Pelajaran dari Muktamar 34 Lampung

1
2059
Pelajaran dari Muktamar NU
Ilustrasi Tema dan logo muktamar 34 NU. sumber: nu.or.id
Iklan

Oleh : KH. Ahmad Ruhiyat Hasby (Ketua PC NU Karawang)

nujateng.com – Sebagai salah seorang peserta resmi yang memiliki hak suara pada Muktamar NU ke 34 di Lampung beberapa hari lalu. Tentu saya merasa sangat bersyukur dan berbangga hati bisa hadir pada ” hari raya” nya kaum Nahdliyyin ini. Saya bisa bertemu banyak sekali tokoh NU yang selama ini baru menyaksikan di layar tv atau pun media sosial.

Ada beberapa hal yang menjadi catatan pribadi saya, yang menjadi pelajaran berharga bagi saya untuk saya amalkan sebagai salah satu aktivis NU di tingkat cabang.

Pertama, pada Muktamar kali ini saya mendapat inspirasi dari ketidakhadiran salah seorang Mustasyar PBNU, Almukarom KH Mustofa Bisri(Gus Mus). Beruntung saya bisa bertemu dengan salah satu menantunya Almukarrom KH Ulil Abshar Abdalla beberapa jam sebelum sidang Pleno pemilihan Ketum dimulai. Gus Ulil menjelaskan mengapa Gus Mus tidak hadir langsung tetapi memantau “bil gaib” (meminjam bahasa nya Gus Ulil), karena Gus Mus sangat menghargai dan menyayangi kedua kandidat yang bersaing pada muktamar ini.

Beliau menyayangi Gus Yahya, itu hal yang pasti, karena Gus Yahya adalah keponakannya, putra dari Almagfurlah KH Kholil Bisri kakak kandungnya. Tapi Gus Mus juga menyayangi Kyai Sa’id, karena ayahnya Kyai Sa’id, Almagfurlah KH Aqil Siradj, adalah murid dari Almagfurlah KH Kholil Harun , kakek Gus Mus. Dan untuk menghormati keduanya Gus Mus memilih untuk tidak hadir.

Lebih dari itu, lanjut Gus Ulil, Gus Mus tidak hadir karena beliau tidak mau menduduki jabatan Rois Am, karena jika beliau hadir, dipastikan AHWA akan memilihnya kembali menjadi Rois Am seperti pada Muktamar Jombang. Masya Alloh, sungguh pelajaran yang luar biasa dari Sang Bapak Bangsa, hafadzahullahu ta’ala.

Kedua , pada proses pemilihan Rois Am, tim AHWA bersidang begitu lama dan tidak terburu-buru dalam memilih orang pertama di PBNU ini. Seperti yang dilaporkan oleh KH Zainal Abidin, salah satu anggota AHWA, yang didaulat untuk menjadi jubirnya, mereka menunjuk Kyai yang urutannya nomor awal pada perolehan suara usulan dari seluruh Rois Syuriah PWNU dan PCNU .

KH Dimyati Rais menolak, lalu KH Mustofa Bisri (yang dihubungi via telepon) juga menolak, KH Miftahul Akhyar menolak, semuanya menolak dan tidak bersedia menjadi Rois Am PBNU. Akhirnya semua sepakat untuk menentukan Rois Am dengan menyerahkan sepenuhnya kepada tim AHWA yang paling sepuh yaitu KH Ma’ruf Amin (wapres RI), siapa saja yang ditunjuk oleh beliau, maka Kyai itu harus sami’na wa atho’na, dan wajib bersedia tidak boleh menolaknya.

Setelah melakukan ritual khusus KH Ma’ruf Amin akhirnya menunjuk Almukarrom KH Miftahul Akhyar sebagai Rois Am PBNU 2021-2026. Ini juga pelajaran yang sangat berharga dari para Kyai kita, mereka menentukan pilihan melalui jalur musyawarah dan tidak ada seorangpun dari mereka yang minta jabatan Rois Am..

Ketiga, saya semula berburuk sangka kepada Buya Sa’id, pada putaran pertama dalam penjaringan bakal calon Buya Sa’id tertinggal jauh oleh Gus Yahya, walaupun beliau mendapat suara 207 melebihi batas 99. Menurut ketentuan tatib yang telah disepakati pada sidang sebelumnya, pemilik suara 99, bisa maju sebagai kandidat dan berhak maju pada putaran kedua. Waktu itu kami berharap agar Buya Sa’id legowo dan mundur saja supaya proses pemilihan cepat selesai, karena sudah jam 7 pagi lebih.

Tetapi Buya tetap maju, dan memilih untuk bertarung head to head dengan Gus Yahya. Kekecewaan hati kami akhirnya terjawab setelah ketua sidang menetapkan Gus Yahya sebagai pemenang. Kami lihat dengan jelas , Buya Sa’id tidak memperlihatkan sedikitpun wajah kekecewaan, beliau sangat tegar, sumringah dan tetap tersenyum dan menyambut kemenangan Gus Yahya dengan lapang dada dan wajah bahagia.

Beliau ingin memberikan pelajaran kepada kita, meski sesulit apapun perjuangan untuk menegakkan demokrasi harus tetap dilakukan, dan tidak boleh pantang mundur. Adapun kalah atau menang urusan kemudian. Terimakasih Buya, berkat sikap pan jenengan yang elegan, media massa di seluruh dunia memberikan apresiasi terhadap NU, dengan memberikan judul besar : NU MENGAJARKAN DEMOKRASI DENGAN INDAH

Keempat , meskipun bersaing dengan ketat , tetapi para Kyai NU tetap tidak melupakan adab dan akhlak. Gus Yahya mencium tangan Buya Sa’id, dan berkata dengan lantang, bahwa Buya Sa’id adalah gurunya. Sementara Buya Sa’id juga merasa bahagia dan bangga bahwa yang menjadi penggantinya adalah Gus Yahya yang dinilainya sangat pas.

والله يهدينا إلى سبيل الحق

(Kang Uyan)
butiran debu bendera NU Karawang

Tulisan ini pertama kali terbit di dinding facebook Kang Uyan