Diutus Gus Dur Mencari wali

0
1424
Khazanah Pemikiran Islam Nusantara ala Gus Dur
Kredit Foto: NU Online

Oleh: Dr H Ahmad Fahrur Rozi (Khadim Pondok Pesantren Annur 1 Annursatu Bululawang Malang, Wakil Ketua PWNU Jatim)

Suatu sore di awal April Tahun 2003, saya di datangi Kyai Haji Mas Soebadar, salah satu Kyai Khos Forum Langitan dari Pasuruan di rumah saya sepulang pengajian di daerah Turen Malang.

Beliau dawuh diminta Gus Dur untuk mencari wali atau tabib ampuh dalam rangka ihtiyar agar ditakdir bisa melihat lagi sebagai salah satu syarat ikut Pilpres 2004.

Saya ditanyai beliau: “Wonten pundi Gus enten wali sak niki?” (dimana ada wali zaman ini?)

Saya jawab: “Wali yg bagaimana, Kyai?” Beliau:”Niku loh wali yang seperti alm. Habib Soleh Tanggul Jember.

Ketika ada orang lumpuh datang minta doa lalu ditepuk oleh beliau dan spontan bisa berdiri.”

Saya bingung dan setengah bercanda menjawab:”Mungkin wonten ten negara Maghrib (Maroko), Kyai.”

Selang waktu bbrp hari kemudian Kyai Subadar telpon saya: “Monggo Gus bidal ten Maghrib.

Niki sampun diparingi arta kalian Gus Dur.” Saya kaget bukan kepalang.

Saya segera sowan konsultasi kepada Kyai Maftuh Said, Pengasuh Ponpes Almunawwariyah Malang yg sudah pernah pergi ke Maroko. Beliau mengarahkan agar sowan kepada Sayyid Idris Alhasani , ulama sepuh yang termasyhur di kota Fez Maroko saat itu dan kebetulan kyai Maftuh ada rencana pergi kesana minggu depannya. Kita bersepakat berangkat barsama-sama karena memang negara Maroko bebas visa sehingga tidak butuh persiapan administrasi.

Saya segera telpon ngaturi Kyai Idris Lirboyo. Beliau menyambut antusias dan segera kita bersiap berangkat pada tanggal 17 April 2003 ke Maroko untuk sowan Sayyid Idris di kota Fez dan dilanjutkan sowan ke makam Syekh Muhammad Ibn Sulaiman Aljazuli, sohib kitab Dalail Khairat di Kota Marakesh.

Setiba di Casablanca Maroko setelah melalui transit di Dubai, kita segera menuju kota Fez untuk sowan kepada Sayyid Idris, muqoddam thoriqoh Tijani yang sudah sangat sepuh dan masih menyimpan rambut Rasulullah SAW secara turun temurun.

Kyai Subadar segera menyampaikan maksud dan tujuan kita dari Indonesia dan beliau berkenan menyuruh kita kembali esok harinya. Esoknya, setelah ziarah ke makam Syeikh Ahmad Tijani, kita sowan kerumah Sayyid Idris. Beliau memberikan semacam azimat untuk ditaruh di bawah bantal Gus Dur dan bbrp ijazah yang saya lupa mencatatnya.

Perjalanan kita dilanjutkan ke kota Marakesh yang indah, dimana terdapat makam tujuh wali yang masyhur dan diziarahi banyak orang. Di antaranya adalah makam Qodli Iyadl pengarang kitab Assyifa dan Imam Sulaiman Aljazuli, penyusun shalawat dalail khairat yang sangat terkenal di dunia. Di sana alhamdulillah saya sempat bertabarruk ijazah sanad dalail di depan makam beliau dari Mbah Idris sambil dilanjutkan bersama membacanya.

Perjalanan ke Maroko ini begitu mendadak sehingga Mbah Idris belum sempat menukar uang rupiah. Beliau membawa satu tas uang rupiah tunai yang ketika itu saya hitung sejumlah sekitar 80 juta rupiah.

Selama di Maroko saya setiap hari membawakan tas berisi uang tersebut dan mencari money changer yang mau menerima tapi tidak berhasil menemukan satupun money changer yg mau menerima uang rupiah di berbagai kota disana hingga kita pulang. Saking capeknya saya sempat bercanda: “Waduh kyai, ternyata masih di dunia dan belum di akhirat, uang memang sudah tidak laku.”