Gus Baha: Melakukan Makruh, Bagi Nabi Muhamad Wajib

0
1412
KH. Ahmad Bahauddin Nursalim
kredit ilustrator: Haidar Latif

nujateng.com Orang Islam mendengar Nabi Muhammad SAW lupa itu berkali-kali. Lawong, Nabi pernah salat Zuhur dua rakaat terus selesai. Orang Islam (waktu itu) tidak ada yang berubah imannya:

“Gimana ini, sih. Nabi kok bisa lupa? Diikuti beneran, kok?

Saya tidak ada yang berani menegur, Zul Yadain yang menegur pintu keluar lalu berbicara:

Kanjeng Nabi, ini salat model baru atau jenengan (Nabi) sedang lupa?”

Kalau model baru, berarti salah Zuhur besok sudah dua rakaat karena nasikh-mansukh itu mengikuti (syariat yang datangnya belakangan. Lalu nabi bertanya :

“Ah. Masak?!”

Kemudian Nabi kembali ke tempat imam, dan menghadap kepada Sahabat yang hadir:

“Apakah benar yang dikatakan Zul Yadain?”

“Betul, Nabi. Jenengan (Nabi) salah Zuhur Cuma dua rakaat,” tutur sahabat.

Nabi tetap tenang, kemudian takbir lagi serta menambahkan dua rakaat, lalu salam. Kalau melihat peristiwa ini orang Fikih jadi bingung dan menjadi bahan saling bantah-membantah. Namun tidak ada masalah, sebab dari dulu Nabi Muhammad selalu disifati sebagai “manusiawi” (manusia pada umumnya).  Nabi tidak bermasalah dengan sifat lupa, yang tidak boleh lupa itu Alloh SWT.  Jadi pengetahuan seperti ini perlu diketahui, karena Nabi Muhammad SAW itu menikah dan pernah lupa juga.  Makanya Nabi bersabda:

“Aku ini tidak pernah lupa, tapi (kadang diberi lupa biar jadi (syariat) Sunnah”

Pernah kejadian, Nabi bertanya kepada Aisyah di pagi hari :

“Ada sarapan?”

“Tidak”

“Yasudah, aku (Nabi) puasa saja”

Pernah pula kejadian sekitar jam 10 Nabi bertanya kepada Aisya:

“Ada sarapan?”

“Ada”

“Yasudah, saya (Nabi) makan saja (tidak puasa”

Repotnya kalau dipikir perilaku Nabi dengan cara orang sini, dapat memicu komentar

“Nabi, kok ndak konsisten!”

Perkara demikian jika dilihat dari orang-orang Khawarij yang membayangkan  N­­abi Muhammad SAW selalu salat Qabliyah dan Bakdiyah. Kalau Nabi tidak salat, mereka kecewa. Anggapan demikian  bisa menimbulkan komentar terhadap Kiai yang tidak melakukan salat Qabliyah dan Bakdiyah. Bagi Gus Baha, orang yang memiliki pemahaman amatir.

Salat Sunnah

Orang mau salat (sunnah), tinggal melakukan saja. Tak ada salat (sunnah) ya silahkan, Lha wong, salat Qabliyah dan Bakdiyah hukumnnya sunnah. Pengetahuan orang alim itu salat (sunnahnya) kadang-kaddang. Kalau salah sunnah terus-menerus tidak ada non-Muslim masuk Islam. Lihat salat saja, mereka (non-Muslim) mereka sudah meriang.

Misalnya, orang muslim sedunia salat Qabliyah dan Bakdiyah semua, Zuhur 8 rakaat, Ashat 2 rakaat, Awwabin, Witir 13 rakaat, dan  subuh 2 rakaat. Total keseluruhan solat sunnah sebanyak 28 rakaat. Misal seluruh umat muslim sedunia melakukannya, non-Muslim ngelihatnya langsung enggan masuk Islam karena ibadah banyak sekali.  Namun berkah menjadi orang Islam hanya dibebankan hal-hal yang fardlu saja, sehingga mikir

“Ternyata ringan menjadi muslim itu”. Begitulah Allah menciptakan Islam, yang banyak dipeluk karena praktik ibadahnya mudah.

Kegiatan-kegiatan saban hari umat muslim jika hanya wiridan semua habis salat Zuhur, lalu Ashar dan wiridan hingga Maghrib hingga bertemu salat Isya. Jika ada orang ingin masuk islam langsung mengurungkan niatnya karena melihat ibadahnya yang padat bahkan bisa meriang.

“Waduh, ndak bisa beraktifitas,”

Merujuk pada pendapat Imam Syafii, jika ibadah Sunnah yang ingin kau lakukan tinggal dipraktikkan saja. Jika kebanyakan orang sudah melakukan sunnah itu, kamu ndak usah ikut-ikutan. Kalau sudah tidak ada yang melakukan sunnah tadi, baru kamu menunaikannya kembali. Begitulah tugasnya orang alim.

Merujuk pendapat Imam Nawawi dalam Kitab Majmu berkata: Nabi kalau tawaf itu naik unta, padahal nabi bilang tawaf dengan menaiki unta itu makruh. Hal ini menunjukkan kalau tawaf dengan menaiki unta itu boleh, namun makruh. Sementara saat Nabi menaiki unta menjadi perkara wajib karena, sedang menjelaskan perakara tersebut diperbolehkan.

Jadi, Nabi Muhammad melakukan hal makruh itu wajib agar menjadi hukum hal makruh tidak wajib (bagi umat muslim). [ed:011]

Artikel ini mengambil sari dari ceramah KH. Ahmad Bahauddin Nur Salim di channel Santri Gayeng berjudul “Gus Baha: Salat Jangan Kelamaan, Bisa Merusak Islam!