Dua Model Kesombongan

0
1032
Dua Model Kesombongan
Kredit foto: Islam NU Online

Oleh : Taufik Damas (Wakil Katib Syuriah PWNU DKI Jakarta)

Ada orang sombong karena kekayaan, jabatan (kuasa) dan kepintaran. Kesombongan model ini bisa dimaklumi meski tentu agama tidak membenarkannya. Agama selalu mengajarkan sikap rendah hati meskipun kita memiliki kekayaan, jabatan dan atau kepintaran.

Namun, dalam kehidupan sehari-hari, tak jarang kita temui orang terjerumus pada sikap sombong karena memiliki hal-hal tersebut.

Jika saya memiliki kekayaan, jabatan dan atau kepintaran, sangat mungkin saya pun akan terjerumus menjadi orang yang sombong. Padahal, orang sering bilang, “semua itu tak akan dibawa mati.”

Sombong model ini mudah sekali kita temui. Hanya orang-orang yang selalu mawas diri yang bisa selamat dari kesombongan model ini.

Ada model kesombongan yang tidak dapat dimaklumi dan tidak masuk akal. Agama pun sangat membenci kesombongan ini, yaitu kesombongan merasa diri lebih suci dari orang lain; merasa diri lebih dekat dengan Allah dibanding orang lain; merasa diri lebih selamat di hadapan Allah dibanding orang lain; merasa diri bagian dari kelompok Allah dan sambil menuding orang lain sebagai bagian dari kelompok setan.

Sebagai santri, saya selalu ingat pesan guru-guru saya: jangan pernah merasa diri selamat dari siksa Allah. Bisa jadi kita tergelicir hingga kita masuk dalam kelompok yang dimurka oleh Allah.

Pesan inilah yang membuat saya selalu sadar bahwa diri ini pun belum tentu meninggal dunia dalam keadaan Husnul Khatimah, apatah lagi berkenaan dengan nasib saya di akhirat nanti. Sumpah, saya tidak tahu!

Nasib saya di akhirat sepenuhnya urusan Allah semata. Allah yang menentukan setiap manusia akan ditempatkan di mana di akhirat nanti.

Oleh sebab itu, setiap selesai mengaji, para guru sering mengajarkan doa sebagai berikut ini:

يا الله بها يا الله بها ياالله بحسن الخاتمة
“Ya Allah, berkat mereka; ya Allah, berkat mereka; akhirilah hidup kami dengan Husnul Khatimah.”

Doa yang maknanya sangat dalam: meski kita rajin ibadah dan mengaji, tetap kita sadar bahwa akhir hidup kita belum tentu dalam keadaan Husnul Khatimah, karena bisa saja kita mati dalam keadaan sebaliknya: Suul Khatimah.

Jalan terbaik adalah selalu merendahkan hati, selalu mawas diri, dan selalu berdoa kepada Allah agar kita mati dalam keadaan Husnul Khatimah. Siapa yang serius menyadari ini, tak mungkin ia terjerumus pada kesombongan model kedua tersebut.

Tulisan ini pertama kali terbit di utas Twitter