al-Tsimar al-Yani’ah, Syarah Kitab Riyadhul Badi’ah yang Ditulis Kiai Nawawi Banten atas Permintaan Saudara Kandungnya

0
1769
Iklan

Oleh: Zaim Ahya (Founder takselesai.com)

nujateng.com Tadi pagi, di bawah mendung langit pagi di kedai tak selesai, sambil menyruput kopi saya membaca pendahuluan kitab karya Kiai Nawawi Banten yang berjudul al-Tsimar al-Yani’ah ‘ala Alfadzil Riyadhil Badi’ah.

Beberapa muallif (penulis kitab) dalam pendahuluan kitab mereka menceritakan bahwa mereka menulis kitab lantaran ada permintaan dari masyarakat kepada penulis. Kitab Taqrib misalnya, penulisnya yakni Syaikh Abi Suja’ menyatakan di pendahuluan kitabnya bahwa sebagian kawan-kawan (ba’dhul asdiqo’) memintanya menulis kitab mukhtashor (ringkas) tentang fikih mazhab Imam Syafi’i. Dalam kitab Risalah al-Bajuri dalam ilmu Tauhid juga demikian. Kitab tersebut ditulis lantaran pemintaan sebagian beberapa saudata/kawan (ba’dhul ikhwan).

Kiai Nawawi Banten dalam pendahuluan kitabnya yang berjudul Mirqotu Su’ud al-Tasdiq, penjelas (syarah) kitab Sulam al-Taufiq, juga demikian.

“Saya diperintah oleh sebagian orang-orang mulia (ba’dhul a’izza’) untuk menulis penjelas (syarah) atas kitab Sulam al-Taufiq,” tulis Kiai Nawawi Banten.

Karena merujuk ke fakta-fakta di atas, tadi pagi ketika membaca pendahuluan kitab al-Tsimar al-Yani’ah saya tercengang. Kiai Nawawi Banten menyatakan bahwa kitab ini ditulis lantaran permintaan saudara kandungnya supaya para pemula (mubtadi’) terbantu.

“Saudara kandungku meminta syarah (atas kitab matan ini) kepadaku, untuk membantu santri pemula/iltamasahu minni akhi al-syaqiq li i’anatil mubtadi,” tulis Kiai Nawawi Banten.

Keterangan ini bagi saya menarik. Karena ini berarti Kiai Nawawi memiliki suadara kandung yang punya perhatian kepada kitab kuning. Saya kepikiran, mungkin saja saudar kandung Kiai Nawawi Banten juga juga seorang ulama linuwih, hanya saja tak diketahui publik, sebagaimana Imam Abu Hamid Muhammad al-Ghazali dan adiknya, Imam Ahmad al-Ghazali.

Saya pun penasaran siapa nama dari saudara kandung Kiai Nawawi Banten yang maksud. Namun di kitab tersebut Kiai Nawawi Banten tak menyebutkan nama dari saudaranya itu.

Sedikit cerita, kitab syarah ini merupakan penjelas (syarah) dari kitab matan Riyadhul Badi’ah karya Syaikh Muhammad Hasbullah bin Sulaiman, salah satu kitab fikih yang pupuler dikaji di pesanren, yang biasanya dipelajari sebelum kitab Fathul Qorib.

Materi kitab syarah karya Kiai Nawawi Banten ini mengikuti kitab matannya, yang secara umum bisa dibagi menjadi tiga: (1) Dasar-dasar agama atau akidah meliputi Rukun Islam, Rukun Iman, Sifat-sifat Allah dan lain sebagainya; (2) Cabang-cabang Syariah atau yang lebih populer dengan fikih ibadah seperti salat, puasa, dan haji ; (3) Sekilas tentang tasawuf seperti beramal hanya karena Allah dan berinteraksi yang baik dengan makhluk walaupun dengan hewan.

Selain tiga hal ini, ada satu bab yang secara khusus membahas tentang ziarah ke makam Nabi Muhammad SAW.

Demikian ulasan singkat ini.