Memaknai Turast dari sisi Manuskrip dan Doktrinisasi

1
1047
Suasana Diskusi Nahdlatu Turots. sumber: Abdullah Faiz
Iklan

Lampung, nujateng.com – Dalam serangkaian acara Muktamar ke 34 di Lampung, komunitas pegiat manuskrip karya ulama nusantara mengadakan seminar turost dengan tema Membumikan Turast Ulama Nusantara Meneguhkan Jati Diri Bangsa. Acara ini dilaksanakan di Gedung Rektorat UIN Raden Intan Lampung Rabu, (22/12/2021).

Ulil Abshar Abdalla menjadi salah satu narasumber dalam seminar tersebut. Ia mengatakan kajian turost harus terus berkembang mengimbangi pemikiran Islam modern.

“Diskusi mengenai turost itu sangat penting karena perkembangan pemikiran arab modern atau pemikiran Islam modern,” kata pengampu Ngaji Ihya’ virtual tersebut.

Ia juga merumuskan mata kajian turost menjadi dua hal pertama adalah Turost Materialis (turost lahu wujudun fil khorij) atau sebuah kumpulan tulisan yang bentuk fisiknya masih terjaga. Kedua adalah Turost Non Materialis (turost lahu maknawiyatun fi dihni) artinya turost yang sudah menjadi jalan pemikiran di dalam diri kita.

“Saya mendefinisikan turost dengan dua hal. Pertama mendefinisikan turos dengan material yaitu turost yang ada bentuk fisiknya. Kedua turos sebagai sesuatu yang tidak material, ” terangnya.

Dalam penyampaiannya, turost pertama adalah bentuk khazanah yang menjadi warisan fisik dan dikaji disetiap pondok pesantren. Sementara yang kedua adalah madzhab pemikiran yang tertanam dalam benak dan pikiran warga nahdliyin.

“Turost yang material adalah wujud naskah naskah manuskrip , kedua turos sebagai warisan pemikiran yang ada dalam diri kita. Warga Nahdliyin punya turos yang sudah menjadi pemikiran dalam dirinya,” imbuh kiai asal Pati itu.

Turos yang non material atau yang punya makna didalam pemikiran kita. Ulil memberikan pandangan bahwa amaliyah warga nahdliyin sangat kental dengan pemikiran Imam Ghozali, Imam Syafi’i dan lainya. Pengaruh ini termasuk cara kerja turost yang kedua.

“Misalnya pandangan Imam Ghozali yang dikenal kan kepada kita sekitar ribuan tahun yang lalu. Bukan kitabnya tapi pemikirannya. Turos dalam pengertian kedua ini adalah turos yang tidak hanya ada dalam lemari saja melainkan dalam pikiran, ” jelasnya.

Turos ini yang menghidupi kita (Nahdliyin) sekarang. Pemikiran Imam Ghazali, Imam Syafi’i dan seterusnya masuk dalam turos kedua ini. Dia aktif terus mempengaruhi kehidupan sosial masyarakat Nahdliyin. Sebelum penutup Ulil juga menyarankan untuk memegang kedua definisi tersebut.

“Nah saran saya bagi teman-teman yang akan membuat lembaga Nahdlatul Turos ini harus berdiri dari due definisi ini, turos yang ada dalam material dan trus yang membekas dalam maknawi (non material),” usulnya kepada pegiat turost.[Rep. Abdullah Faiz/ed. Sidik]