30 Maret, Kelahiran Muhammad al-Fatih Kesultanan Turki Utsmani

0
740
30 Maret Kelahiran Muhammad al-Fatih
Lukisan Sultan Muhammad al-Fatih. Kredit : IST

nujateng.com 30 Maret 1432 pahlawan bersejarah dalam Islam bernama Muhammad al-Fatih dilahirkan. Di usia seperempat abad mampu membawa pasukannya menjadi penakluk Konstantinopel di Romawi Timur. Sosok Sultan Mehmed II dianugerahi kejeniusan dan keberaniannya bisa menjadi pemimpin kerajaan kala itu.

Muhammad Al Fatih memiliki nama asli Sultan Mehmed II. Kehadirannya menjadi jawaban dari janji Allah SWT kepada Rasulullah yang tertera pada pada hadis berikut ini:

“Kota Konstantinopel akan jatuh ke tangan Islam. Pemimpin yang menaklukkannya adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukan yang berada di bawah komandonya adalah sebaik-baik pasukan.” (HR Ahmad bin Hanval Al Musnad).

Pria kelahiran 589 tahun silam merupakan penguasa yang terkenal dari Kesultanan Turki Utsmani. Familiar disebut Turki Ottoman berupa kepemimpinannya sudah diberitakan sejak zaman Nabi Muhammad SAW.

Konstantinopel yang berhasil ia taklukkan menjadi salah satu capaian dalam kepemimpinannya. Seperti apa sepak terjangnnya? Yuk simak ulasan nujateng.com

Kelahiran Sang Penakluk

Buku berjudul The Great of Shalahuddin al-Ayyubi & al-Fatih karya Rizem Alzid menjelaskan asal mula julukan Sang Penakluk pasca penaklukkan Konstantinopel. Selain itu, ia juga dijuluki al-Fatih, Abi al-Futuh dan Abi al-Khairat. ia dilahirkan dari pasangan Sultan Muradi II dan Huma Hatum merupakan trah dari Dinasti Turki Utsmani bernama asli Muhammad II.

Aura Kepemimpinan Sejak Dini

Syekh Ahmad ibn Ismail al Kurani menjadi guru yang ditunjuk oleh ayah Muhammad al-Fatih. Gurunya merupakan sosok ulama yang ahli Alquran. Tak dipungkiri, al-Fatih sejak dini telah  menghafalkan Alquran 30 Juz. Tak sekadar hafal kitab suci, pelajaran hadis-hadis, ilmu fiqih, matematika, ilmu falaq, hingga strategi perang ia lahap. Kepemimpinan yang tumbuh dan terus diasah sedari dini dalam bimbingan para ulama.

Kesuksesnnya dalam jangka 50 hari untuk menaklukkan Konstantinopel melalui Selat Golden Horn dengan kapal-kapal mereka melalui perbukitan Galata yang menjadi titik terlemah Konstantinopel kala itu. Usahanya sempat diragukan namun Sultan Mehmed II tetap bertekad kuat untuk menerapkan strateginya dan keberhasilan diraih oleh Kesultanan Turki Utsmani.

Tirakat al-Fatih pra perang melakukan puasa pada siang hari dan sholat tahajud pada malam harinya. Ini membuktikan bahwa Sultan Mehmed II menggantungkan kemenangan kepada Allah SWT.

Keberhasilan pasukannya berupa menyeberangkan 70 kapal laut melewati hutan yang ditumbuhi pohon pohon besar. Buahnya, Muhammad Al Fatih berhasil menaklukkan Konstantinopel. Peristiwa bersejarah inilah kemudian menghantarakan julukan Sultan Muhammad Al Fatih alias “Sang Penakluk”.

Tutup Usia dan Pesan Terakhir

Kegigihan Muhammad Al Fatih tercermin saat sedang jatuh sakit tetap melakukan upaya untuk berjihad. Kesehatan justru semakin memburuk upaya untuk mengobati pun tak mampu menyelamatkannya. Hingga 3 Mei 1481 M atau 4 Rabiul Awal tahun 86 Hijriah ia harus pulang ke rahmatullah.  Pesan Muhammad Al Fatih kepada Sultan Bayazid II yang masih terkenang hinggi kini. Pemimpin agar dekat dengan ulama berbuat adil terhadap rakyat. Perkara harta, pesannya agar tertipu dengan dunia. Al-Fatih juga berpesan agara selalu menjaga agama untuk pribadi, masyarakat, serta kerajaan. (Rais)