3 Pesan Habib Luthfi untuk Santri, Salah Satunya Kirim Al Fatihah

1
6419
Habib Luthfi ketika bersilaturahmi ke rumah Abuya KH. M. Syukri Unus (Pengasuh MT. Sabilal Anwal Al-Mubarak, Martapura, Kalimantan Selatan)
Habib Luthfi ketika bersilaturahmi ke rumah Abuya KH. M. Syukri Unus (Pengasuh MT. Sabilal Anwal Al-Mubarak, Martapura, Kalimantan Selatan)
Iklan

nujateng.com Rais Am Jam’iyah Ahlith Thariqah Mu’tabarah An-Nahdliyiah (JATMAN) Habib Luthfi bin Yahya mengingatkan, jangan pernah tinggal muthalaah (mengkaji). Selain itu, seorang santri meskipun telah menjadi ulama terkenal tetaplah bersikap sebagaimana santri di depan guru-gurunya.

Berikut tiga pesan Habib Luthfi bin Yahya Pekalongan:

1. Gemarlah mengkaji kitab (Muthalaah)

“Ya, saya ingatkan agar kita jangan bosan muthalaah dan jangan bosan mengulang-ngulangnya walaupun kitabnya cuma sekali. Karena kalau rajin muthalaah dengan berkah mu’allif, insya Allah difutuh (dibuka) oleh Allah SWT,” tuturnya.

“Imam-imam kita itu karya-karyanya luar biasa, Imam Ibnu Hajar tiap malam baca salawat sebanyak 20 ribu, Imam Nawawi 40 ribu, dan Syaikh Abi Zakariya al-Anshari tiap malam baca shalawat sebanyak 30 ribu, sampai saat disebut nama Rasulullah hati mereka bergetar,” tuturnya.

2. Meraih khidmah ulama

Yang ke-2, jangan tinggal khidmah untuk guru walaupun cuma sedikit. Hal itu yang menjadikan terbukanya mafahim yang luar biasa. Yang terakhir, jangan tinggal kirim hadiah al fatihah untuk guru. Saya paling tidak suka jikalau ada santri sampai melupakan gurunya, karena kunci futuh itu ada di tangan guru, walaupun si santri lebih alim dari gurunya.

“Dulu selama di pondok, saya ikut mencangkul, matun (menyiangi padi), derep (memanen). Seluruh itu saya kerjakan atas perintah guru,” tutur Habib Luthfi.

3. Santri tawadhu di depan guru dan kirim al fatihah

“Selama di pondok, saya tidak pernah memosisikan diriku selaku seorang Sayyid (Habib). Saya senantiasa memosisikan diriku cuma selaku seorang santri. Walau pun sesungguhnya guruku (Kiai Muhammad Kaukab bin Muslim bin Sholeh) tahu nasabku.”

“Pendiri Pondok Pesantren Bendakerep ialah Kiai Sholeh, itu murid buyutku (Habib Umar bin Thoha bin Yahya Indramayu).Beliau shalat berjamaah Subuh dengan wudhu shalat Isya selaku makmum di belakang Habib Umar selama 25 tahun.”

“Jikalau mau mencari orang-orang yang alimnya melebihi Kiai Sholeh, banyak kita temui, tapi jikalau mau mencari orang yang pangkat kewalianya tinggi seperti beliau,”. (Redaksi)