Gus Dur, Islam, dan Kemanusiaan

0
1493
Khazanah Pemikiran Islam Nusantara ala Gus Dur
Kredit Foto: NU Online
Iklan

Oleh: Amar Al Fikar (Mahasiswa University of Brimingham)

nujateng.com Buku yang kupegang ini adalah pemberian dari Mbak Anita Ashvini Wahid yang tahun lalu memimpin sebagai ‘komandan’ kepanitiaan Haul Gus Dur ala Ciganjur (ada banyak ‘ala’ haul Gus Dur, dirayakan dan dimeriahkan oleh berbagai kalangan, berbagai acara di penjuru Indonesia). Beberapa tahun belakangan tiap haul Gus Dur, aku selalu me’romli’ (rombongan liar) di ndalem Ciganjur bersama romli-romli panitia yang lain. Tak berharap lain selain sedikit kecipratan berkah dari Gus Dur, Bapak Bangsa yang mencintai dan membela siapa saja. Maka mendapat buku dari Ibu Ketua Panitia adalah berkah lain yang luar biasa.

Buku ini aku bawa ke Birmingham, menemani langkahku hari demi hari. Dari kuliah ke kuliah, dari catatan ke catatan. Menariknya, ketika semester pertama aku mengambil kelas “Islamic studies”, nama Gus Dur tak ketinggalan disebut oleh dosenku yang kerja-kerja intelektualnya beririsan dengan intra-Muslim studies, kebetulan juga lulusan Oxford. Gus Dur bukan sekadar tokoh nasional, atau tokoh NU semata, jejak pemikiran dan perjuangan Gus Dur melampaui sekat ke-Indonesia-an atau ke-NU-an.

Tak pelak, di satu diskusi bersama kawan-kawanku sebangku kuliah kemarin, seorang teman berkata “We need more Gus Dur in the West, and in the East, we need people like Gus Dur who can unpack the tension, and bring the ‘peaceful’ Islam amid all the misconceptions between Muslim extreme ideologist and Islamophobic narrative”. Kira-kira: “Kita butuh lebih banyak Gus Dur di Barat dan di Timur, kita butuh orang seperti Gus Dur yang bisa membongkar ketegangan, membawa Islam damai di tengah semua kesalahpahaman antara ideologi Muslim ekstrim dengan narasi-narasi Islamofobia.

Tak bisa aku tak sepakat dengannya. Rumitnya ketegangan antara insider Islam yang terus memproduksi narasi Islam yang penuh kekerasan, dan outsider yang terus memproduksi stereotip atas Islam, tak bisa diurai jika Muslim tak serius berbicara lebih lantang tentang “Islam yang memanusiakan” seperti yang Gus Dur selalu bilang dan ajarkan. Beberapa kali aku merasakan bagaimana orang-orang di luar Islam melihat dan mencibir Islam dengan jargon “Peaceful Islam” dengan nada satir. Tetapi bagiku itulah kritik besar yang harus terus memicu komunitas Muslim untuk menunjukkan sisi kedamaiannya secara total, bukan sekadar pemanis lisan.

Gus Dur sudah mencontohkannya secara sungguh-sungguh, bagaimana menjadi Muslim yang ‘taat’ dan ‘salih’. Ketaatan dan kesalihan seorang Muslim ala Gus Dur adalah kesalihan yang memancar dalam wujud semangat menyuarakan keadilan dan berpihak kepada kelompok rentan. Kesalihan akan Allah Yang Maha Adil tak mungkin hadir dalam laku-laku yang tidak adil. Ketaatan akan Allah Yang Maha Rahman tak mungkin hadir dalam laku-laku yang penuh kebencian. Karenanya, kepada Gus Dur, sebagai Muslim kita berhutang banyak sebab darinya kita tahu bahwa ada yang “keliru” dengan keislaman kita jika ia dipraktikkan dalam semangat membenci kelompok yang berbeda.

Gus Dur bagai pewarta kedamaian yang legacy nya tercetak di mana-mana, di meja-meja akademis, di surau-surau kampung, dan di hati siapa saja yang pernah disentuh dan tersentuh oleh nilai-nilai kemanusiaan yang diperjuangkannya.

Semoga kita selalu membuka lapang hati kita untuk belajar tentang keimanan yang lebih adil untuk semua orang. Keimanan yang menjadikan kita orang-orang ‘salih’ di hadapan Dia Yang Di Langit dan sesama makhluk yang ada di bumi.

Untuk Gus Dur, lahul fatihah.