Gus Dur dan Ide Islam Rahmatan Lil’alamin

0
956

Oleh: Irdia Azidar (Anggota IPNU Rowosari)

nujateng.com Fenomena yang sekarang terjadi di masyarakat adalah menguatnya gerakan Islam radikal, dan pada gilirannya mengafirmasi praktik-praktik terorisme atas nama agama. Ini menjadi keprihatinan tersendiri bagi entitas-entitas umat Islam di Indonesia lebih khusus masyarakat Nahdliyin.

Secara garis besar Islam di Indonesia menjadi dipertanyakan dalam posisinya terhadap kekerasan atas nama agama dan praktik-praktik politik berkedok agama yang secara prinsip bertentangan dengan demokrasi dan hak asasi manusia yang dijunjung tinggi oleh bangsa Indonesia.

Gus Dur sering menegaskan dalam berbagai kesempatan bahwa Islam di Indonesa adalah Islam yang Rahmatan Lil’alamin atau Islam yang damai. Islam yang dibawa dan disebarkan oleh Walisongo dan diteruskan oleh ulama-ulama Ahlussunnah Wal Jamaah bukanlah Islam yang menjunjung tradisi radikal, ekstrem, dan penuh kekerasan.

Islam yang hidup dan bekembang di lingkungan warga nahdliyin adalah Islam yang menolak bentuk diskriminasi, kekerasan dan terorisme.

Begitulah sebenarnya Islam sekaligus sejarah Islam Indonesia yang selalu ditampilkan Gus Dur dengan wajah Islam yang memberi rahmat bagi seluruh alam. Posisi ideologi dengan perspektif teologis yang kental ini selaras dengan gagasan cerdas pendiri Indonesia yang merumuskan Pancasila sebagai dasar negara.

Gus Dur percaya dalam hal ‘perjuangan keagamaan’ membesarkan agama bukan berarti harus mengkerdilkan agama orang lain. Demikian pula upaya untuk menjunjung tinggi agama, tidak harus dilakukan dengan menindas agama orang lain. Islam moderat, inklusif, dan toleran yang diusung Gus Dur ini sama sekali tidak mengesampingkan agama, justru meluhurkannya. Dengan Islam yang damai dan Rahmatan Lil’alamin Gus Dur menjadi pelindung dan pengikat berbagai agama dan keyakinan. Dan di sinilah terlihat betapa luhurnya ajaran Islam di Indonesia. [SRC: PCNU Kendal/Ed:011]

Referensi: Dhakiri M. Hanif, 41 Warisan Kebesaran Gus Dur, Yogyakarta; LkiS, 2010