Rais Syuriah Ranting Wadas: Masyarakat Duduk Tenang Bermujahadah, Aparat yang Memaksa Masuk

0
4440
Rais Syuriah Ranting Wadas Masyarakat Duduk Tenang Bermujahadah Aparat yang Memaksa Masuk
kredit foto: Warga Wadas

Purworejo nujateng.com Ditangkapnya sejumlah warga disaat aksi penolakan tambang batu andesit di Desa Wadas, Kecamatan Bener, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Musababnya, saat warga melakukan aksi blokir jalan, dengan batang pohon sambil aksi duduk dan bersalawat, setelah ada rencana sosialisasi penambangan batu andesit untuk proyek Bendungan Bener pada Jumat (23/4/2021).

Rais Syuriah Ranting Wadas, Bahrudin saat dikorespondensi NU Jateng mengatakan tuntutan dari semua warga minta dengan hormat supaya menepati janji dari awal. Pada awal pada sosialisasi pertama dari pihak Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) apabila masyarakat tetap bersikukuh menolak untuk mencari alternatif lain.

“Kenyataannya sampai sekarang masyarakat masih menolak BBWS masih belum mau mencari alternatif lain. Maka dengan sangat, kita minta agar pengambilan quary untuk bendungan ditempat lain,” tuturnya.

Ia menambahkan, Wadas dalam posisi ini tidak melanggar hukum. Karena tujuan masyarakat cuma mau menjaga alam. Upaya untuk menghentikan upaya pengukuran dan pematokan untuk quary, tapi kenyataannya aparat melakukan kekerasan. Hal ini bertolak belakang dari pernyataan kepolisian yang mengatakan akan melindungi warga.

“Masyarakat cuma duduk dengan tenang sambil bermujahadah, aparat memaksa mau masuk lalu memukuli warga ini sebuah ketidakadilan. Kami sangat menyayangkan sekali kejadian, apalagi terjadi di bulan Ramadhan. Padahal jelas dari awal sosialisasi posisi masyarakat adalah menolak. Semua upaya sudah kita lakukan terkait penolak ini. Semua warga bergerak atas kesadaran bersama, jadi tidak benar apabila ada tuduhan provokator terkait penolakan Wadas,” jelasnya.

Puluhan aparat Kepolisian dan TNI menerobos blokade tersebut dengan menggunakan gergaji mesin.

“Hingga akhirnya aparat tetap memaksa masuk termasuk menggunakan kekerasan dengan cara menarik, mendorong dan memukul warga, termasuk ibu-ibu paling depan yang sedang bersalawat,” kata Direktur LBH Yogyakarta, Yogi Zulfadli, dikutip dari Tirto.

Bentrokan ini pecah sekitar pukul 11.30. Warga dan beberapa mahasiswa ditarik dan ditangkap secara paksa oleh aparat keamanan.Warga mundur setelah polisi menembakkan gas air mata. Salah satu yang ditangkap adalah Julian, kuasa hukum warga Wadas dari LBH Yogyakarya. Ia dikerubungi dan ditarik paksa oleh polisi. Yogi berkata koleganya ditarik paksa dengan “cara yang tidak manusiawi, rambut dijambak.” (Red: 012)