Adakah Kata Selain Percaya dan Pasrah?

0
5110
Adakah Kata Selain Percaya dan Pasrah?
Adakah Kata Selain Percaya dan Pasrah?

Oleh : Angga Purwancara (Humas Lembaga Falakiyah PCNU Gresik)

nujateng.com Badan tiba-tiba menggigil, demam tak seperti biasanya. Besoknya, mulai terasa flu disusul batuk. Hari ke 4 pasca deman memutuskan untuk rapid antigen dan tes PCR. Hasilnya positif .

Sejak saat itu saya isolasi mandiri. Seperti yang dialami kebanyakan orang, gejalanya hampir sama. Hanya saja covid-19 yang ini ada gejala diare. Selama isoman, saya tidak begitu bernafsu mengkonsumsi obat. Ya, paling sedikit-sedikit saja. Tapi kalau soal makan, mau tidak mau pokoknya harus makan. Bila perlu set-up diri kita menjadi Gragas. Sebut saja ‘Gragas Temporer’.

Setelah negatif dan melewati fase 14 hari, saya akhirnya resmi mendapat gelar lulusan covid. Tetapi kepada publik, media massa lebih akrab menggunakan diksi ‘penyintas’ terhadap orang-orang yang bergelar LC itu. Setelah menjadi penyintas Covid-19, saya pikir benar-benar sembuh.

Ternyata yang saya pikirkan salah. Saat itu masih ada satu fase lagi yang harus dilalui. Istilahnya long covid, semacam kondisi tidak normal yang bisa terjadi pasca sembuh dari covid-19. Hampir semua penyintas virus ini mengalaminya. Meski sudah negatif, penyintas masih bisa merasakan sejumlah gejala dalam jangka waktu tertentu. Bahkan, mungkin bisa lebih lama.

Setelah saya benar-benar sembuh dalam waktu 25 hari dengan beragam treatment, akhirnya saya menyadari. Asumsi saya bisa salah, tetapi melihat ada sebagian orang yang sengaja dipilih Allah untuk tidak melewati badai pandemi (wafat). Lalu, sebagian besar lagi dipilih untuk melewatinya.

Virus ini dianalogikan seperti arisan ibu-ibu. Yang setiap orang pasti akan kena kalau sudah jatahnya. Tinggal bagaimana takdir kita berjalan. Innallaha ala kulli syai’in qodir. Sebab, ada banyak hal yang sulit dinalar. Misalnya, dari segi mortalitas atau angka kematian akibat covid-19 ini. Kata pakar, kebanyakan yang meninggal adalah mereka yang sudah berumur disertai komorbid.

Namun, ada fakta yang tidak bisa dibantah. Di depan mata saya, sosok anak muda masih sehat tanpa komorbid. Ia harus meninggal karena Covid-19. Itulah teman saya yang wafat tempo hari. Tetapi setelah saya menemui keluarganya, ternyata almarhum belum vaksin. Pun dengan Ibunya, belum sempat daftar vaksinasi. Padahal ibunya ada komorbid diabetes. Apalagi umurnya sudah uzur. Seharusnya ibunya adalah orang yang paling beresiko dekat dengan kematian.

Namun, fakta hari ini ibunya masih sehat. Saat itu orangtuanya cukup isoman di rumah. Tidak seperti anak semata wayangnya itu. Hampir sebulan isoman di rumah sakit. Inilah yang kemudian menimbulkan ‘asumsi sesat’ bagi orang awam bahwa kalau di rumah sakit pasti mati.

Lagi-lagi kita dibuat bingung dengan sederet fakta Covid-19 hingga detik ini. Pikiran kita kacau karena banyak kejadian yang sulit dinalar. Sementara kecerdasan intelektual (IQ) kita hanya mampu menjangkau sesuatu yang rasional. Apalagi soal covid-19 kita ini cukup awam. Sebab, yang tahu banyak tentang Covid-19 adalah pakar atau ahli di bidangnya. Sedangkan kita, mungkin tahu sedikit-sedikit karena ada sumber refrensinya. Lebih bahaya lagi, kalau tahu sedikit-sedikit berdasar katanya yang bukan ahlinya.

Oleh karena itu, sebagai orang awam dalam hal ini agaknya kita berpedoman saja pada filsuf asal Persia, Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al Ghazali ath-Thusi asy-Syafi’i atau kita lebih familiar dengan sebutan Imam al Ghazali. Sang penulis Kitab Ihya Ulumuddin itu adalah ahli di bidang teologi, filsafat Islam, fikih, sufisme, mistisisme, psikologi, logika, dan kosmologi. Sumbangsih pemikirannya untuk dunia, telah diakui lintas generasi dari abad ke abad.

Seluruh pikiran genuin-nya itu diwariskan ke pelbagai literatur untuk seluruh umat di dunia. Terlebih kitab berjudul Iljamul Awam an Ilmi al Kalam. Sebuah kitab yang sangat relevan sebagai pedoman manusia awam. Seperti saya ini yang sangat awam dalam menghadapi pandemi. Dalam kitab yang menarik perhatian saya adalah kalimat Al-Taqdis dan Al-Iman wa Tasdiq. Menghadapi masalah global yang kita sendiri awam, sebaiknya Kitab Al-Taqdis. Mensucikan diri dan pasrah kepada Allah.

Artinya Al-Iman wa Tasdiq (beriman dan percaya). Dalam maqom awam, sebaiknya kita juga percaya dengan apa yang dikatakan orang yang mengerti (ahli). Sebab, mereka para ahli itu memiliki landasan teori berdasarkan fakta empiris. Seperti hukum gerak Newton merupakan teori yang bersumber dari fakta empiris. Misalnya, mengapa apel jatuh ke tanah? Karena berkaitan dengan teori gravitasi. Sejak dulu, apel jatuh ke tanah. Nah dari fakta empiris ini, sehingga terciptalah hukum Newton.

Tetapi hukum gerak Newton salah di era Albert Einstein. Menurut Einstein tidak begitu. Lalu, Apakah Isac Newton berbohong? Mungkin Ilmuwan bisa salah, namun ilmuwan tidak boleh berbohong. Sehingga, dalam hal ini kita harus percaya yang dikatakan ahli. Para ahli bersepakat, kompak, kolektif kolegial bahwa virus ini obatnya hanyalah imunitas. Maka tingkatkan imun, makan yang bergizi, olahraga dan konsumsi vitamin sekedarnya. Serta jangan takut untuk vaksinasi. Selebihnya adalah pasrah. Wa ma tasquṭu miw waraqatin illa ya’lamuha.