PW Fatayat NU Kolaborasi KKN UIN Walisongo Gelar Webinar Tentang Perkawinan Anak

0
16315
Kelompok KKN MIT DR XII UIN Walisongo Bersama PW Fatayat NU Jawa Tengah dan KPAI Gelar Webinar Tentang Perkawinan Anak

Semarang nujateng.com Kelompok 34 dan 10 Kuliah Kerja Nyata Mandiri Inisiatif Terprogram Dari Rumah Ke-XII (KKN MIT DR XII) UIN Walisongo Semarang bekerja sama dengan PW Fatayat NU Jawa Tengah dan KPAI menggelar webinar tentang perkawinan anak Rabu, (18/8/2021).

Acara yang mengusung tema “Perempuan Millenial, Merdeka Perkawinan Anak” tersebut diadakan secara daring dengan menggunakan aplikasi, Zoom meeting. Pada webinar ini menghadirkan tiga narasumber antara lain Komisioner KPAI, Margaret Aliyatul Maimunah, Ketua PW Fatayat NU Jawa Tengah, Tazkiyatul Muthmainah, dan Kepala Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) UIN Walisongo, Titik Rahmawati.

Acara yang diikuti oleh 200 peserta ini dimulai dengan sambutan dari Wakil Rektor III UIN Walisongo, Achmad Arief Budiman. Saat memberikan sambutan Arief menjelaskan jika Indonesia memiliki permasalahan besar yakni angka kematian ibu dan anak.

“Indonesia masuk dalam peringkat 10 negara besar dunia yang dengan kuantitas kematian ibu dan anak yang tinggi. Penyebabnya adalah perkawainan anak. Pemuda saat ini mempunyai peran menyikapi hal tersebut,” tutur Arief.

Menurut dosen di Program Studi Hukum Keluarga Islam tersebut, hal yang dapat dilakukan pemuda terkait dengan perkawinan anak adalah memberikan edukasi dan contoh kepada generasi milenial agar menikah sesuai dengan ketentuan undang-undang yang berusaha menekan pernikahan muda.

Berkaitan dengan yang disampaikan oleh WR III, Margaret Aliyatul Maimunah mengatakan, guna mencegah penikahan anak dapat dilakukan dengan usaha bersama dan tanggung jawab bersama-sama. Menurut Sekretaris Umum PP Fatayat NU tersebut, tanggung jawab bersama akan lebih efektif menekan perkawinan anak dari pada peran individu.

“Walau undang-undang sudah memberikan penegasan tentang batasan minimal usia akan tetapi berdasarkan data permohon dispensasi kawin anak masih saja banyak jumlahnya. Sehingga peran bersama lebih dibutuhkan, ketimbang individu,” tutur alumi pasca sarjana Universitas Indonesia tersebut.

Setelah penyampaian materi oleh Anggota Komisioner KPAI, penyampaian materi dilajutkan oleh Tazliyatul Muthmainah. Dalam penyampaiannya, Muthmainah mengatakan, untuk membentuk generasi unggul perlu adanya kualitas SDM yang unggul.

“Karena itu hak perempuan untuk mengembangkan diri juga merupkan hal yang penting. Maka, kawin muda atau pernikahan anak tentu tidak sejalan dengan pembentukan generasi unggul,” ungkapnya.

Senada dengan Muthmainah, Titik Rahmawati menjelaskan, laki-laki dan perempuan memiliki peluang yang sama dan tidak ada perbedaan, utamanya dalam pendidikan. Menurutnya, fungsi pendidikan adalah menjadikan generasi yang unggul dan bertakwa kepada Tuhan.

“Guna mewujudkan hal tersebut diperlukan usaha bersama dan tidak boleh ada perbedaan gender. Gender yang merupakan ruang konstruksi sosial bukan sesuatu determinasi alamiah yang menghambat prestasi. Semua orang bisa menggapai prestasi tanpa mengenal status kelamin,” jelasnya kepada seluruh peserta webinar. (Rep: Sidik)