Rahmah

0
1059
Iklan

Oleh: KH. Yahya Cholil Staquf (Ketua Umum PBNU)

Masalah keadilan itu bukan hanya soal hak untuk menuntut, tapi juga kesediaan untuk memberi. Sekuat apa pun tuntutan keadilan, bila tak ada yang bersedia memberi, keadilan tidak akan menjadi kenyataan.

Maka Rahmah adalah koentji.

Rahmah adalah sikap mengasihi dengan kehendak untuk memberi. Untuk berbagi. Untuk mengambil tanggung jawab atas kepedihan pihak lain.

Tuntutan akan keadilan yang terbit dari selain Rahmah hanyalah raungan amarah dan ungkapan nafsu balas dendam.

Tanpa Rahmah, mana mungkin ada kemauan untuk memberikan kesentosaan kepada selain diri sendiri?

Rahmah bukan soal perasaan. Bukan soal kepentingan. Bahkan bukan soal alasan apa pun yang masuk akal pada saat engkau memikirkannya. Rahmah adalah pilihan, kalau kita mau memilihnya. Bisa saja engkau dalam keadaan marah, sedih, nestapa, tapi kau tetap memilih Rahmah. Seperti Kanjeng Nabi Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam menyikapi kelakuan orang-orang Thaif. Seperti Gus Dur terhadap mereka yang melengserkannya. Seperti sikapmu saat anak bayimu mengencingimu.

Bisa saja engkau sedang menggenggam kekuasaan di tanganmu dan mampu berbuat apa pun sekehendakmu, tapi kau tetap memilih Rahmah. Seperti Sayyidina Umar Ibnul Khatthab Radliyallaahu ‘anhu terhadap kaum ahli kitab di Yerussalem. Seperti Fir’aun mengadopsi Musa. Seperti Premkant Baghel di India menyabung nyawa untuk menyelamatkan tetangga-tetangga Muslimnya saat rumah mereka dibakar oleh massa Hindhu yang seagama dengannya. Seperti engkau merelakan cuilan tempe untuk anakmu dan puas dengan hanya menutul garam untuk nasimu sendiri.

Tulisan ini pertama kali terbit di dinding facebook KH. Yahya Cholil Staquf