Pesantren Menjadi Benteng Merebaknya Fenomena Post Truth dalam Dunia Digital

0
10764
credit:kompasiana.com
Iklan

Oleh:Abdullah Faiz (Redaktur nujateng.com)

Setengah abad yang lalu Nabi Muhammad Saw menyampaikan akan terjadi perpecahan umat Islam menjadi 73 golongan dan hanya satu yang akan selamat. Apa yang tidak lebih mengerikan dari perpecahan pada sebuah kaum. Kalau hanya sekedar terpecah dalam segi pemahaman menjadi tujuh puluh tanpa adanya permusuhan itu mungkin akan menjadi hal biasa karena itu adalah manifestasi dari perbedaan.( et al., 2020) Menjadi sebuah masalah adalah kemudian kesalingklaiman dari masing-masing golongan terhadap kebenaran tunggal para dirinya dan menuduh sesat golongan lainnya. Oleh karena hal itu, fardlu kifayah bagi setiap generasi untuk mengajarkan kepada mereka yang tidak memahami terhadap ajaran yang sesuai dengan Al-Quran dan Sunah Nabi Muhammad saw.

Perlu difahami bahwa semua golongan dari perpecahan itu, mengaku sebagai penganut Ahlissunnah Wal Jama,ah dan semua menganggap dirinya sebagai golongan yang benar dan berhak masuk surga, tidak ada yang mengaku sebagai ahli bid’ah dan sesat. Menyikapi keadaan ini tentu sebagai generasi muda kita harus bersikap bijaksana bahkan kita harus menguji kebenaran dari pengakuan itu, dengan cara mencocokannya dengan Al-Quran, Sunah Nabi SAW, dan sunah para sahabatnya. Ahlussunnah Wal Jamaah yang biasa kita singkat menjadi aswaja berasal dari kata Sunnah yang berarti jalan dan kata Jamaah yang berarti golongan orang banyak. Adapun yang dimaksud dengan sunnah adalah jalan yang ditempuh oleh para sahabatnya.

Sedangkan yang dimaksud jamaah adalah jalan yang ditempuh oleh para sahabatnya. Maka pengertian dari Ahlussunnah Wal Jamaah adalah golongan mukminin yang mengikuti sunah Rasulullah SAW dan sunah para sahabatnya.(Zahroh, 2021)

Ahlissunnah Wal Jamaah merupakan golongan yang mengikuti Imam Al-Asy’ari yakni orang yang merumuskan akidah ini, dan Imam Al-Maturidi dalam permasalahan akidah, sedangkan dalam hukum fikih menganut madzhab empat yakni Imam Hanafi, Imam Maliki, Imam Syafi’i dan Imam Hambali, dalam tasawuf berkiblat kepada Imam Al-Ghazali dan Al-Junaidi. Di era post truth yang sering digambarkan sebagai era matinya kepakaran, the Death of Expertise (meminjam bahasanya Tom Nichols) adalah masa di mana prinsip sebuah metode berpikir sebagai landasan untuk bertindak dari Aswaja menjadi harga mati yang tidak mungkin ada penawaran. Sebab kebenaran menjadi kabur yang terpenting keyakinan dan ego diri, semua bisa bicara mesti bukan ahlinya dan itu dipercaya masyarakat jika sesuai dengan keyakinan mereka. Maksudnya di mana bukan fakta dan kebenaran yang penting, tapi adalah emosionalitas informasi dan reproduksinya secara berulang-ulang melalui media sosial.

Jadi post truth ini bukan lagi peristiwa tunggal. Melainkan adalah penyebaran informasi dengan intensitas luar biasa dan sehingga seolah-olah ketidakpedulian terhadap kebenaran telah menjadi norma. Kita hidup di zaman ketika “fakta sia-sia” sebuah kalimat singkat untuk meringkas post truth. Dalam post truth ada kenyamanan dengan berita bohong dan propaganda, yang penting bisa memuaskan hasrat kekuasaan. Manhaj al-fikr Ahlussunnah Wal Jamaah adalah orang-orang yang memiliki metode berfikir keagamaan yang mencakup semua aspek kehidupan yang berlandaskan atas dasar moderasi, menjaga keseimbangan, dan toleran. (Ansori, 2019)

Peran Pesantren

Dalam hal ini pesantren menjadi sangat penting untuk ikut andil dalam proses kaderisasi intelektual para santri. Sejauh ini poroses keilmuan yang masih bisa dipertanggung jawabkan adalah komunitas pesantren. Salah satu buktinya adalah keberpihakan memilih kajian dan menyaring beberapa pengetahuan dengan sistem sanad atau isnad. Tradisi akhdzu sanad atau etika mengambil sanad masih menjadi sakral dalam beberapa pondok pesantren, dalam arti luas para santri tidak boleh berguru dan mengambil ilmu dari seorang yang tidak diketahui dengan jelas pengambilan ilmunya (gurunya).

Beberapa literatur menyebutkan pentingnya mengambil ilmu dari sumber yang dapat dipercaya. Misalnya sebagain ulama menyakini bahwa ilmu adalah agama itu sendiri oleh karena itu dalam pengambilanya tidak boleh sembarangan.

Al-ilmu ad-dinu fandzuru an man ta’khudzuna dinaa

Disebutkan bahwa ilmu itu adalah jalan atau agama itu sendiri, sehingga pemahaman agama dapat dipertanggung jawabkan. Hal ini sangat berkaitan dengan kualitas para santri dalam memenuhi setiap bidang keilmuanya, rata-rata para santri yang mengkaji sesuai dengan kapasitas kemampuanya dan benar jalur sanadnya ia cenderung lebih berhati-hati dalam menyimpulkan kasus atau kejadian yang sedang terjadi.

Oleh karena itu potensi para santri di pondok pesantren untuk berbicara tanpa keahlian yang dimiliki sangat minim. Berbicara soal matinya kepakaran adalah persoalan yang perlu ditelisik sampai dalam, bisa jadi ada kesalahan dalam proses pengambilan ilmunya. Namun sayangnya fenomena seperti ini sudah menjadi hal yang mengakar dilingkungan kita. Sehingga pemandangan perdebatan orang biasa dengan seorang profesor atau intelektual di ruang publik sudah menjadi hal yang biasa.

Pemahaman aswaja sebagai manhaj al-fikr adalah metode dalam berfikir yang dilahirkan dan dirumuskan oleh orang-orang pesantren, maka berangkat dari sini kajian-kajian yang diperjuangkan oleh para kiai dan santri jangan sampai dipahami mentah-mentah oleh sebagian golongan yang kualitas keilmunya masih diragukan. Hal ini adalah solusi agar pemahaman Ahlussunnah wal Jama’ah tidak dieksploitasi dan dibelokkan ke arah kepentingan yang kurang menguntungkan. (Ansori, 2019)

Dari pembahasan ini setidaknya menjadi otokritik bagi para santri yang berkutat dalam kajian-kajian kepesantrenan, sebab literasi klasik soal kajian aswaja semuanya berangkat dari generasi salaf yang karya-karyanya masih dikonsumsi di setiap pondok pesantren. Sementara post truth atau matinya kepakaran adalah bentuk yang muncul karena kurangnya konsumsi keilmuan dan minimnya pembendaharaan ilmu yang diraih, atau bisa saja karena proses pengambilan ilmunya tidak jelas sumbernya. Wallahu a’lam