Relevasi Aswaja Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari Di Era Kekinian

0
1385

Oleh : M. Lutfi Nanang Setiawan (Mahasiswa dan Penulis di Justisia.com)

Ahlu as sunnah wa al Jama’ah an Nahdliyyah adalah ajaran yang dianut oleh organisasi dan warga NU yang disusun oleh Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari. Ajaran itu sebenarnya merupakan ajaran yang turun temurun diajarkan oleh para masyayikh kita sejak berabad-abad lalu. Kini menjadi ilham bagi beberapa negara Muslim yang selama ini dilanda konflik fisik di dalam negara tersebut.

Konsep Aswaja Hadratussyaikh yang termaktub di dalam Qonun Asasi dibuat hampir seabad lalu untuk konsumsi orang awam supaya mudah dipahami dan diikuti. Terbukti puluhan juta orang mengikuti konsep Aswaja yang sederhana dan mudah dipahami itu. Namun demikian, pemikiran Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari ternyata juga mempunyai banyak penafsiran.

Almarhum Prof. KH. Ali Musthofa Ya’qub menyatakan, bahwa pemikiran Hadratussyaikh memiliki beberapa persamaan dengan pemikiran Wahabi. Kiai lain mengatakan, bahwa pemikiran Hadratussyaikh bertentangan dengan pemikiran Wahabi. Sedangkan Prof. Said Aqiel Siradj (SAS) mengatakan, bahwa konsep Aswaja Hadratussyaikh terlalu sederhana, bahkan bisa disebut memalukan.

Mengutip penafsiran Dr. Miftahur Rohim—Wakil Rektor III Universitas Hasyim Asy’ari—terhadap Qonun Asasi, yang menguraikan tentang konsep tersebut tidak sesederhana seperti pemikiran SAS, dan bisa dimaknai secara luas.

Konsep Ahlu as sunnah wa al Jama’ah Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari yang termuat di dalam Qonun Asasi meliputi aspek: akidah, syariah, dan akhlak. Ketiga aspek tersebut meupakan satu kesatuan ajaran yang mencakup seluruh aspek prinsip keagamaan Islam. Ketiganya didasarkan pada manhaj (pola pikir, metode) Asy’ariyyah dan Maturidiyyah di bidang akidah; empat madzhab besar di bidang fiqh (Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hambali); dan di bidang tasawuf menganut manhaj Imam al-Ghazali dan Imam Junaidi al-Baghdadi.

Dalam bidang syariah meliputi mazhab fiqhiyyah (doktrin fiqh), mazhab al manhaji al-ijtihadi (doktrin dan metode berijtihad) dan mazhab al manhaj al-fikri (doktrin dan metode berfikir). Hal ini dapat kita lihat dalam ayat al-Quran surah Az-Zumar: 17-18 dan Surah Ali Imron: 59 yang tercantum dalam Qonun Asasi. Dua ayat tersebut di atas adalah sumber dalil dari manhaj al-ijtihad (metode berijtihad) dan manhaj al-fikr (metode berfikir).

Ahlu as sunnah wa al Jama’ah sebagai doktrin mazhabi yang bersumber dari kitab-kitab klasik yang telah dirumuskan para ilmuan dan para ulama pada periode taklid (300-650 H), merupakan mukhtashar (ringkasan), musyarrikh (menjabarkan/menjelaskan), dan mempertahankan karya para Imam sebelumnya (Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hambali) dengan menempatkan berbagai dalil nas (al-Quran, as-Sunnah, dan Ijma’) untuk mempertahankan imam-imam mereka.

Sedangkan kitab-kitab tersebut hanya merupakan produk hukum Islam yang dipengaruhi fenomena pada saat itu, ketika terjadi benturan pemikiran dan fanatisme yang berlebihan terhadap imam-imam mereka, tentu banyak yang sudah tidak relevan dengan situasi sekarang. Paradigma berfikir yang berbeda tersebut melahirkan benturan pemikiran dan sangat tidak menguntungkan umat Islam secara global.

Oleh sebab itu, ada upaya untuk rekonsilisasi pemikiran untuk menciptakan kesamaan visi dan misi untuk membangun dengan menjadikan rumusan Ahlu as sunnah wa al Jama’ah sebagai gabungan mazhab dan manhaj. Sayangnya, para kiai dan pengajar di pondok-pondok pesantren lebih cenderung pada mazhab fiqhiyyah daripada mazhab manhajiyah. Hal demikian akan membawa pada doktrin agama yang tekstual.

Begitu pula pengajaran di Perguruan Tinggi agama (UIN, IAIN, STAIN) lebih cenderung ke manhajiyyah, namun hanya setengah-setengah. Hal demikian membawa pula pada pemikiran liberal yang tidak bereferensi (keluar dari tradisi pemikiran ulama, terutama Hadrastussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari).

Dengan demikian, apabila Ahlu as sunnah wa al Jama’ah dipahami hanya sebagai mazhab, maka gerakan Islam akan bersifat eksklusif yang tidak mampu berhadapan dengan kemajuan teknologi dan globalisasi. Begitu pula, apabila dipahami sebagai manhaj al-fkir saja, maka gerakan akan menjadi liberal dan tidak mempunyai asas yang kuat.

Oleh karena itu, paradigma di masa depan, di tengah-tengah percaturan di berbagai kehidupan, membuat Ahlu as sunnah wa al Jama’ah menjadi perpaduan antara doktrin mazhab dengan manhaj. Dua metode bagaikan sayap burung yang akan terbang untuk membangun peradaban umat menuju baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur (negara aman dalam ampunan Tuhan).

Kemudian lahir pertanyaan, kapankan Ahlu as sunnah dapat dipandang sebagai mazhabi dan dapat kapankah dipandang sebagai manhaji? Ketika menghadapi berbagai persoalan yang menyangkut ibadah, muamalah, munakahat, dan jinayah yang sudah terdapat di dalam rumusan kitab-kitab klasik yang dianggap mu’tabar, dan didukung dalil-dalil nash yang valid, di situlah kita terapkan Ahlu as sunnah bersifat mazhabi.

Tetapi, ketika dihadapkan pada persoalan-persoalan baru yang tidak terdapat di dalam doktrin rumusan kitab klasik yang menyangkut kebijakan kepentingan umat dan berhadapan dengan isu-isu dunia global, seperti HAM, status muslim non muslim, menyikapi politik di tingkat global, pertarungan antara Dunia Barat dam Dunia Timur, dirasa doktrin mazhab tersebut tidak dapat menyelesaikan.

Di sini, perlu diterapkan Ahlu as sunnah sebagai manhaji. Oleh sebab itu, diperlukan interpretasi dalam pemahaman dan perumusan Ahlu as sunnah wa al Jama’ah sebagai mazhab dan manhaj. Khasaish (ciri-ciri) manhaj al-fikriyyah: manhaj al-fikr al-tawassutiy (pola pikir moderat), manhaj al-fikr al-ishlahiyy (pola pikir reformatif/akomodatif), manhaj al-fikr al-tathowwuriyy (pola berpikir dinamis), dan manhaj al-fikr al-manhajiy (pola pikir metodologis).

Perbedaan penafsiran terhadap Qonun Asasi di atas makin terlihat di dalam jam’iyyah NU, ada kelompok konservatif yang jumlahnya tidak banyak begitu juga dengan kelompok liberal yang jumlahnya tidak banyak. Yang terbanyak adalah kelompok pertengahan yang mungkin sesuai dengan penafsiran Dr. Miftahur Rohim tersebut di atas. Keberadaan kelompok konservatif dan kelompok liberal adalah sesuatu yang alamiah dan tidak bisa kita larang.

Yang harus kita cegah ialah upaya untuk mengubah dokumen resmi Jam’iyyah NU atau membuat penafsiran baru sehingga jauh berbeda dengan apa yang selama ini sudah hidup dan kita yakini. Perbedaan penafsiran oleh para orang per orang atau kelompok tidak bisa dilarang, tetapi penafsiran kelompok itu dijadikan penafsiran resmi jam’iyyah harus kita cegah.