Masa Pandemi, Mahasiswa Harus Tampil Dengan Paradigma Baru

0
3064

Sukoharjo, nujateng.com – Pertarungan mahasiswa baru tahun ajaran 2021/2022 UIN Raden Mas Said Surakarta sudah dimulai. Dengan memilih kampus ini bagaimanapun kesungguhan, kedisiplinan dan pandangan dunia baru yang dinamis harus dibuka. Dan menjadi mahasiswa Fakultas Ushuluddin dan Dakwah (FUD) harus benar-benar tampil dengan paradigma baru. Kalimat tersebut disampaikan Rektor UIN Raden Mas Said Surakarta, Prof. Dr. H. Mudofir, S.Ag., M.Pd dalam acara Stadium General Fakultas Ushuludin dan Dakwah dengan tema “Paradigma Kajian Islam Multidisipliner dalam Mitigasi Pandemi” yang menghadirkan, Prof. Dr. Ahmad Najib Burhani, MA dari Pusat Penelitian Masyarakat dan Budaya Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, sebagai pembicara utama. Acara digelar melalui virtual, Selasa (31 Agustus 2021).

Pada kesempatan tersebut, Prof. Mudofir menyampaikan bahwan Fakultas Ushuludin dan Dakwah ini adalah universitas yang sebenarnya, karena disitulah cornya. Karena untuk percakapan multidisipliner seperti pendekatan itu menjadi niscahya agar FUD didekati dengan paradigma pendekatan perspektif.

“Contohnya belajar Alquran dengan perspektif digital, kajian tasawuf dalam perspektif krisis lingkungan, mempelajari Hadis Ahkam atau hadis-hadis tertentu dalam perspektif moderasi beragama,” ujarnya.

Sementara itu, Dekan Fakultas Ushuludin dan Dakwah, Dr. Islah, M.Ag menyampaikan bahwa sekarang ini kita sering kali tidak memikirkan hal-hal yang terjadi dan hal-hal yang tidak terpikirkan juga terjadi. Dan kita merasakan hal-hal yang tidak kita sadar itu.

“Pandemi sudah merubah banyak hal dalam konteks sosial, agama, dan budaya. Kita saling menjaga jarak, budaya yang awalnya tidak pakai masker mejadi memakai masker dan juga dalam menjalankan kehidupan sehari-hari. Bagaimana ketika shalat jumat yang hanya 50%,” jelasnya kepada para peserta stadium general.

Dalam kesempatan ini, Plt Kepalada Pusat Penelitian Masyarakat dan Budaya Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Prof. Dr. Ahmad Najib Burhani, menyoroti beberapa hal yang terjadi pada masa pandemi ini. Misalnya dengan memandang situasi pandemi ini tidak bisa dalam satu sudut pandang ilmu pengetahuan saja. Tidak bisa hanya dengan ilmu kedokteran saja, ilmu agama saja, atau ilmu-ilmu lainnya.

“Kita tidak bisa hanya memandang dengan ilmu psikologi, ekonomi, pemerintahan, bahkan militerpun dalam melihat pandemi ini. Bahwa ini adalah multidisipiner,”jelasnya.

Lebih lanjut, dikatakan Prof. Ahmad Najib, ada persoalan atau perspektif penting dalam masalah kultural. Yaitu contohnya dalam hal kematian. Kematian itu adalah perjalanan hidup manusia, upacara kelahiran, pernikahan, kematian, dan kalau dipandang sebagai upacara penting yang mendefinisikan sebuah budaya di dalam masyarakat tertentu. Makanya elaborasi dalam upacara kematian itu sangat beragam, sangat kuat dan sangat kaya.

“Di Bali, Irlandia,  upcara kematian  bisa berlangsung 5-10 hari. Karena pentingnya kematian di dalam agama, maka dapat dikatakan kematian itu menciptakan agama. Kematian itu yang membuat kita belief (percaya) kepada supranatural dan lain sebagainya. ” jelas Prof. Ahmad Najib “Kemudian beberapa keyakinan mengatakan bahwa kematian itu tingkat akhir dan merupakan awal dari kehipan selanjutnya,” tambahnya. (Mamluatur Rahmah/003)