Gus Muwafiq Relasi Islam Nusantara dan Walisongo

0
903
Gus Muwafiq
kredit foto: jogja.suara.com

Semarang nujateng.com KH Ahmad Muwafiq (Gus Muwafiq) menjelaskan penyebaran agama Islam ketika masuk ke Nusantara. Dalam penyampaiannya, penyebaran Islam tidak terlepas dari peran Walisongo, namun seiring berkembangnya zaman banyak orang yang membuat definisi baru soal dakwah Walisongo sehingga mereka hanya dianggap sebagai legenda.

Gus Muwafiq menganggap hanya beberapa orang yang bisa mendefinisikan peran dan perjuangan Walisongo dalam menyebarkan agama Islam sehingga hal tersebut dianggap rumit akhirnya banyak orang mendefinisikan sendiri di Universitas Islam Negri (UIN) Walisongo Semarang, Rabu (31/3).

“Banyak orang tidak bisa mendefinisikan wali karena terminologinya sedemikian sulit. Maka akhirnya ada yang membuat definisi baru dengan terminologi baru,” kata Gus Muwafiq.

Pria asal Yogyakarta menjelaskan, dampak negatif dari penjelasan tersebut adalah munculnya pemahaman bahwa Walisongo hanya dongeng belaka bahkan semua kisah dan perjuanganya dianggap fiktif. Selain itu Gus Muwafiq menganggap ada kesalahan sejarah apabila pembawa agama Islam ke Nusantara adalah para saudagar.

“Salah satu contohnya adalah bahwa wali itu bukan bagian dari penyebar Islam tapi penyebar Islam adalah saudagar sehingga Walisongo itu terancam fiktif sehingga sebagian orang menganggap Walisongo itu tidak ada,” ungkapnya.

Walisongo itu tidak ada dan yang menyebarkan agama Islam adalah para saudagar maka umat Islam tidak akan banyak seperti sekarang ini. Alasannya karena agama Hindu memiliki struktur sosial yang kental yaitu soal kasta.

Kasta yang paling tinggi adalah Brahmana yaitu kelompok yang berhak membicarakan agama, sementara para pedagang atau saudagar menempati kasta ke tiga yaitu sudra. Oleh karena itu sangat tidak mungkin apabila kelompok sudra bisa membicarakan agama, sebab orang Hindu tidak menerima diajari agama oleh sudra.

“Dalam pikiran saya yang di Islamkan adalah orang Hindu. Orang Hindu itu punya spesifikasi yang unik karena punya kasta, kasta yang tertinggi adalah kasta brahmana yang berbicara soal agama, sementara para saudagar itu menempati kasta ke 3 jadi saudagar itu sekaya apapun ia tetep sudra dan sudra tidak boleh ngomong agama. Makanya menjadi sangat aneh apabila kalau penyebar Islam itu saudagar karena orang Hindu tidak mau kalau diajari sudra,” lanjut Gus Muwafiq

Gus Muwafiq berpesan kepada para mahasiswa untuk terus melanjutkan perjuangan walisongo dalam menyebarkan agama Islam yang damai, santun dan menyejukkan. Karena akhir-akhir ini banyak pemahaman yang menjauhkan dengan amalan Islam yang rahmatan lil alamin. Oleh karena itu demi menghidupkan sejarah ia berpesan untuk sering berziarah kepada Walisongo.

“Namun akhir-akhir memang jalur keagamaannya tidak dari wali tapi dari Wahabi ya pantas saja mereka tidak merasa memiliki wali tidak (melakukan) ziarah,” pungkasnya.Kiai Muda Nahdlatul Ulama (NU) sekaligus pendakwah kondang KH Ahmad Muwafiq (Gus Muwafiq) memberikan tausyiyah kebangsaan di Universitas Islam Negri (UIN) Walisongo Semarang, Rabu (31/3).

Ia menjelaskan sejarah singkat  penyebaran agama Islam ketika masuk ke Nusantara. Dalam penyampaiannya, penyebaran Islam tidak terlepas dari peran Walisongo, namun seiring berkembangnya zaman banyak orang yang membuat definisi baru soal dakwah Walisongo sehingga mereka hanya dianggap sebagai legenda.

Lebih lanjut, Gus Muwafiq menjelaskan, dampak negatif dari penjelasan tersebut adalah munculnya pemahaman bahwa Walisongo hanya dongeng belaka bahkan semua kisah dan perjuanganya dianggap fiktif. Selain itu Gus Muwafiq menganggap ada kesalahan sejarah apabila pembawa agama Islam ke Nusantara adalah para saudagar.

“Salah satu contohnya adalah bahwa wali itu bukan bagian dari penyebar Islam tapi penyebar Islam adalah saudagar sehingga Walisongo itu terancam fiktif sehingga sebagian orang menganggap Walisongo itu tidak ada,” ungkapnya.

Menurutnya apabila Walisongo itu tidak ada dan yang menyebarkan agama Islam adalah para saudagar maka umat Islam tidak akan banyak seperti sekarang ini. Alasannya karena agama Hindu memiliki struktur sosial yang kental yaitu soal kasta.

Kasta yang paling tinggi adalah Brahmana yaitu kelompok yang berhak membicarakan agama, sementara para pedagang atau saudagar menempati kasta ke tiga yaitu sudra. Oleh karena itu sangat tidak mungkin apabila kelompok sudra bisa membicarakan agama, sebab orang Hindu tidak menerima diajari agama oleh sudra.

“Dalam pikiran saya yang di Islamkan adalah orang Hindu. Orang Hindu itu punya spesifikasi yang unik karena punya kasta, kasta yang tertinggi adalah kasta brahmana yang berbicara soal agama, sementara para saudagar itu menempati kasta ke 3 jadi saudagar itu sekaya apapun ia tetep sudra dan sudra tidak boleh ngomong agama. Makanya menjadi sangat aneh apabila kalau penyebar Islam itu saudagar karena orang Hindu tidak mau kalau diajari sudra,” lanjut Gus Muwafiq.

Gus Muwafiq berpesan kepada para mahasiswa untuk terus melanjutkan perjuangan walisongo dalam menyebarkan agama Islam yang damai, santun dan menyejukkan. Karena akhir-akhir ini banyak pemahaman yang menjauhkan dengan amalan Islam yang rahmatan lil alamin. Oleh karena itu demi menghidupkan sejarah ia berpesan untuk sering berziarah kepada Walisongo.

“Namun akhir-akhir memang jalur keagamaannya tidak dari wali tapi dari Wahabi ya pantas saja mereka tidak merasa memiliki wali tidak (melakukan) ziarah,” pungkasnya. (SRC: NU Online Jateng)