Asad Shahab, Penulis Pertama Biografi Hadratusyaikh Hasyim Asy’ari.

0
1103
Asad Shahab
Kredit foto: Detik.com

Oleh : Abdullah Fais (Mahasiswa dan Reporter NU Online)

nujateng.com Jurnalis berketurunan Arab Muhammad Asad Shahab merupakan tokoh perjuangan kemerdekaan Indonesia untuk negara-negara Islam di Timur Tengah. Kontribusi dan rekam perjuanganya belum terlalu banyak diperbincangkan oleh masyarakat Indonesia.

Sebagain sejarawan menyebutkan bahwa Asad adalah tokoh di balik kemerdekaan Indonesia untuk dunia. Melalui perantara tanganya dan kemahiranya dalam berbahasa Arab ia berhasil menyakinkan dunia khususnya di daerah Liga Arab untuk mendukung dan mengakui kemerdekaan Indonesia.

Penguasaan bahasa Arab yang baik, membawa Asad menulis beberapa naskah soal keindonesiaan yang dimuat dalam surat kabar di Timur Tengah. Sehingga kabar terkait pergerakan dan perjuangan anak bangsa bisa sampai di daerah Arab. Mesir adalah negara pertama yang mengakui proklamasi kemerdekaan Indonesia dan beberapa warga Indonesia di sana menerima berita kemerdekaan dari tim yang dibuat oleh Asad.

Selain Mesir, Lebanon juga mendukung penuh perjuangan para pahlawan untuk mewujudkan kemerdekaan. Melalui surat kabar itu masyarakat Mesir dapat melihat perjuangan Indonesia untuk mengusir penjajah dan berujung pengakuan kedaulatan oleh Mesir.

Keberhasilan Asad Shahab tentunya karena ada beberapa orang yang berpengaruh di belakangnya. Sebelumnya Asad pernah dikirim oleh ayahnya ke Pekalongan untuk menuntut ilmu kepada Sayyid Muhammad Hasyim seorang ulama dan sastrawan yang pertama kali mendirikan kantor surat kabar berbahasa Arab-Melayu.

Setelah mendapatkan pengalaman dan pembelajaran dari beliau kemudian Asad memulai karirnya untuk menekuni dunia jurnalistik dan sastra Arab. Kedua ilmu tersebut menjadi bekal utama Asad untuk mendirikan kantor berita Arabian Press Board (APB) dan juga yang mengantarkanya menjadi diplomat untuk negara-negara Arab

Kemerdekaan dan Proklamasi Berbahasa Arab

Sembilan belas hari selepas proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia tepatnya tanggal 2 September 1945. Asad bersama rekan-rekan wartawan lainya mendirikan kantor berita berbahasa Arab. Asad menjadikan bahasa Arab tidak hanya sebagai diplomasi pers dalam perjuangan dekolonisasi, namun ia juga menggunakan untuk mengenalkan Indonesia sebagai bangsa yang memiliki sejarah panjang dan diketahui oleh masyarakat internasional. Terutama masyarakat yang berada di jazirah Arab seperti Suriah, Mesir, Lebanon, Yaman, dan Arab Saudi.

Ide mendirikan kantor berita berbahasa Arab tersebut berangkat dari maklumat yang disampaikan Presiden Soekarno untuk menjalin hubungan internasional semaksimal mungkin guna menjalin semangat dan dukungan masyarakat dunia. Beberapa naskah tulisannya kemudian dibukukan menjadi sebuah buku yang menjadi rujukan sejarah Indonesia di Timur Tengah.

Di antaranya Shafahāt min Tārīkh Indūnisīyā (Lembar-lembar Sejarah Indonesia) penguasaan bahasa Arab dan kemahiran jurnalistik ia berhasil memikat para pembaca di Timur Tengah untuk terus mengikuti kabar terbarunya.

Dalam buku tersebut juga terdapat naskah proklamasi versi bahasa Arab yang ditandatangani Soekarno dan Moh. Hatta. Lima Negara pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia yaitu Mesir, Suriah, Libanon, Yaman, dan Arab Saudi tidak terlepas dari jerih payah tangan dan pikiran Muhammad Asad Shahab.

وثيقة اعلان الاستقلال نحن الشعب الاندونيسي نعلن بهذا استقلال إندونيسيا سيتم تنفيذ الامور المتعلقة بتحويل السيادة وغيرها بحكمة وفي اسرع وقت باسم الشعب الاندونيسي

توقيع سوكرنو و محمد حتي

“Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia.

Hal-hal jang mengenai pemindahan kekuasaan d.l.l., diselenggarakan

dengan cara saksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.”

Jakarta, hari 17 bulan 8 tahun 05

Atas nama bangsa Indonesia.

Soekarno/Hatta.

Dalam bab proklamsi Asad menjelaskan tentang detik detik soekarno mendeklarasikan kemerdekan Indonesia. Sedikit saya kutip, bahwa jepang setelah menduduki Indonesia sejak awal perang dunia dua dan mengakhirinya pada tanggal 14 Agustus 1945 M. kemudian tanggal 15 para pimpinan Indonesia berkumpul dan berdiskusi di Jakarta, namun dalam musyawarah ini sama sekali tidak menghasilkan titik temu, sehingga forum ini terbelah menjadi dua. Pertama, mendesak Soekarno untuk segera mendeklarasikan kemerdekaan sekarang juga. Kedua, meminta menunggu sampai jelas bahwa perang sudah selesai.

وكانت اليابان احتلت اندونيسيا في بداية الحرب العالمية الثانية قد استسلمت الخلفاء في يوم ١٤ اغسطس ١٩٤٥.وفي يوم ١٥ اغسطس اجتمع اهل الحل والعقد من زعماء اندونيسيا في جاكرتا وتباحثوا في الموضع. وجري نقاش حاد عجز المجتمعون خلاله عن الوصول الي اتفاق وانقسموا الي الفرقين، فريق يدعو الي اعلان الاستقلال حالا، وفريق يدعو الي التريث وانتظار ما ينجلي عنه الموقف الحاضر بعد انتهاء الحرب

Penulis Pertama Biografi KH. Hasyim Asyari

Asad Shahab selain dikenal sebagai pendiri kantor berita dan jurnalis ia juga dikenal dengan penulis biografi para ulama nusantara. Nabiel A. Karim Hayaze, peneliti Menara Center – Lembaga Riset Keturunan Arab menjelaskan bahwa orang yang pertama kali menulis biografi pendiri Nahdlatul Ulama Hadratussyaikh Hasyim Asyari adalah Asad Shahab. Ia menuliskan dalam bahasa Arab kemudian diterbitkan di Lebanon.

Perjuanganya menjadi jurnalis sebenarnya sudah sejak tahun 1930 an sebelum mendirikan APB oleh karena itu ia memiliki jaringan yang sangat luas hingga pada akhirnya berhasil menghadap KH. Hasyim Asyari di Tebuireng dan mewawancarinya. Karya biografi ini kemudian diterjemahkan dalam bahasa Indonesia oleh Nabiel A. Karim Hayaze.

Keterangan ini dibenarkan oleh cendekiawan dan intelektual muslim Jalaludin Rahmat terkait kiprah perjuangan Asad Shahab sebagai juru catat untuk menuliskan beberapa pergerakan Islam masuk ke Nusantara dan perjuangan masyarakat Indonesia.

Naskah biografi KH. Hasyim Asyari disimpan oleh putranya sampai sekarang. Naskah-naskah ini kemudian disebarluaskan setelah perjuanganya mendirikan kantor berita berbahasa Arab berhasil, kemudian ia langsung mengabarkan proklamasi kemerdekaan Indonesia keseluruh negeri Timur Tengah, pemberitaan yang mudah dimengerti dan berkesinambungan ternyata memudahkan masyarakat Arab untuk terus mengikuti perkembangan perjuangan Indonesia dalam mengawal kemerdekaannya.