Tiga Sumber Dalam Mempelajari Islam ala Gus Ulil

0
766
Gus Ulil Abshar Abdalla
Gus Ulil Abshar Abdalla

Oleh: Gus Ulil Abshar Abdalla (Pengasuh Ngaji Ihya Online)

Karena kebetulan baru saja membahas buku Kang Jalal, “Islam Alternatif,” saya ingin berbagi sedikit pengalaman yg saya jalani dalam mempelajari Islam.

Saya “mencecap” ilmu dari tiga sumber sekaligus, terutama ilmu-ilmu keislaman. Yang pertama, dari sumber tradisional di pesantren. Guru-guru saya yang utama dalam konteks ini adalah ayah saya sendiri, almarhum Kiai Abdullah Rifa’i. Kemudian: Kiai Sahal Mahfudz dan Kiai Maimoen Zubair.

Sumber kedua, para intelektual Muslim modern di kota. Dalam konteks ini, saya berguru pada sosok-sosok hebat seperti Cak Nur, Gus Dur, Dawam Rahardjo, Kang Jalal, Bang Imad, dll. Kepada mereka ini saya belajar bagaimana memaknai Islam dalam konteks modern.

Sumber ketiga: adalah sumber Wahabi, yakni saat saya kuliah di LIPIA Jakarta. Dalam konteks ini, saya belajar pada dosen-dosen saya yang berasal dari Mesir, Sudan, Palestina, Arab Saudi, Syria, dll. Meskipun saya akhirnya kritis pada wahabisme, tapi saya belajar banyak hal dari mereka.

Yang saya suka pada wahabisme adalah semangat para ulamanya dalam mengajarkan akidah, dan membuatnya menjadi sederhana. Akidah Asy’ariyah yang saya pelajari di pesantren, jujur saja, memang agak rumit. Kesederhanaan akidah wahabi/salafi inilah yang memikat para Muslim awam di kota.

Tetapi tekanan pada “kesederhanaan” ini juga yang sekaligus menjadi kelemahan akidah wahabi. Akidah ini cenderung mencetak orang-orang yang semangat akidahnya menyala-menyala, tetapi miskin penalaran.

Tak heran jika Prof. Fazlur Rahman, gurunya Cak Nur di Universitas of Chicago dulu, menyebut ajaran-ajaran Muhammad ibn Abdul Wahhab, pendiri gerakan wahabi, telah menyebabkan “intellectual impoverishment”, pemiskinan intelektual di kalangan umat.

Tiga sumber ini mengajarkan saya satu hal: bahwa Islam bisa didekati dengan bermacam-macam pendekatan. Saya, “by culture”, adalah santri tradisional yang tumbuh dalam tradisi NU. Saya ndak bisa meninggalkan tradisi ini. “I love it too much!” tetapi saya juga belajar Islam dari sumber-sumber lain.

Saya mengenang tahun-tahun 80-an dan 90-an sebagai masa-masa keemasan pemikiran Islam di Indonesia. Polemik dan debat pemikiran Islam pada tahun-tahun itu berlangsung dengan amat kreatif sekali. Kecenderungan “takfir” atau mengkafir-kafirkan pikiran yang berbeda, belum terlalu menonjol.

Saya benar-benar mengenang dekade itu “with deep sense of nostalgia and painful feeling of seeing it receding these days.” Semoga Tuhan mengembalikan era keemasan pemikiran Islam itu di Indonesia, pada suatu hari, entah kapan.