Bagaimana Terjadi Siang dan Malam Dalam Kitab Kuning?

0
910
Bagaimana Terjadi Siang dan Malam Dalam Kitab Kuning?
Kredit foto: wallpaperbetter.com

Oleh: M. Ryan Romadon (Mahasantri Ma’had Aly Ponpes Al-Iman Bulus Purworejo Jawa Tengah)

Allah swt telah menjadikan malam sebagai pakaian dan siang sebagai penghidupan. Demikianlah Sebagaimana bunyi Surat An-Naba’: 10-11;

وَجَعَلْنَا ٱلَّيْلَ لِبَاسًا  وَجَعَلْنَا ٱلنَّهَارَ مَعَاشًا

“Dan kami jadikan malam sebagai pakaian dan kami jadikan siang untuk mencari penghidupan”

Pada siang hari, umumnya orang mencari nafkah untuk penghidupannya sehingga lebih sering melakukan komunikasi dengan pihak lain. Sedangkan pada malam hari, mereka beristirahat kemudian beribadah lebih intensif sebagai bentuk komunikasi dengan Allah SWT.

Atas dasar logika seperti ini, ada ulama yang berpendapat bahwa malam lebih utama dibanding siang. Sebab, pada malam hari merupakan waktu yang paling baik untuk berkomunikasi dengan Allah (ibadah), sedangkan pada siang hari untuk mencari penghidupan.

Sedangkan menurut Syekh Hamami Zadah -dalam kitabnya yang berjudul Tafsir Yasin– memaparkan salah satu alasan mengapa malam itu lebih baik daripada siang, berikut adalah penjelasannya:

فإن قيل؛ “الليل أفضل أم النهار..؟”. الجواب؛ “اليل أفضل؛ لأنه خلق من الجنة، و النهار من النار”. لأنه ورد في الأثار؛ “أن في الجنة نورا و ظلمة، و جمع اللّهُ ظلمة الجنة، فخلق منها الليل، فلم تبق في الجنة ظلمة. وجمع الله نور جهنم، و خلق منه النهار، فلم يبق في جهنم نور، فكلها ظلمة.

Apabila ditanyakan; “Manakah yang lebih utama, malam atau siang?”. Maka jawabannya adalah; “Malam“. Hal ini karena, malam diciptakan dari surga, sedangkan siang diciptakan dari neraka”

Alasan ini berdasarkan sebuah Atsar yang menyatakan bahwasannya pada awalnya didalam surga itu ada “Cahaya dan Gelap”. Kemudian Allah SWT. mengumpulkan kegelapan tersebut, dan diciptakanlah malam darinya (dari kegelapan surga). Oleh karena itu, hal ini menjadikan tak adanya sedikit pun kegelapan di dalam surga, kemudian Allah SWT.

Mengumpulkan “Cahaya Neraka”, dan diciptakanlah siang darinya (dari cahaya neraka). Oleh karena itu, hal ini menjadikan tak adanya sedikit pun cahaya dalam neraka (adanya hanya gelap)”. (Tafsir Yasin, Syekh Hamami Zadah: 13)

Alasan lain yang mendukung alasan diatas adalah bahwa Mikraj (pendakian spiritual untuk berjumpa langsung dengan Allah) para nabi dilakukan pada malam hari:

وَاخْتَلَفُوا فِي اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ؛ أَيُّهُمَا أَفْضَلُ قَالَ بَعْضُهُمْ: قُدِّمَ اللَّيْلُ عَلَى النَّهَارِ لِأَنَّ اللَّيْلَ لِخِدْمَةِ الْمَوْلَىى وَالنَّهارَ لِخِدْمَةِ الْخَلْقِ وَمَعَارِجَ الْأَنْبِيَاءِ عَلَيْهِمِ السَّلَامُ كَانَتْ بِاللَّيْلِ وَلِذَا قَالَ الْاِمَامُ النَّيْسَابُورِيُّ اَللَّيْلُ أَفْضَلُ مِنَ النَّهَارِ

“Para ulama berbeda pendapat mengenai siang dan malam, ‘mana yang lebih utama ?’. Sebagian dari mereka menyatakan, ‘Malam didahulukan atas siang karena malam merupakan waktu berkhidmah kepada Allah, sedangkan siang untuk mahluk-Nya, disamping itu, Mikraj para nabi juga dilakukan pada malam hari. Atas dasar ini, maka menurut Imam An-Naisaburi malam itu lebih utama dari siang.” (Tafsir Ruh al-Bayan, Dar Ihya at-Turats al-‘Arabi, (4): 420).

Namun, ada juga pandangan berbeda yang menyatakan bahwa siang lebih utama daripada malam karena siang adalah tempat cahaya, sedang malam adalah tempat kegelapan. Mungkin yang dimaksud siang adalah simbol petunjuk (hidayah) sedang malam adalah simbol ketersesatan (dhalalah).

Namun terlepas dari perbedaan pandangan mengenai mana yang lebih utama dengan sudut pandang yang berbeda-beda, tetapi jelas perbedaan atau pergantian malam dan siang memiliki hikmah luar biasa. Hal ini sebagaimana Allah SWT tegaskan dalam salah satu firman-Nya:

إِنَّ فِى ٱخْتِلَٰفِ ٱلَّيْلِ وَٱلنَّهَارِ وَمَا خَلَقَ ٱللَّهُ فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ لَءَايَٰتٍ لِّقَوْمٍ يَتَّقُونَ

“Sesungguhnya pada pergantian malam dan siang, dan pada apa yang diciptakan Allah di langit dan di bumi, pasti terdapat tanda-tanda (kebesarannya-Nya) bagi orang-orang yang bertakwa,” (QS Yunus: 06).

Akhir kata; 

وإن تجد عيبا فسد الخللا   فجلّ من لا عيب فيه وعلا

Wallahu a’lamu bishshowab