Karakter Wasathiyah Islam Nusantara

1
7862

Muhamad Nasrudin

Dosen Fakultas Syariah IAIN Metro

Pada artikel sebelumnya tampak jelas bahwa Islam Nusantara memiliki karakter yang penuh senyum, santun, damai, teduh, dan akomodatif terhadap lokalitas. Karakter ini tidak lepas dari basis ideologi ahlussunnah wal jamaah yang dianut mayoritas warga di Nusantara.

Ahlussunnah wal jamaah atau aswaja sendiri memiliki karakter tawazun (seimbang), tawasuth (moderat), i’tidal (tegak lurus), dan tasamuh (toleran) yang khas. Nah, dalam titik ini tawasuth atau moderat menjadi salah satu karakter penting dalam jejak langkah Islam Nusantara. Maka pertanyaannya kemudian adalah, bagaimana implementasi corak moderat Islam Nusantara dan Aswaja dalam alam pikiran umat Islam di Nusantara? Yuk kita jelajahi bersama.

Pertama, moderat diantara teks dan konteks. Islam Nusantara berpedoman teguh kepada teks suci, dalam hal ini Al-Quran dan Al-Hadits. Namun demikian, dalam memahami teks, Islam Nusantara tidak terkunci mati pada bunyi literal teks tersebut. Dalam menghidupkan teks, Islam Nusantara mendialogkan teks dengan konteks, sehingga pemahaman menjadi sangat komprehensif dan lentur. Namun demikian, Islam Nusantara tidak terlalu memberatkan konteks sehingga lepas dari teksnya.

Kedua, Islam Nusantara mengambil jalan tengah antara akal dan wahyu. Dalam konteks ini, Islam Nusantara berpedoman kepada wahyu, tetapi memahaminya dengan mendialektikakan dengan akal. Sikap ini didasari pemahaman bahwa teks wahyu sudah final. Teks adalah benda mati yang tidak akan bertambah lagi. Jumlah ayat Al-Quran tak akan bertambah, demikian juga jumlah hadis, kecuali hadis palsu.

Karena teks wahyu itu benda mati, ia hanya akan menjadi hidup jika ia dihidupkan oleh akal. Maka akal harus diberi porsi untuk memahami wahyu. Namun demikian, Islam Nusantara tidak mendewakan akal. Karena jika akal terlalu dominan, maka teks berpotensi untuk dilampaui dan bahkan diabaikan. Sementara itu, teks wahyu adalah salah satu sumber primer dalam ajaran Islam yang tidak mungkin diabaikan.

Ketiga, dalam konteks sosial ekonomi, Islam Nusantara mengambil jalan tengah antara sosialisme-komunisme dengan liberalisme. Sosialisme-komunisme menawarkan masyarakat tanpa kelas dan nyaris tanpa hak penguasaan terhadap faktor-faktor produksi karena sudah dikuasai oleh negara. Sementara itu, liberalisme menganjurkan hak milik individu yang sangat luas sehingga berpotensi menimbulkan akumulasi kapital yang rentan akan ketimpangan, ketidakadilan, dan penindasan. Islam Nusantara mengakui hak-hak dasar individu sekaligus menghormati hak-hak komunitas.

Keempat, dalam konteks sosial-politik, Islam Nusantara mengambil titik tengah antara ashabiyah dan islamisme. Ashabiyah adalah paham chauvisnisme yang terlalu mengagungkan kelompok, suku, klan, etnisnya dan merendahkan kelompok lain. Sementara itu, islamisme menganjurkan paham kesatuan masyarakat muslim dalam satu naungan entitas politik yang sama, yang tentu saja akan menolak nasionalisme, negara-bangsa, dan apalagi chauvisnisme.

Berada di tengah-tengah, Islam Nusantara menghormati tanah air sebagai manifestasi takdir Tuhan. Islam Nusantara mencintai tanah air sebagai fitrah kemanusiaan, sebagaimana Nabi Muhammad Saw yang mencintai Makah dan Madinah sebagai tanah airnya.

Islam Nusantara menyatukan api Islam dengan kecintaan kepada tanah air. Bahwa mencintai tanah air itu sebagai bagian dari iman. Mencintai tanah air adalah wujud cinta kepada qadha dan qadar Allah swt yang telah menaikan kita terlahir sebagai bangsa Indonesia, bertanah air Indonesia.

Maka Islam Nusantara sangat mudah menerima negara-bangsa NKRI sebagai bagian dari cara menjalani kehidupan berbangsa dan bernegara, tanpa berambisi mendirikan negara Islam, baik dalam bentuk khilafahisme atau islamisme. Inilah di antara watak wasatiyah Islam Nusantara atau moderasi beragama Islam yang menjadi karakter Islam Nusantara.

1 COMMENT

Comments are closed.