbuhan peradaban Islam. Diaspora implikasi ajaran Islam dalam wadah budaya dan seni juga turut memperhatikan kondisi dan situasi masyarakat yang menjadi target. Di lain sisi, merupakan sarana transfer ilmu dan nilai keislaman.

Salah satu diaspora ajaran Islam dalam praktik kebudayaan dan seni adalah pujian. Begitu lazimnya pujian dilakukan oleh warga Nahdliyyin. Mereka memakai ini setelah adzan sebelum imam siap untuk memimpin sholat jamaah. Pujian merupakan alat atau sarana dakwah yang dilakukan setelah adzan selesai untuk menunggu Imam datang untuk memimpin sholat.

Pujian di antara adzan dan iqamah merupakan ritual yang lazim dilaksanakan oleh warga Nahdliyyin (sebutan untuk simpatisan dan anggota Ormas Nahdlatul Ulama). Biasanya, pujian yang dikumandangkan oleh warga Nahdliyyin, merupakan lagu-lagu yang sudah familiar atau tembang-tembang lokal, yang artinya liriknya diganti dengan syi’ir (sya’ir) berisi dzikir (lafal-lafal yang diucapkan sebagai sarana mengingat Tuhan) atau bertema nasihat (Fithriyan Munawwir, n.d., 68).

Islam sejak pertama kali datang ke Indonesia tidak pernah menolak atau melawan arus budaya dan seni yang sudah mengakar dalam jati diri setiap masyarakat Indonesia. Tidak pernah melawan arus budaya dan agama Hindu-Buddha yang telah datang dan diterima lebih dulu. Justru sebaliknya, Islam menyerukan pemeluknya untuk menghargai dan menghormati pemeluk agama dan kepercayaan lain. Dan ini yang dimaksud dengan cara pandang hikmah (damai).

Senada dengan apa yang diungkapkan oleh Muhammad Syarif Hidayatullah dalam jurnal penelitiannya mengenai teori-teori masuknya Islam di Indonesia (Hidayatullah 2014, 6): Kedatangan Islam di Nusantara membawa tamaddun (kemajuan) dan kecerdasan. Islam telah mengubah kehidupan-kehidupan sosial budaya dan tradisi kerohanian masyarakat Indonesia. Kedatangan Islam merupakan titik terang bagi kawasan Asia Tenggara terutama Indonesia, karena dalam ajaran Islam sangat mendukung intelektualisme yang tidak terdapat pada masa Hindu-Buddha.

Dialektika Islam yang ramah ini kemudian disempurnakan oleh penyebar Islam, khususnya di tanah Jawa. Mayoritas masyarakat menyebutnya dengan ‘Walisongo’. Mereka adalah pelopor dan pejuangan pengembangan Islam di pulau Jawa yang memiliki kemampuan mengabstrasikan ajaran Islam dengan menyesuaikan karakteristik masyarakat Jawa pada masa itu.

Pola yang digunakan oleh Walisongo bukan negatif (menolak atau mendiskreditkan ajaran terdahulu), justru bertindak afirmatif (menerima dengan mengembangkan dan menyesuaikan). Targetnya menuju kepada masyarakat mau menerima ajaran Islam yang baru datang tanpa meninggalkan atau melupakan ajaran nenek moyang yang sudah menjamur dalam keseharian. ‘Budaya’ dan ‘seni’ adalah jalannya.

Seperti yan diutarakan di atas, bahwa budaya, seni, dan Islam adalah dimensi yang berbeda. Namun, ketiga aspek itu dapat terfragmentasi dalam satu wadah yang baik sebagai metode pengembangan. Walisongo berhasil memainkan peran di situ; menggubah ajaran Islam yang ketat dengan menyesuaikan kondisi masyarakat setempat. Contoh konkritnya adalah ajaran Hindu-Buddha yang dominan tembang (baca: lagu), liriknya diramu dengan intisari kurikulum Islam sehingga produknya dapat dinikmati secara mudah. Pujian salah satunya.

Pujian: Menyelinap Basis Kultural

Sepakat atau tidak, adalah sebuah keniscayaan bahwa Walisongo melancarkan dakwahnya melalui masyarakat golongan menengah ke bawah. Dalam konteks ini, istilah yang sering digunakan adalah masyarakat tradisionalis. Jati diri primordial yang terbentuk dalam masyarakat tradisionalis adalah mempercayai pujian dengan berbagai varian liriknya untuk kegunaan (funsional) dalam kehidupan sehari-hari.

Sebelum jauh membahas kegandrungan masyarakat tradisionalis melantunkan pujian setelah adzan, patut kiranya penulis mengutarakan akan bebasnya dasar hukum pujian. Karena ini bukan ranah memperdebatkan hukum pujian yang selalu tidak ada ujungnya. Pun, demikian pujian oleh sebagian kelompok diibaratkan dengan shalawatan pada umumnya. Hanya saja shalawatan dominan dengan teks Arab, sedang pujian lebih ke bahasa daerah (Jawa, dsb).

Penulis berusaha mengalihkan romantisme perdebatan yang tak berujung, dengan berpindah kepada pemahaman masyarakat Islam tradisionalis yang akut dengan syair-syair yang terwujud dalam pujian yang selalu dilantunkan usai adzan. Melalui paparan kitab Majmu’ah Mawalid, uraian tersebut adalah (Mawardi 1970, 6-7);

Pertama, syair-syair tersebut merupakan suatu keindahan sekaligus keagungan dalam sastranya. Syair tersebut yang tertulis dalam bahasa Arab mempunyai gaya bahasa dan bentuk penulisan yang indah, seperti akhir bait yang selalu berakhiran sama atau rima yang padu. Oleh karena itu, penafsiran dan terjemahan syair-syair tersebut juga diusahakan memenuhi kriteria keindahan dalam bahasa Jawa. Teksnya berbeda, namun tidak dengan esensinya yang sama.

Kedua, adakalanya syair-syair tersebut ditambah dengan nadzam-nadzam lain untuk memperkuat dorongan semangat implikasi ajaran Islam. Biasanya, kita sering mendengar lantunan pujian di masjid atau langgar yang dimulai dengan teks Arab terlebih dahulu, baru kemudian disusul dengan teks Jawa.

Ketiga, adalah daya tarik dakwah. Pujian dilantunkan usai adzan dan sebelum iqomah. Di satu sisi adalah penanda bahwa shalat jamaah belum ditunaikan sehingga masyarakat bisa bersiap-siap dan bergegas untuk segera berbenah diri dan berangkat ke masjid. Dan di sisi lain bisa menjadi sarana transfer nilai ilmu dan pengetahuan keislaman kepada jamaah, terkhusus bagi pendidikan anak dan remaja.

Terlepas dari itu, setiap ihwal selalu memiliki sisi negatif dan positif. Demikian dengan pujian yang memiliki segi kemaslahatan dan kemudharatan, tergantung bagaimana cara menyikapinya. Dahulu para ulama menggunakan pujian ini mempunyai tujuan besar yakni untuk menyebarkan Islam secara luas dan lunak untuk dipahami. Bahkan, jika ditelisik lebih dalam pujian juga merupakan salah satu media untuk memberikan sebuah pendalaman keislaman kepada masyarakat luas terutama bagi Ahlu al-Sunnah wa al-Jama’ah (Fatqu Rois 2016, 10).

Pujian: Dimensi Praktik Agama

Secara tidak langsung, pujian yang memiliki sisi transfer nilai ilmu dan keilmuan dalam masyarakat Jawa juga memiliki dimensi lain, yaitu sebagai praktik ajaran agama. Dimensi praktik agama merujuk pada tingkat kepatuhan pribadi dalam mengerjakan kegiatan-kegiatan ritual sebagaimana digariskan oleh agama (Eka Elia Rusvita Dewi 2020, 5-8). Dalam contoh konkritnya, hal itu bisa dianalisis dalam contoh pujian ‘Tombo Ati.’

Lirik pujian ‘Tombo Ati’ adalah sebagai berikut:

Tombo ati iku limo perkarane
Kaping pisan, moco Qur’an lan maknane
Kaping pindo, sholat wengi lakonono
Kaping telu, wong kang sholeh kumpulono

Kaping papat, kudu weteng ingkang luwe
Kaping limo, dzikir wengi ingkang suwe
Salah sawijine sopo biso ngelakoni
Mugi-mugi Gusti Allah nyembadani

Melalui pembacaan lirik pujian di atas, dapat diambil ajaran agama yang bisa diamalkan oleh masyarakat muslim. Secara garis besar, ‘Tombo Ati’ memuat dimensi praktik agama yang menyangkut dari ibadah mahdah (hubungan vertikal) juga ibadah sosial yang hubungannya dengan kesejahteraan dan kemaslahatan (hubungan horizontal).

Melalui penelurusan lebih lanjut, dimensi praktik agama tidak bisa dilepaskan dengan dimensi pengalaman. Dimensi pengalaman menunjuk pada seberapa tingkat muslim berperilaku dimotivasi oleh ajaran-ajaran agamanya. Hal ini dapat terwujud pada perilaku suka menolong, bekerja sama, menyejahterakan dan menumbuhkembangkan orang lain, menegakkan keadilan dan kebenaran, berlaku jujur, memaafkan, menjaga lingkungan hidup, menjaga amanat, dan sebagainya.

Puji-pujian sudah menjadi kebiasaan masjid atau musholah khususnya di daerah Jawa sejak jaman dahulu. Secara historis di Indonesia kebiasaan tersebut berasal dari pola dakwah para Walisongo. Yakni membuat daya tarik bagi orang-orang di sekitar masjid yang belum mengenal ajaran salat. Dengan dilantunkannya pujian, tembang-tembang, dan shalawat tersebut, sebagian dari masyarakat setempat bersedia untuk berdatangan mengikuti salat berjamaah di masjid.

Kepustakan

Eka Elia Rusvita Dewi, Dkk. 2020. “Nilai Religius Dalam Folksong Puji-Pujian Di Masjid Dusun Kebonuluh Desa Bungur Kecamatan Tulakan.” Stkip Pgri Pacitan.

Fatqu Rois. 2016. “Internalisasi Pemikiran Islam Dengan Wasilah ‘Pujian’ Dalam Amaliyah Nu (Studi Kasus Di Desa Kersoharjo Kec. Geneng Kab. Ngawi).” Al-Mabsut: Jurnal Studi Islam Dan Sosial.

Fithriyan Munawwir, Dkk. N.D. “‘Pujian’ Di Kalangan Warga Nahdliyin Kabupaten Banyuwangi: Sebuah Analisis Deskriptif.” Vidya Samhita.

Hidayatullah, Muhammad Syarif. 2014. “Teori-Teori Masuknya Islam Ke Wilayah Timur Indonesia.” Jurnal Sivitas Akademika Ui.

Mawardi, Kholid. 1970. “Shalawatan:  Pembelajaran Akhlak  Kalangan Tradisionalis.” Insania : Jurnal Pemikiran Alternatif Kependidikan.