Adab Para Wali, Berkaca pada Mbah Muslih dan Mbah Hasan

1
23149

Oleh Dr. Akhmad Arif Junaidi, M.Ag

Dosen UIN Walisongo Semarang

Mbah Muslih Mranggen dan Mbah Hasan Mangli tentu tidak mengenal saya. Sayalah yang merasa harus mengenal kedua Kiai yang memiliki reputasi spiritual yang luar biasa itu, bahkan dikenal sebagai dua orang dari sedikit para wali dari tanah Jawa. Saya tidak pernah bertemu dengan Mbah Muslih Mranggen, karena kiai yang dikenal memiliki kedalaman ilmu keislaman yang luar biasa itu telah berpulang pada 1981 di tanah suci Makkah, sementara saya baru mulai nyantri di Mranggen pada tahun 1987.

Saya hanya ingat bahwa pada hari Jum’at setelah beliau berpulang, ayah saya yang menjadi kiai di kampung mengajak para jama’ah sholat Jum’at untuk melaksanakan sholat ghoib untuknya. Kiai pengasuh Pesantren Futuhiyyah Mranggen yang dikenal sebagai Syaikh al-Mursyidin (guru dari para Mursyid) Thoriqoh Qodiriyyah Naqsyabandiyyah ini dikabarkan berkali-kali bertemu dengan Nabi Khidzir, seorang nabi yang dalam tradisi masyarakat muslim tradisional dianggap masih hidup dan berkelana di daratan dan lautan hingga sekarang ini.

Sementara Mbah Hasan Mangli, saya hanya sempat melihatnya dalam pengajian yang digelarnya di Kampung Mangli Magelang setiap hari Minggu pagi. Pada tahun 1985, saat masih duduk di kelas 1 SMP, saya sempat tiga kali diajak oleh ayah saya untuk menghadiri pengajian kiai nyentrik tersebut. Saya menyangsikan informasi yang diupload di google, bahwa kiai asal Kediri tersebut lahir pada tahun 1945. Ketika saya mengunjungi pengajiannya di tahun 1985, saya memperkirakan bahwa umurnya telah lebih dari 50 tahun.

Sebagai seorang wali, Mbah Hasan Mangli dikabarkan memiliki banyak karomah, diantaranya adalah lipet bumi, sebuah kemampuan spiritual dimana seseorang mampu berada didua tempat yang berbeda dalam waktu yang sama. Atau melakukan perjalanan sangat jauh dalam waktu yang sangat singkat. Kemampuannya yang lain adalah membaca isi hati orang lain yang belum terlontakan perkataannya atau menebak keberadaan orang lain.

Meski saat itu saya masih kecil, masih ingat betul saat menghadiri pengajian yang digelarnya pada Minggu pagi itu. Saya duduk di samping seorang lelaki tua berpakaian ala kadarnya dengan serban tua yang menutupi wajahnya. Dia hanya duduk berdzikir dengan kepala menunduk. Tidak ada yang mempedulikan keberadaannya. Tetapi ketika tiba di arena pengajian tersebut, Mbah Hasan Mangli langsung mendekati lelaki tua yang duduk di samping saya tersebut.

Monggo mriki, Mbah Nur,” kata Mbah Hasan Mangli.

Mbah Hasan Mangli pun menggandeng dan mengajak lelaki tua itu duduk di tempat beliau berdiri menyampaikan isi pidatonya. Ternyata lelaki yang sudah sangat tua itu adalah Mbah Nur dari Moga Pemalang. Seorang kiai yang juga dikenal sebagai wali yang banyak memiliki karomah. Rupanya para wali pun diam-diam saling berkunjung pada pengajian wali yang lain. Mbah Hasan Mangli pun kemudian menyampaikan isi pidatonya pada ribuan jamaah yang hadir tanpa menggunakan pengeras suara.

Meski menjadi wali yang banyak memiliki karomah,  Mbah Hasan Mangli rupanya masih merasa menjadi santri dari wali yang lain. Kiai Hadlor Ihsan dari Mangkang menceritakan pada saya bahwa di akhir tahun 1979, Mbah Hasan Mangli berkujung (sowan) pada salah satu gurunya, yaitu Mbah Muslih Mranggen. Ketika hendak memasuki pintu rumah kiai asal Mranggen yang dikenal sangat ngalim itu, Mbah Hasan Mangli pun berjalan sambil “ndhodhok” alias ngesot memasuki pintu rumah sang guru.

Meskipun pada saat itu belum ada handphone yang memungkinkan orang saling berkirim kabar, rupanya Mbah Muslih Mranggen pun telah tahu bahwa akan kedatangan tamu, seorang murid yang telah menjadi wali itu. Mbah Muslih pun memeluk hangat muridnya itu. Keduanya pun ngobrol dalam waktu yang cukup lama. Ketika akan pulang pun, Mbah Hasan Mangli berjalan mundur sambil ngesot hingga di luar pintu rumah sang guru.

Ketika Mbah Hasan Mangli pulang, Mbah Muslih pun sambil tersenyum mengatakan pada para santrinya:

Gusti Allah iku yen kepengin ndadekke wong minongko kekasihe, yo ra bakal kurang jalaran. Hasan mbiyen wektu nyantri ning Termas yo mben dino bal-balan terus. Saiki dadi wali (Allah itu kalau ingin menjadikan seseorang sebagai kekasih-Nya ya tidak akan kurang alasan. Dulu waktu nyantri di Termas Hasan tiap hari ya main sepak bola terus. Sekarang dia jadi wali kekasih Allah”.

Rupanya Mbah Hasan Mangli adalah salah satu murid Mbah Muslih Mranggen waktu sama-sama nyantri di Pesantren Termas Pacitan, Jawa Timur. Ketika Mbah Muslih baru nyantri di pesantren tersebut, Mbah Kiai Ali Maksum yang saat itu menjadi kepala madrasah di pesantren tersebut langsung memintanya untuk mengajar di kelas Alfiyyah, kelas yang diikuti oleh para santri senior.

Mbah Hasan Mangli adalah salah satu santri di kelas Alfiyyah yang diampu oleh Mbah Muslih Mranggen. Itulah kenapa Mbah Hasan Mangli secara ketat menjaga adabnya untuk menghormati Mbah Muslih Mranggen. Itulah adab para wali. Allahummaghfirlahum warhamhum wa’afihim wa’fu ‘anhum.