Memimpin Sidang dengan Sabar: Catatan Muktamar NU ke-34

0
1177
Pelajaran dari Muktamar NU
Ilustrasi Tema dan logo muktamar 34 NU. sumber: nu.or.id
Iklan

Oleh: Alamsyah Djafar (Peneliti Wahid Foundation)

nujateng.com Ketika melewati Mbak Alissa yang duduk di kursi dekat tangga menuju ruang balkon, Pak Muhammad Nuh berhenti. Keduanya bertegur sapa. Di depan, dekat meja pimpinan sidang Muktamar NU ke-34, puluhan peserta berkerumun mencatat atau mengambil gambar hasil perhitungan pemilihan anggota Ahlu al-Halli Wa al-Aqdhi, disingkat Ahwa.

Ahwa adalah lembaga legislatif yang akan menunjuk Rais Am, jabatan puncak dan paling berpengaruh dalam struktur Pengurus Besar Nahdlatul Ulama. Meski Ketua Umum Tanfidziyah sering dinilai lebih populer dan berwenang,orang luar mungkin sering tak paham bahwa Rais Am yang justru tertinggi.

“Sila mencicipi buah, Pak Nuh” kata Mbak Alissa sembari menunjuk tumpukan buah di atas piring putih ditiban plastik yang terbuka separuh. “Perut sudah begini, masa makan lagi,” Seloroh mantan Menteri Pendidikan yang hari itu juga memimpin sidang Muktamar. Tangannya memegang perutnya yang tampak menonjol dari baju batik warna gelap.

Lama juga Pak Nuh tak beranjak dari tempat itu. Ia bicara tentang sidang pleno yang sempat panas membahas tata tertib sidang. Dari seorang teman panitia, saya tahu beberapa peserta sidang beradu bahu. Salah seorang dari mereka sempat mengambil pengeras suara.

“Pak Nuh ini sabar sekali mendengar para peserta sidang seperti itu,” kata Mbak Alissa. “Prinsip Muktamar kan musyawarah. Semua perlu didengar. Jadi ya perlu agak sabar. Kalau palu sudah saya ketuk, itu artinya kepala saya sudah mulai panas,” katanya sambil terkekeh-kekeh.

Pria asal Jawa Timur itu bercerita, salah satu trik yang digunakan agar peserta “jinak” adalah ketika menampilkan gambar berita media yang menyebut Muktamar sempat ricuh. “Setelah itu, suasana lebih adem,” terangnya. Sebetulnya, katanya, suasana Muktamar sekarang jauh lebih tenang ketimbang Muktamar Jombang. Suasana yang sempat tegang kemarin, katanya, anggaplah dinamika. “Tapi umumnya semua lancar, ” Katanya dengan wajah ceria.

Obrolan itu berakhir setelah pengumuman panitia, orang-orang dalam ruangan diminta meninggalkan ruangan karena Paspampres akan menjalankan tugas mengawal kedatangan Wakil Presiden.


Tulisan ini pertama kali diunggah di dinding facebook Alamsyah M Djafar