Mbah Mun dan Gus Dur Menulis Kiai

0
2411
Iklan

Oleh: Zaim Ahya (Founder takselesai.com)

nujateng.com Selain sama-sama kiai dan politisi, Mbah Mun dan Gus juga seorang penulis. Lebih spesifik, keduanya juga menulis tentang kiai. Bedanya, Gus Dur menulis dengan bahasa Indonesia, sedangkan Mbah Mun menulis dengan bahasa bahasa Arab.

Karya Mbah Mun tentang para kiai berjudul Tarajim yang fokus membahas biografi kiai-kiai Sarang kuno. Sedangkan buku Gus Dur tentang kiai berjudul Kiai Nyentrik Pembela Pemerintah, yang dulunya merupukan kolom-kolomnya di media seperti Kompas dan Tempo.

Baik karya Mbah Mun maupun Gus Dur terus dibaca sampai sekarang. Namun menurut yang saya amati, karya Gus Dur ini, kendati banyak berbicara tentang pesantren, kiai dan NU, kurang tersentuh oleh masyarakat pesantren. Hanya santri-santri yang suka menambah bacaan di luar yang diajarkan di pesantren yang membacanya.

Yang demikian itu berbeda dengan karya Mbah Mun yang oleh beberapa kiai atau guru pesantren dibacakan secara bandungan, kata perkata dan diberi makna utawi iku. Saya masih ingat ketika masih mondok di Amtsilati Jepara, oleh guru saya yang alumni Sarang, kitab Mbah Mun yang berjudul Ulama al-Mujaddidun dibacakan. Pada waktu itu, saya belum terakses dengan tulisan-tulisan Gus Dur.

Kenapa demikian? Menurut saya ini lantaran buku-buku kumpulan tulisan Gus Dur ini berbahasa Indonesia. Sehingga, walaupun sebenarnya mungkin, kurang serasi dengan model pengajaran di pesantren yang notabenenya menggunakan kitab bahasa Arab dan diberi makna Arab pegon: utawi iku. Padahal, sebagaimana saya katakan, banyak tulisan Gus Dur yang berhubungan dengan pesantren.

Saya membayangkan, jika suatu saat tulisan-tulisan Gus Dur telah diterjemah ke bahasa Arab, akan mungkin dibacakan di pesantren-pesantren dengan makna utawi iku, lalu dimusyawarahkan dengan kritis gagasan-gagasan Gus Dur itu.

Namun, kata teman saya ketika ngopi di kedai tak selesai kemarin, untuk menerjemah tulisan-tulisan Gus Dur ke bahasa Arab bukan hal yang mudah. Setidaknya penerjemah perlu punya dua kualifikasi: ahli bahasa dan pembaca ahli pemikiran Gus Dur.

Kendati demikian, itu bukan hal yang mustahil. Kita tunggu saya, saya kira akan ada. Bukankah begitu?