KH. Idris Kamali Lalui Jalan Sunyi

0
250
KH. Idris Kamali
Kredit foto: dutaislam.com

Oleh: M. Luthfi Nanang Setiawan (Mahasiswa dan Penulis di justisia.com)

Belum banyak sejarah yang meriwayatkan kiai salaf asal Cirebon penerus estafet tradisi keilmuan KH. Hasyim Asy’ari, yaitu Kiai Idris Kamali. Lahir di Makkah pada 1887 dan wafat di Kempek Cirebon pada 1987. Ayahnya Kiai Abdul Jalil Kedongdong Cirebon, dikenal sebagai ulama ilmu falak dan qira’at asal Cirebon yang mengajar di Mekah. Ia satu generasi dengan Syekh Nawawi al-Bantani (1813-1897), Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi (1860-1916), dan Syekh Muhammad Mahfuzh at-Tarmasi (1842-1920).

Dedikasi keilmuan, keikhlasan dan pengorbanan spiritual banyak dihaturkan oleh beliau dalam rangka menyemarakkan semangat intelektual dan pengetahuan santrinya agar kelak setiap dari mereka menjadi rasul qoum daerah masing-masing. Tidak mengherankan, jika murid-murid jebolan dari menantu Hadrastussyaikh ini menjadi tokoh nasional dan terpandang.

Fokus kajian keagamaan KH. Idris Kamali adalah hadist dan ulum al-hadits. Latar belakang ini ditengarai ketika KH. Hasyim Asy’ari takjub dengan kealiman dan kuatnya hafalan beliau, serta tidak jarang disuruh menjadi badal qori’ pengajian kitab Shohih Bukhori Muslim di Masjid Tebuireng yang biasanya digelar selama ramadan. Hingga kemudian menjodohkannya dengan putri Hadratussyaikh, Nyai Azzah Hasyim.

Ikhlas Nyantri dan Mengabdi

Meski ulama besar nan sederhana itu telah 20 tahun mengajar kitab kepada para santri dan mengkader sejumlah santri di Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, namun nama Kiai Idris tidak cukup menasional dan belum begitu dikenal luas oleh khalayak luar.

Beliau menjadi salah satu ikon pesantren Tebuireng, selain karena menantu KH. Hasyim Asy’ari, juga kontribusi dan perannya dalam mendidik dan mengkader sejumlah santri yang kemudian menjadi tokoh ulama di tingkat nasional. Kiai Idris memang lebih suka memerankan dirinya sebagai tokoh di balik layar kemasyhuran Tebuireng pasca-Hadratussyaikh.

Pengembaraan Kiai Idris mencari ilmu setelah ngangsu kaweruh dengan Kiai Irfan Musa, Kaliwungu, Kendal diteruskan ke Pesantren Tebuireng di bawah asuhan KH. Hasyim Asy’ari. Pengetahuannya tentang ilmu hadis diperdalam di sana. Karena beliau tahu bahwa pendiri Pesantren Tebuireng dan pendiri Nahdlatul Ulama itu adalah seorang ahli hadis ternama.

Selama nyantri, Kiai Idris dikenal alim dan jenius dalam penguasaan kitab. Kitab-kitab dasar fiqih seperti al-Ghayah wa-t-Taqrib dan kitab ilmu nahwu seperti Mutammimah, sudah beliau hafal beserta penjelasannya.

Selain itu, beliau juga dikenal taat beribadah dan tekun melakukan riyadhah atau latihan spiritual tiap malam. Puasa hampir tiap hari. Dan sudah hafal al-Quran sejak usia 11 tahun. Tidak heran kalau kemudian beliau ia dipercaya sebagai asisten atau badal KH. Hasyim Asy’ari yang membantu mengajar ngaji kitab di pondok. (M. Qomarullah, 2019)

Pendidikan Masif Balik Tirai

Pada tahun 1940-an, Kiai Idris mengajar di beberapa pesantren di Jawa, dari Pekalongan, Pesantren Kaliwungu di Kendal hingga di Pesantren Kempek Cirebon. Kabarnya ini untuk menghindari kejaran polisi Belanda yang waktu itu sedang mencurigai beliau menghasut para santri dan masyarakat untuk melawan penjajah asing. Namun, selang beberapa waktu kemudian, beliau dipanggil kembali ke Tebuireng.

Maka, sejak tahun 1953, Kiai Idris pun untuk mengajar para santri. Ketika mengasuh pesantren dari tahun 1955, salah satu putra KH. Hasyim Asy’ari meminta Kiai Idris mengajar kitab-kitab kuning guna mempertahankan sistem salaf atau ngaji sorogan di Pesantren Tebuireng. Sehingga bobot Tebuireng saat itu identik dengan pengajian kitab yang dimotori oleh Kiai Idris bersama beberapa kiai lain.

Kiai Idris sendiri melihat bahwa Tebuireng mengalami langkah mundur dalam mencetak ulama mumpuni, seiring dengan diperkenalkanya sistem madrasah berjenjang: ibtidaiyah, tsanawiyah, aliyah. Namun demikian, ia menyadari bahwa dirinya tidak cukup mampu dan cukup berpengaruh untuk mengaktifkan kembali “kelas musyawarah” yang dulu diselenggarakan Hadratussyaikh.

Gus Dur memang pernah mengatakan bahwa kedudukan kyai di pesantren sebagai directur engineer, yakni sebagai pengasuh dan pemilik sekaligus (Abdullah, 2016). Tapi rupanya ini tidak berlaku bagi Kiai Idris. Meskipun dia menantu Hadratussyaikh, tetapi penguasaan pesantren sepenuhnya berada di tangan KH. Kholiq Hasyim.

Namun, dengan keterbatasan yang dimiliki Kiai Idris dan didorong rasa keprihatinannya, maka ia memusatkan pengajarannya kepada sekelompok santri pilihan yang didiknya sedemikian rupa sehingga dapat diharapkan menjadi ulama.

Jumlah mereka kurang lebih 20 orang. Untuk itu beliau membuat prasyarat dan kriteria yang cukup ketat. Pertama, harus tinggal di pesantren minimal tiga tahun. Kedua, memohon secara pribadi untuk menjadi santri Kiai Idris. Ketiga, sudah tamat madrasah tsanawiyah. Keempat, mempunyai kesungguhan dan prestasi luar biasa. Kelima, sudah hafal kitab dan pelajaran tingkat dasar. Keenam, harus patuh kepada sang kiai, terutama dalam menunaikan shalat jamaah lima waktu bersama beliau di masjid dan Ketujuh, harus menyatakan sumpah bahwa sang santri tetap bertahan untuk ngaji dan tidak akan meninggalkan, sampai sang guru sendiri menyatakan ngaji satu kitab sudah selesai.

Selain menggunakan metode sorogan dan wetonan, Kiai Idris juga menggunakan metode musyawarah atau semacam forum diskusi terfokus di antara para santri yang terbagi dalam beberapa kelompok. Metode ini dimaksudkan agar para santri lebih mudah memahami dan mendalami isi satu kitab.

Ternyata disiplin dan komitmen ngaji itu juga berlaku buat dirinya. Ia jarang meninggalkan tugas mengajar. Tidak pula sibuk mengurus organisasi atau partai di luar. Bahkan dalam situasi ada tamu terhormat pun (pejabat dari Jakarta hingga seorang presiden) yang berkunjung ke Tebuireng, sang kyai tidak pernah memberi libur kepada santrinya. (A. Prayogi, 2018)

Para santri hanya ingat pernah suatu kali di tahun 1963 pengajian kitab diliburkan gara-gara ada “tamu agung” datang dan hendak ia temui. Dan ternyata tamu agung itu adalah seorang ulama kharismatik dari Jakarta, Habib Ali Kwitang, yang sangat dihormati oleh Kiai Idris. Waktu itu Habib Ali datang ke Tebuireng untuk keperluan ziarah ke makam KH. Hasyim Asy’ari.

Diantara murid-murid beliau adalah KH. Aqiel Siradj (Cirebon), KH. Abdul Hayyie M. Naim (Cipete Jakarta), Prof. DR. KH. M. Tholhah Hasan MA (Malang), Prof. DR. KH. Mustofa Ali Yaqub, MA (Tangerang), Prof. DR. KH. Ma’ruf Amin, Prof. DR. HM. Djamaluddin Mirri, MA. (Surabaya), KH. Ishaq Latif (Tebuireng), KH. Syuhada Syarif (Jember), DR KH Mustain Syafi’i, MA, KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan masih banyak lainnya.

Spirit perjuangan dan semangat dedikasi beliau dalam mengawal pendidikan pesantren sangat lah bisa dijadikan uswah dan teladan bagi guru, kiai dan pengasuh pesantren zaman sekarang, tanpa melupakan etika dan mengurangi rasa hormat. Khususon kepada KH. Idris Kamali, al-Fatihah.