Memotret Syair Muktamar NU Ke-34 Lampung Karya KH. Afifuddin Muhajir dari Sisi Sejarah

0
857
Memotret Syair Muktamar NU Ke-34 Lampung Karya KH. Afifuddin Muhajir dari Sisi Sejarah
Sumber foto: pixabay.com
Iklan

Oleh: Rusda Khoiruz Zaman (Alumnus PP. Mamba’us Sholihin, Gresik)

nujateng.com – Beberapa waktu lalu, Rais Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH. Afifuddin Muhajir menggubah syair berbahasa Arab yang dipersembahkan untuk menyambut datangnya Muktamar Ke-34 NU yang rencananya dihelat pada 22-25 Desember 2021 di Lampung. Apa yang beliau syairkan ini memantik banyak pujian sebab keindahan strukturnya. Terdiri atas 20 larik, dan 92 kata. Syair ini juga mempunyai struktur yang lengkap, mulai pembuka, isi dan penutup.  

Pembukaan syair KH. Afifuddin Muhajir diawali dengan pujian kehadirat Allah dan shalawat Nabi. Sementara di bagian isinya, memuat pengakuan atas anugerah Allah buat masyarakat Indonesia yang sebagian besar beragama Islam. Pada bagian ini juga memuat harapan agar indeks kebahagiaan masyarakat Indonesia meningkat dan mereka diberikan keberkahan.

Kiai Afif dalam bagian isi syairnya ini juga berharap supaya orang Indonesia menjadi kuat serta bangkit berkat kontribusi orang-orang Nahdliyin. Disebutkan juga di bagian ini maqom NU sebagai jalan bagi umat Islam untuk mencapai ridha Allah SWT, yang sekaligus sebagai organisasi yang didirikan oleh para ulama, ahli fiqih, dan ahli makrifat/para wali. KH. Hasyim Asyari dalam bagian ini juga disebut Kiai Afif sebagai guru pendahulu. Di bagian pamungkas, Kiai Afif tak luput mendoakan mereka yang berkhidmah dengan ikhlas demi NU, Kiai Afif berdoa kepada Allah dalam syairnya agar Dia menguatkan persatuan masyarakat di bawah pemimpin yang berintegritas (Kurniawan, 2021).

Potret sejarah syi’r atau puisi di Jazirah Arab

Kalau kita tarik ke belakang, sejarah per-syair-an setidaknya telah dimulai sejak sebelum datangnya Islam di Jazirah Arab. Salah sekian keistimewaaan bangsa Arab yang tidak dapat dinafikan ialah perhatian mereka yang besar terhadap karya sastra. Hal ini sejalan dengan bangsa Arab yang memiliki perasaan yang halus dan kepekaan dalam menilai sesuatu. Kelebihan dan kemajuan dalam bidang bahasa bangsa Arab tidak bisa lepas dari dua faktor tersebut. Perasaan halus serta daya khayal (imajinasi) yang mereka miliki mampu menghasilkan keindahan bahasa.

Dalam catatan Hanna al-Fakhuri, seorang kritukus dan sastrawati dari Libanon, sastra Arab pra-Islam atau Jahiliah sudah dimulai sejak akhir abad ke-5 dan sampai pada puncaknya pada paruh pertama abad ke-6 (Isya, 2017).  

Saat itu, syi’r atau puisi menjadi sastra primadona. Seperti halnya syair indah yang dibuat Kiai Afifudin, genre sastra Arab pra-Islam yang paling popular pada masa itu adalah jenis syi’r (puisi) di samping amtsal (semacam pepatah atau kata-kata mutiara), serta pidato pendek yang biasanya disampaikan oleh para pujangga yang disebut juga sebagai prosa.

Dalam kesusastraan Arab pra-Islam, ada perbedaan mendasar antara jenis puisi dan jenis prosa. Agak berbeda dengan jenis sastra puisi, sastra dalam bentuk prosa tercatat belakangan dalam sejarah. Hal ini karena prosa cenderung membutuhkan kepandaian menulis atau tadwin (pengumpulan). Sementara keterampilan menulis dikuasi oleh bangsa Arab pasca datangnya Islam. Sastra puisi pada waktu itu cukup dicatat dalam ingatan para ruwat (pencerita) tanpa perlu mencatatnya.

Yang menarik, syi’r atau puisi pada waktu itu setara dengan bahasa wujdan (emosi) serta imajinasi yang bersifat personal. Sedangkan prosa cenderung menggambarkan bahasa intelek, dan lebih condong terhadap hal-hal yang sifatnya kolektif. Artinya, syi’r atau puisi lebih berdimensi psikologis dan prosa lebih bersifat sosiologis (Haeruddin, 2016: 37).

Sudah diketahui bersama bahwa para ruwat (pencerita) pada zaman itu adalah para penghafal puisi dan silsilah para tokoh kabilah Arab. Dari suku Quraisy pada masa pra-Islam, tercatat nama-nama besar para pencerita yang dianggap ingatannya sangat kuat seperti Mukhrimah bin Naufal dan Khuwaitib bin Abdul Uzza.

Dari banyaknya sastra puisi pra-Islam itu, menurut pandangan sejarawan Arab lama, hanya sedikit yang dapat direkam sejarah. Karya sastra tidak tertulis ini, yang hilang lebih banyak daripada yang tertulis. Sebagian karya sastra puisi ini tidak sempat dikenal kemudian dihafal. Bersamaan dengan yang telah dihafal oleh sastrwan lain, karya sastra ini hilang saat meninggalnya mereka.

Bangsa Arab pada saat itu memang belum mengenal ilmu pengetahuan secara sempurna. Oleh karenanya mayoritas dari mereka lebih menyukai sastra puisi daripada prosa, karena puisi lebih mudah dihafal. Apalagi mereka juga tidak mengenal baca dan tulis. Ditinjau dari segi gaya, puisi Arab pra-Islam sangat mementingkan ritme, rima, musik atau lagu serta ajak (dikenal dengan nama (qafiyah).Sementara itu ilmu perbintangan menjadi ilmu yang umum diketahui oleh bangsa Arab sebab kegunaannya sebagai pedoman dalam perjalanan untuk menentukan arah. Berbagai ilmu yang mereka kuasai pada dasarnya bersumber dari kehidupan sehari-hari dan bukan dari kitab.

Peran pasar seni: penentu laju perkembangan dan budaya Arab pra-Islam

Dalam rentang periodik tertentu, masyarakat Arab pra-Islam kerap menggelar festival sastra. Ada yang dilaksanakan mingguan, bulanan bahkan tahun. Tak hanya mengadakan festival, masyarakat Arab pra-Islam juga membuat apa yang sekarang disebut sebagai pasar seni. Diantara pasar seni paling terkemuka yang barangkali pernah kita dengar hari ini dari buku sejarah ialah pada ‘Ukadz. Terletak di timur Makkah, antara Nakhlah dan Tha’if. Lumrahnya, festival diadakan sejak bulan Dzulqadah selama 20 hari di sana.

Di pasar-pasar seni tersebut, para pujangga saling berlomba unjuk kemampuan dalam bersastra serta disaksikan dewan juri yang terdiri dari sejumlah pujangga yang mempunyai reputasi. Karya-karya sastra puisi yang memenangi festival bakal ditulis dengan tinta emas di atas kain yang merah lalu akan digantungkan di dinding Ka’bah, yang kemudian dikenal dengan istilah al-mu’allaqat (puisi-puisi yang digantungkan pada dinding Ka’bah).

Al-mu’allaqat umumnya berbentuk qasidah (ode) panjang dengan tema yang bermacam-macam. Umumnya tema-tema puisi tersebut tidak lepas dari konteks sosial, cara dan gaya hidup orang-orang Arab pra-Islam. Pada zaman Arab pra-Islam, menggantungkan sesuatu di dinding Ka’bah bukanlah hal yang aneh. Justru setiap kali ada persoalan urgen, pasti akan ada catatan yang digantungkan di dinding Ka’bah (Haeruddin, 2016: 43).

Fungsi pasar-pasar seni tersebut secara praksis sangat menentukan laju perkembagan sastra dan budaya Arab pra-Islam. Yang hadir di pasar seni tersebut bukan cuman para penyair saja, melainkan juga kelas menengah. Sehingga kecintaan masyarakat Arab pra-Islam terhadap syi’r atau puisi telah menjadi naluri alamiah yang mendarah daging.  

Di mata orang Arab pra-Islam, kedudukan penyair begitu tinggi. Mereka terhormat sebab sebuah karya sastra puisi bisa mempengaruhi bahkan mengubah sikap atau posisi seseorang atau kelompok orang terhadap sikap atau posisi orang dan kelompok lainnya. Dari sini kita bisa mengatakan bahwa penyair juga berfungsi sebagai agen perubahan sosial kebudayaan. Hanya para politisi tingkat tinggi yang dapat mengimbangi pengaruh para penyair. Sementara kekuatan penyair bersumber dari kualitas isi karyanya.

Daftar Referensi

Haeruddin. (2016). Karakteristik Sastra Arab pada Masa Pra – Islam. Nady Al-Adab, 12(1), 35–50.

Isya, M. (2017). Teori Sosiologi Sastra Terry Eagleton dan Aplikasinya pada Penelitian Novel Arab. Diwan : Jurnal Bahasa Dan Sastra Arab. https://doi.org/10.15548/diwan.v9i2.144

Kurniawan, A. (2021). Sambut Muktamar Ke-34 NU, KH. Afifuddin Muhajir Tulis Syair Berbahasa Arab. https://nu.or.id/nasional/sambut-muktamar-ke-34-nu-kh-afifuddin-muhajir-tulis-syair-berbahasa-arab-q0nKu