Gus Ulil: Bedakan Praksis Pengetahuan Sarjana Modern dan Tradisional

1
1049
Suasana Diskusi Nahdlatu Turots. sumber: Abdullah Faiz
Iklan

Lampung, nujateng.com – Diskusi Nahdlatu Turots, dengan tema “Membumikan Turost Ulama Nusantara Meneguhkan Jati Diri Bangsa” dilaksanakan di ruang seminar UIN Raden Intan Lampung, Rabu, (22/12/2021).

Pengasuh Ngaji Ihya’ Virtual, Ulil Abshar Abdalla menjelaskan perbedaan sarjana muslim yang mempelajari Islamic Studies dengan pola pengetahuan tradisional dan pola pengetahuan modern.

Menurut Ulil, berbicara soal turost harus melewati diskusi-diskusi yang panjang dan mendalam. Terutama dalam mendefinisikan turost, sebab berawal dari definisi dapat merumuskan masa depan khazanah keislaman.

Ulil mendefinisikan turost bukan hanya tulisan yang dibukukan saja, melainkan sampai pada level kredibelitas penulis dan kondisi pada waktu ditulisnya. Ia mengatakan tulisan yang dapat dianggap sebagai turost adalah kumpulan karya yang ditulis oleh ulama berpendidikan tradisional.

“Turost itu bukan turast sembarang turast yang hanya ditulis. Tapi turost yang ditulisakan dan diproduksi oleh para ulama-ulama yang menjalani pendidikan tradisional,” ujar Ulil.

Semantara pendidikan tradisional yang ia maksud adalah pendidikan yang menganggap pengetahuan bukan sebagai final destination (bukan tujuan akhir) melainkan sebagai sarana untuk menuju Allah swt yang menjadi inti tujuan.

Definisi di atas berangkat dari komentar Ulil Abshar dengan pola pengetahuan sarjana muslim modern. Menurutnya arah Nahdlatul Turost harus tetap pada tradisi keilmuan tradisional (pesantren).

“Pendidikan tradisional ini tidak hanya mengkaji di level data ,ini yang membedakan dengan pengkajian para sarjana modern, mereka menjadikan data sebagai kebenaran objektif sementara tradisional tidak, melainkan mempertimbangkan nilai-nilai ilahiyah. Artinya setiap objek pengetahuan itu adalah jalan untuk menuju tujuan akhir yaitu allah swt, ” jelas ulama asal Pati itu.

Ia menambahkan ulama-ulama kita (nahdliyin) tentunya menjadikan mengkaji dan menulis sebagai media untuk tujuan kebenaran yang diimani.

“Oleh karena itu pengetahuan dalam tradisi tradisional dikaji untuk menuju kebenaran Allah swt, ” imbuh menantu Gus Mus tersebut.

Selain itu Ulil juga menjelaskan perbedaan ini berangkat dari praktik pengajaran yang dimiliki. Misalnya pengetahuan modern menjadikan data sebagai kebenaran yang netral yang tidak dapat diimani, sementara tradisional berlanjut pada nilai ilahiyah yang dapat mengantarkan pada inti tujuan.

“Praksis pengetahuan modern, menjadikan objek menjadi tujuan data kebenaran objektif. Ini yang membedakan orang yang studi Islam didalam praksis tradisional dengan orang yang studi Islam dengan praksis modern.

Dalam praksis modern, Islam dikaji sebagai data, data ilmiah bukan data yang di imani nah dalam kajian ini semua orang yang beragama apapun bisa mengkaji Islam,” pungkasnya.[Rep. Abdullah Faiz/ed. Sidik]