Kontribusi Santri Generasi 4.0 dalam Hukum Islam

0
3245

Surakarta, nujateng.com- Pusat Studi Konstitusi dan Hukum Islam (PUSKOHIS) IAIN Surakarta mengadakan seminar nasional dengan tema Kontribusi Santri Generasi 4.0 Dalam Pemikiran Hukum di Indonesia, yang dilaksanakan secara virtual, belum lama ini.

Seminar tersebut menghadirkan 3 pembicara, yiatu, kepala Unit Bima IAIN Surakarta, Ust. Ashif Fuadi M.Hum, pengurus  HIMASAL (Himpunan Santri Lirboyo), Kyai Moch Zainal Abidin, S. Kom. I dan Ketua Qonuniyah Lembaga Bathsul Masail Nahdhatul Ulama, Ust. Rifan Adi Nugroho, S.H.

Menurut Ust. Ashif Fuadi, sebagaimana disampaikan dalam seminar, mengatakan pesantren dalam partisipasi penetapan peraturan perundang-undangan. Dikupas secara lengkap mulai dari sejarah santri mulai dari huruf sin  atau Satrul al-awroh yang berarti menutup aurat, nun atau Na’ibul ulama yang berarti wakil dari ulama, hingga ta’ atau tarkul al-ma’ashi yang berarti meninggalkan maksiat. Tidak disangka bahwa sedetail itu hanya kata santri bisa dikupas sedemikian rupa.

“Pesantren pasti identik dengan asrama, masjid, kitab kuning, santri, dan kyai,”terangnya.

Lebih lanjut, peran-peran santri dimasa 4.0. berbeda dengan jaman dahulu pesantren dikenal hanya untuk kegiatan peribadatan dan mengaji saja, namun peran santri saat ini bisa jadi sebagai politisi, birokrat, bintang film, penyanyi, TNI, diplomat bahkan santri saat ini juga dapat menjadi Presiden dan Wakil Presiden seperti K.H Ma’ruf Amin.

“Dalam moderasi beragama santri juga berperan sebagai contoh kemuliaan akhlak dan menjadi jalan tengah jika ada suatu perselisihan,”jelasnya.

Pemateri lain, Kyai Moch Zainal Abidin menyampaikan, sedikit sejarah mengenai pondok pesantren Lirboyo di Kediri yang mana pesantren tersebut merupakan pondok salafiyah.

“Pondok merupakan tempat melatih santri untuk belajar mandiri lepas dengan orang tua, pondok juga memiliki peraturan yang digunakan untuk menentukan kegiatan santri, santri pondok secara tidak langsung memiliki kesadaran hukum yang dimana ini termasuk salah satu peran santri dalam menentukan hukum Islam,”jelasnya.

Menurutnya, pondok merupakan miniatur masyarakat. Salah satu contohnya Lirboyo dengan cirikhas yang kental sejak dulu sangat tertib dalam menaati peraturannya. Mulai cerita dilarang untuk membawa radio/kaset kedalam pesantren kini Lirboyo  sudah beralih kebijakan dalam menggunakan teknologi untuk mengikuti perkembangan jaman dan tidak ketinggalan arus.

Sementara itu, Rifan Adi Nugroho, yang juga merupakan advokat mengatakan, melawan seorang penjajah merupakan fardhu ‘ain. Jelas kalimat ini merupakan kesadaran seorang santri jaman dulu yang memang sangat berperan penting dalam melawan penjajah.

“Santri juga merekonstruksi adanya hukum-hukum yang ada di Indonesia,”tandasnya. (003)