Nalar Islam Rasional Gaya Harun Nasution

0
259
Nalar Islam Rasional Gaya Haris Nasution
Nalar Islam Rasional Gaya Haris Nasution

Oleh: M. Luthfi Nanang Setiawan (Mahasiswa dan Penulis di Justisia.com)

Gagasan ajaran Islam dan keislaman sedemikian rupa berkembang menyesuaikan zaman dan kebutuhan. Ajaran Islam bersifat universal secara substantif, namun dalam prakteknya diupayakan semaksimal mungkin adaptif. Islam dinamis-progresif, konsepsi ideal pendamping jawaban kebutuhan umat muslim, bukan Islam statis-konservatif. Dinamika kehidupan selalu menyajikan perubahan. Tidak bisa dicegah.

Para tokoh pembaharu dengan latar belakang yang beragam datang berbondong saling menawarkan konstruk paradigma baru dalam melihat ‘ajaran Islam dan keislaman’ dengan satuan konfigurasi pemikiran yang matang dan siap pakai. Indonesia, dengan tipologi masyarakat yang multikultural, melahirkan generasi kritis-kontradiktif pada zamannya. Sebutlah Gus Dur dengan tagline “Pribumisasi Islam” atau Cak Nur dengan “Sekulerisme dan Multikulturalisme.”

Tidak kalah menariknya, pemikiran dosen IAIN Jakarta, Harun Nasution, juga menyumbang pembaharuan lanskap pandangan dan kajian keagamaan Islam. Ia menawarkan “Islam Rasional” sebagai medium jalan keluar dari belenggu dogmatisme agama dan labelisasi nash-nash naqli yang kaku dan gersang. Mengetengahkan peran akal dan wahyu dalam menjemput ‘harmonisasi perpaduan’ yang selama ini getol disuarakan oleh ulama salaf.

Epistemologi Pemikiran Harun Nasution

Tidak ubahnya, suatu gagasan lahir sebagai bentuk perwujudan tanggapan atas kegelisahan buntunya pandangan dalam merekam fenomena wacana atau pemikiran. Keadaan zaman yang dipandangnya sebagai sesuatu yang “salah” dan pemikiran dari seorang tokoh merupakan gambaran jawaban dan tawaran solusi untuk mengatasi keadaan atau permasalahan agar lebih baik ke depannya.

Ada beberapa catat yang menjadi titik keprihatinan (kegelisahan akademik) Harun Nasution dalam melihat kondisi di dunia Islam. Pertama, kemunduran Dunia Islam. Dalam catatan sejarah, pada masa Islam klasik (650-1250 M), pemikiran rasional dalam di dunia Islam sangat berkembang pesat sehingga umat Islam mengalami kemajuan dalam berbagai bidang seperti sains, politik, ilmu pengetahuan, budaya, ekonomi. Hal ini didasari oleh tingginya kedudukan akal untuk memahami isi kandungan al-Qur’an dan Hadis.

Namun di abad pertengahan perkembangan pemikiran rasional semakin menurun, bahkan tergantikan oleh pemikiran tradisional. Pemikiran tradisional pada abad ini ditandai pada sikap peniruan (taqliq) terhadap hasil ijtihad ulama zaman klasik. Sikap peniruan ini terkadang dikultuskan (disucikan) sehingga sesuatu yang berlainan dengan pendapat ulama klasik merupakan tindakan penyimpangan. (M. Irfan, 2018)

Kedua, paradigma dogmatisme pemikiran Islam. Berawal dari dominansi akal sebagai medium dan pisau analisis memahami teks-teks al-Quran dan hadits hingga pada akhirnya bertransformasi; mengalami degradasi peran akal dan menjunjung tinggi moral-intelektual tradisional.

Pertama lebih memahami teks agama pendekatan kontekstual, adaptif mengakomodasi permasalahan. Kedua condong pemaknaan tekstual dan stagnan. Ketiga, tantangan global. Untuk kaitannya dengan Islam di Indonesia; persolan kemunduran di dunia Islam, dogmatisme pemikiran, dan “gagapnya” menjawab dan merspon era globalisasi.

Hal ini memunculkan klaim-klaim kebenaran penafsiran keislaman dari berbagai kelompok konservatif dan modern. Mendorong konflik-konflik ideologis antar umat Islam dan bahkan antar penganut agama lain.

Paradigma Islam Nalar dan Rasional

Sekilas, gagasan progresif Harun Nasution mirip dengan gagasan Islam Fazlur Rahman. Peran akal dalam menjangkau teks-teks al-Quran dan hadist diprioritaskan dan ditempatkan sebagai peran utama—bukan berarti menegasikan keberadaan wahyu. Semasif mungkin akal menjadi bambu runcing dalam mendobrak pemikiran dogmatisme agama yang selama ini hanya memberikan kejelasan dan pengertian tanpa ada ‘pembaharuan.’

Konstruksi keilmuan Harun Nasution yaitu perubahan paradigma Islam tradisionalis menuju paradigma Islam rasionalis, dengan menawarkan prinsip-prinsip rasional atau rasionalitas (akal) yang telah diuji dalam sejarah pemikiran Islam abad klasik. Perlunya mengkaji kembali ajaran Islam dengan menggunakan nalar rasional yang islamis agar umat Islam mampu menjawab dan merespon perubahan globalisasi dan mampu mengerjar ketertinggalan.

Pemikiran rasional yang dimaksud oleh Harun Nasution adalah rasional ilmiah yang agamis. Karena bersifat ilmiah maka ia bersifat relatif. Arti rasional di sini berarti mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan. Jika rasional telah menemukan kebenaran baru, maka rasional itu akan menjadi tradisional, sebaliknya penemuan baru itulah yang disebut rasional. Dalam hal ini rasional berdekatan dengan pengertian modern. (Nurisman, 2012)

Pendek kata, rasional menuju modernitas. Tidak terjajah dengan klaim-klaim tradisional dan menuntut pembaharuan dinamis menuju keteraturan yang bisa dirasakan dan adaptif dengan dinamika perubahan melalui pendekatan ‘tidak memberi jarak’ antara akal dengan realitas sosial. Di satu sisi karena kebutuhan, di sisi lain adalah suatu keharusan bagi corak Islam Rasional.

Harun Nasution menyatakan, selama ini Indonesia lebih terdoktrin dengan ideologi Asy’ariyah dengan corak tradisional yang sesuai dengan pandangan hidup mereka. Bertolak dari fenomena tersebut, ia mencoba menginternalisasi ideologi Mu’tazilah dengan corak liberal sebagai semangat pembebasan dari belenggu dogmatisme dan fundamentalisme.

Realisasi pemikiran Mu’tazilah sangat penting bagi perkembangan modenisasi Islam di Indonesia. Merupakan komponen esensial dalam program modernisasi yang lebih luas dalam masyarakat Islam. Tujuan Harun Nasution adalah untuk mengembangkan kemampuan modernitas Islam untuk bersaing dengan komunitas Barat dengan tetap memperhatikan karakteristik akhlak mulia Islam tradisional. (Henri Marlinah, 2018)

Uraian di atas menyimpulkan bahwa jika hendak memperbaiki kondisi umat Islam, yang mendesak dilakukan adalah membuang ideologi fatalistik menuju ideologi yang berwatak rasional serta mandiri. Akal diberi ruang gerak lebih bebas dan menjadi peran vital dalam menjangkau nash-nash al-Quran dan hadis. Transformasi ideologi Asy’ariyah ke Mu’tazilah adalah sekian dari pemikiran Haris Nasution yang mengudang kontroversi dan kontradiksi.