Islam Nusantara dan Karakteristiknya

0
3620

Muhamad Nasrudin

Dosen Fakultas Syariah IAIN Metro

Catatan ini melanjutkan catatan kemarin bahwa Islam Nusantara adalah khashaais atau corak keberagamaan Islam yang dipeluk oleh masyarakat yang tinggal di wilayah Nusantara dengan segala pola uniknya.  Lalu apa saja karakternya? Mari kita simak.

Karakter ini tentu saja tidak lepas dari sejarah panjang proses masuk dan berkembangnya Islam di Nusantara dan bagaimana Islam berdialektika dengan realitas di tanah air. Pertama, Islam di Nusantara masuk tidak melalui jalan kekerasan. Berbeda dengan wilayah lain, sebut saja Spanyol, Mesir, dan tempat-tempat lain dimana Islam hadir dengan pedang, Islam di Nusantara masuk dengan cara damai. Cara yang damai ini memberikan corak dominan bagi karakter Islam di Nusantara.

Kedua, Islam masuk dan berkembang di Nusantara dengan mengembangkan dialektika yang bersifat akomodatif terhadap konteks lokal, alih-alih konfrontatif. Dengan bahasa lain, Islam di Nusantara hadir tidak dengan mengganti sistem sosial, etika, nilai, politik, ekonomi, dan budaya yang sudah ada. Segala sistem yang sudah ada dibiarkan berjalan. Islam hanya memberikan spirit bagi sistem-sistem tersebut.

Ketiga, dalam konteks politik, Islam hadir di Nusantara tidak untuk menghancurkan dan merombak sistem dan struktur politik yang ada. Berbeda dengan Islam di Spanyol dan India, misalnya. Di sana, Islam hadir dengan menghancurkan kerajaan lama dan mengganti dengan sistem kenegaraan yang baru. Sementara itu, di Indonesia sistem kerajaan masih tetap ada, beserta jajarannya hingga tingkat tingkat terbawah di masyarakat.

Keempat, dalam konteks sosial dan terutama relasinya dengan agama lain, Islam di Nusantara tidak memosisikan agama lain sebagai lawan yang harus dibasmi dan dihabisi. Sebaliknya, agama lain adalah pilihan bagi sesama masyarakat, dan mereka diposisikan sebagai rekan bersama dalam menjalani kehidupan bersama bermasyarakat.

Kelima, Islam yang hadir di Nusantara memiliki komposisi yang seimbang antara Islam, iman, dan ihsan. Walisongo berhasil menanamkan keseimbangan ini dalam sanubari masyarakat Nusantara sehingga masyarakat muslim Nusantara cenderung lebih tenang, santun, kalem, tapi “dalam” ketika menginsafi ajaran agamanya.

Keenam, kedalaman dalam menginsyafi agama Islam di Nusantara ini kemudian tampak dalam semangat Islam yang santun, ramah, teduh, dan penuh kedamaian. Visi Ahlussunnah wal jamaah sebagai paham keislaman mayoritas di Nusantara yang relatif “tidak memiliki musuh selain hawa nafsu” turut berkontribusi atas corak ini.

Ketujuh, kelengkapan pengetahuan Islam yang diinsafi oleh para wali pembawa ajaran Islam di Nusantara mampu menjadi instrumen yang kuat dalam mendialektikakan antara teks dan konteks secara seimbang (tawazun), di tengah-tengah (tawasuth), dengan tetap konsisten (i’tidal) dalam visi rahmatan lilalamin.

Kedelapan, visi ini kemudian membawa semangat wasathiyah Islam (moderasi beragama). Di mana umat Islam di Nusantara mampu beragama secara kuat, dalam, dan mampu hadir dalam garis tengah.

Lalu bagaimana wasathiyah Islam menjadi corak Islam Nusantara, terutama dalam era kontemporer? Kita bahas di artikel selanjutnya ya…..