Urgensi Bermadzab Ala Hadratusyaikh Hasyim Asy’ari

0
1439
Urgensi Bermadzab Ala Hadratusyaikh Hasyim Asy’ari
Kredit foto: Nahdlatul Ulama

Oleh : M Lutfi Nanang Setiyawan (Mahasiswa dan Penulis di Justisia.com)

Perkembangan ekspresi yang turun temurun mewarisi sikap dan perspektif muslim Nusantara adalah konservatif dan menelan mentah-mentah ajaran agama yang tertulis dalam syariat ataupun diajarkan oleh wali, ulama, dan kyai terdahulu.

Sederhananya, keterbatasan intelektual dan perangai primordial masyarakat pada waktu itu menjerumuskan tidak sedikit muslim Indonesia menterjemahkan teks-teks agama secara tekstual (letter leg). Tidak bisa dipungkiri.

Anggapan ini semakin membulat ketika latar belakang masuknya ajaran Islam di belahan Nusantara, khususnya Jawa, melalui ‘perebutan’ peradaban. Konteksnya bukan akulturasi atau asimilasi Islam dengan aspek sosio-kultural yang berkembang, tetapi lebih menyasar dengan pemangkasan budaya dan tradisi buddhisme-hindhuisme yang sudah tumbuh radikal. (Muhammad Haramain, 2017: 193).

Warisan dan peninggalan nenek moyang yang masih lestari tidak ubahnya merupakan buah hasil pertarungan eksistensi budaya dan citra akal budi antara keterampilan luhur kearifan lokal dengan implikasi ajaran Islam yang diejawentahkan secara partikular, adaptif dengan keadaan sosial. Hingga sekarang ini, fenomena itu dapat kita temui seperti pembangunan menara masjid yang mengadopsi tempat ibadah Budha-Hindu, selametan hingga perubahan aktor dan alur wayang.

Bercermin dari realitas di atas, salah satu tokoh besar Islam di Indonesia sekaligus pendiri organisasi masyarakat terbesar, Nahdlatul Ulama, Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari, mengakomodir premis dan kausa yang telah ada untuk kemudian dikristalkan menjadi latar belakang konsepsi pemikirannya menyinggung pentingnya berpedoman pada salah satu madzab empat (Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hambali).

Kacamata historis menganggap tidak ada tali penghubung kausalitas antara proses masuknya ajaran Islam dengan pentingnya pedoman berpegang teguh pada (salah satu) empat mazdab. Tetapi jika lebih mendetail menggunakan pendekatan metodologis, ada beberapa spot menarik yang bisa dijadikan alasan kenapa KH. Hasyim Asy’ari mewanti-wanti akan pentingnya bermazhab di tengah entitas sosio-kultural yang beragam.

Umumnya, mayoritas umat sepakat bahwasanya berpegang teguh terhadap ajaran salaf adalah suatu keharusan dan/atau anjuran. Pada dasarnya, (muslim Nahdliyyin) memprioritaskan ajaran yang sanadnya jelas dan ittishal kepada Nabi SAW maka ajaran yang terdapat dalam pemikiran ulama salaf tidak mengalami distorsi atau disorientasi substansi—masih dalam batas toleransi aman jika ada kesalahan tafsiran. (Ishom Hadziq, 1997: 30).

Alasan yang bisa dipertanggungjawabkan adalah perkembangan kadar intelektual belum menyentuh permukaan. Perbandingan orang yang memiliki kecapakan keilmuan dengan tidak sangat kentara. Mengingat Islam datang di Indonesia, pribumi asli hanya lah penduduk suatu daerah yang taat dengan aturan pemerintah setempat; bayar pajak, permbelakuan upeti, dan membagi sebagian hasil pertaniannya kepada kerajaan. Tidak salah jika ittiba’ dengan pemikiran ulama adalah jalan keluar yang layak.

Lebih lanjut, dinamika kehidupan yang selalu silih berganti sesuai alur perubahan zaman juga turut mempengaruhi perubahan paradigma dan pola pikir orang-orang. Kontras perbedaannya, zaman Walisongo problematika umat belum banyak dan masih bisa diselesaikan dengan mudah berkat kuasa patron yang ditaati dan dipatuhi titahnya oleh umat. Berbeda dengan zaman sekarang yang ditengarai perubahan begitu pesat, dinamika semakin komplek serta minimnya sosok sentral umat.

Maka, KH. M. Hasyim Asy’ari kembali menegaskan begitu pentingnya iltizam al-taqlid bagi seorang mukallaf; sebagai pengikat, kendali sekaligus penunjuk orientasi spritiual dan intelektual. Terlebih mukallaf itu sadar akan kurangnya kapasitas keilmuannya sehingga tidak ada tempat memadai untuk berijtihad sendiri—walaupun banyak adagium mengatakan kalau pintu ijtihad selalu terbuka.

Dalam catatan tambahan di kitabnya, At-Tibyan fi al-Nahyi ‘an Muqoto’ah al-Arham wa al-Aqarib wa al-Ikhwan, semua hal itu adalah bentuk ikhtiar untuk mempertahankan eksistensi Islam sekaligus upaya menegaskan persepsi Muslim yang selama ini berpegang ajaran dan pemikiran salah satu mazhab empat. Benar adanya empat mazdab itu adalah fokus fikih, yang perlu digarisbawahi bahwa singgungan fikih tidak sebatas ibadah, meluas dan meliput segala hal yang bersifat muamalah dan ghoiru mahdah. (Ishom Hadziq, 1997: 28).

Mazhahib al-Arba’ah tidak hanya sebatas dogma ajaran dan undang-undang syariat Islam. Lebih dari itu, pedoman utama dan sentral serta ukuran batasan seorang Muslim dalam bertindak sesuai syara’ yang telah diajarkan. Memahami mazhahib al-arba’ah perlu rekontruksi substansi sehingga pemberlakuan hukum Islam sesuai dengan kondisi dan situasi daerah tertentu.