Nafsu, Hidayah dan Pentingnya Akhlak

0
659
Nafsu, Hidayah dan Pentingnya Akhlak
Nafsu, Hidayah dan Pentingnya Akhlak

Kiai Muhammad Muzzamil (Ketua Tanfidziyah PWNU JawaTengah)

Peradaban Islam dibangun atas dasar pengakuan atau syahadah bahwa setiap manusia adalah ciptaan dan sekaligus hamba Allah Ta’ala dengan segenap potensi yang ada pada dirinya.

Manusia diberikan panca indera, akal, hati dan nafsu. Dengan potensi tersebut manusia mampu menangkap hidayah atau petunjuk berupa agama atau al-din, yang mampu menggerakkan manusia untuk mencapai tujuan dan cita-cita hidupnya yang mulia.

Karena itu lengkap sudah kemampuan manusia sebagai pemimpin di bumi. Semua itu tergantung pada diri manusia sendiri apakah mampu berperadaban secara tinggi dan mulia atau justru sebaliknya.

Jika manusia mampu mengaktualisasikan potensi yang ada pada dirinya maka ia akan memiliki nafsu muthmainnah atau jiwa yang tenang dan dinamis dalam membangun peradabannya. Ia akan mampu menjaga keseimbangan mengendalikan nafsu amarah (membangkang, merusak) dan nafsu lawamahnya atau kadang ta’at dan kadang maksiyat karena godaan yang ada pada dirinya.

Dengan nafsu amarah, manusia akan berusaha sekuat tenaga dan berbagai macam cara untuk mencapai keinginannya, meski tanpa disadari akan adanya bahaya yang akan merusak diri dan lingkungannya. Setelah ia menyadari bahayanya yang destruktif tersebut, ia akan belajar untuk berbuat yang terbaik, meski kadang juga ada yang tidak mau belajar dan akhirnya justru akan jauh terperosok dalam jurang kehancuran.

Pada awalnya ia merasakan manisnya nafsu amarahnya. Namun hal ini hanya sesaat, dan akan mengalami kerusakan. Semoga Alloh Ta’ala menjaga kita dari hal yang demikian.

Pada umumnya diri kita memiliki nafsu lawamah, sebagaimana iman yang kadang bertambah dan kadangkala berkurang. Untuk mencapai pada derajat nafsu muthmainnah memang butuh perjuangan yang sungguh-sungguh. Dan ini tidak mudah kecuali mendapatkan pertolongan dari Alloh Ta’ala.

Ajaran agama yang bersumber dari wahyu yang diterima melalui para utusan Allah, dan yang terakhir dibawa oleh Rasulullah Muhammad Saw, adalah petunjuk bagi umat manusia yang akan mencapai derajat nafsu muthmainnah. “Sesungguhnya petunjuk adalah petunjuk Alloh Ta’ala”.

Dan sebaik-baik orang yang memberikan petunjuk adalah Rasulullah Muhammad Saw, para sahabatnya, keluarganya dan pengikutnya yang sholih hingga akhir hayat.

Pada era sekarang, yang bisa menjadi perantara atau washilah untuk mencapai hidayah tersebut adalah para alim ulama, karena ulama adalah pewaris para Nabi. Tentu yang diwarisi bukan kenabiannya, melainkan ilmunya, semangat perjuangannya, ibadahnya yang tekun, keteladanan yang baik dan kasih sayangnya kepada ummat.

Kemudian pada akhir jaman ini telah muncul gejala menjauhnya umat dari ulama dan fuqaha atau ahli fiqih. Tentunya ini akan menjadi masalah. Sudah banyak fitnah yang dialamatkan kepada para ulama dengan berbagai macam propaganda. Telah bertebaran informasi yang menyudutkan posisi ulama, yang tujuannya adalah agar umat tidak lagi percaya pada ulama.

Menghadapi kenyataan dalam masyarakat tersebut, para ulama telah melakukan edukasi tentang pentingnya akhlak al-karimah, perilaku yang terpuji.

Adab ini diajarkan oleh ulama kepada umat. Dan setiap umat mengajarkan kepada keluarganya. Keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat. Jika setiap keluarga mengajarkan pentingnya akhlak yang baik, maka lambat laun bangsa kita akan dapat mencapai derajat yang tinggi dan mulia.

Wallahu a’lam.

Mohamad Muzamil, pernah aktif pada Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) di Semarang