Cerita Gus Baha Tentang Imam Salat yang Terlalu Lama

0
3897
KH. Ahmad Bahauddin Nursalim
kredit ilustrator: Haidar Latif

nujateng.com Resiko menjadi Nabi itu berat dan aturannya sudah begitu, ndak bisa diprotes. Bayangkan jika Nabi melakukan seluruh sunah lalu diikuti oleh ulama melakukan hal yang sama. Umat muslim pun melakukan sunah, kalau dilihat non-muslim dan masuk Islam jadi berpikir ulang. Setiap masuk masjid, harus melakukan (salat) Qabliyah dilanjut Bakdiyah beserta membaca wiridan macam-macam. Ibadah tersebut membuat orang yang ingin masuk Islam jadi mikir:

“Waduh, selesainya kapan ini?”

Orang alim dijadikan jimat supaya menjadi  pengingat kalau Islam itu gampang. Tak hanya urusan salat Qabliyah dan Bakdiyah ansich.  Melakukan solat sunah tidak terlalu sering juga sebagai pengingat bagi diri sendiri.

Seyogyanya Allah tidak ingin menyusahkanmu (umat), dan ingin memudahkanmu. Riwayatnya, sahabat Nabi yang menjadi iman salat terlalu lama. Laut, Sahabat lain yang mufaroqoh (berpisah) karena salatnya terlalu lama karena  beresiko terhadap unta yang sedang ia urus. Sahabat itu kemudian mengadu kepada Nabi:

“Rasulullah, saya ini mufaroqoh (berpisah) dengan imam karena salatnya terlalu lama. Saya dimarahi, dan dianggap munafik,” ucapnya.

Sahabat yang kala itu menjadi imam bernama Mu’adz, mendapat teguran dari Kanjeng Nabi.

“Kamu itu kalau salat jangan kelamaan, bisa merusak Islam!. Orang akhirnya tidak menyukai salat disebabkan salatmu terlalu lama,” tuturnya.

Berkah Salat Tidak Terlalu Lama

Berkah dari hadis tersebut, saat orang menjadi imam memilih surat Qulhu (Al-Ikhlas). Alasannya, khawatir ditegur Nabi, sebagaimana dialami Sahabat Mu’adz menjadi iman terlalu lama. Teguran keras Nabi Muhammad SAW terhaap Sahabat Mu’adz itu agar tidak membaca  surat al-Baqarah diganti surat  Sabbihis (al-A’ala). Namun, hadisnya diplesetkan jangan sabbihisma (al-A’la) pilih saja surat Qulhu. Sebab saat Sahabat Mua’dz menjadi imam kala itu, membaca surat al-Baqarah di rakaat pertama dan al-Maidah di rakaat kedua. Jadi bisa mengerti nasib ma’mun salat kala itu?

Walhasil, yang diterima hari ini rakaat pertama Qulhu (al-Ikhlas), kedua Inna a’thaina (al-Asr). Bagi Gus Baha, dengan keadaan demikian memberikan sinyal bahwa Islam jangan sampai jadi masalah. Dampaknya sahabat yang hidup di masa Tabi’in yang dijelaskan oleh Kitab Bukhori, saat iqomat dikumandangkan justru tuan yang memiliki untuk kabur mengejar hewan miliknya.

 Takbiratul ihram tak jadi, malah untanya ia kejar. Padahal statusnya, Sahabat bukan Tabi’in, lho. Beruntung, hewan miliknya bisa ia raih, dan kembali ke masjid untuk melakukan salat yang tertunda alias makmum masbuq.

Timbulah komentar dari Tabi’in :

“Lihatlah orang tua ini, amat mencintai dunia . Dia hidup di masa Nabi, namun lebih mendahulukan unta ketimbang takbiratul ihram (salat),” ucap Tabi’in. Mendapatkan komentar demikian, orang tua itu menangis dan berucap :

“Aku (melakukan ini) di masa Nabi tak pernah jadi masalah. Kok, di masa Tabi’in jadi masalah?,”

Hal yang melatarbelakangi Sahabat menangis ialah di masa Nabi Muhammad, Islam itu gampang. Ada orang yang mengurus unta, dsb. Heranya, semakin ke sini, Islam kok jadi merepotkan. Lalu dia berucap :

“Aku (sahabat) sudah tua, kalau untaku hilang. Bagaimana cara pulangku?,”

Gus Baha lalu mengajukan pertanyaan: Bagaimana jika salat dainggap sumber masalah hilangnya unta, lalu salatnya dianggap sumber masalah? Lalu, ingatan keluarganya pada peristiwa kehilangan unta yang disebabkan salat. Akhirnya, salat menjadi tersangka dan masalah baru akan muncul.

Gus Baha kembali bertanya: Kamu rida, jika salat jadi tersangka atas peristiwa kehilangan unta? Yang benar, tidak menjadi salat sebagai sumber masalah. Caranya, unta dicari hingga ketemu. Lalu, menunaikan salat setelah urusannya selesai. Jika tertinggal, bisa salat munfarid. Sehingga anggapan salat menjadi masalah utama kejadian di atas gugur.  Perlu diketahui bersama, Nabi menyuruh salat cepat ada beberapa alasan, misalnya ibu-ibu yang ditunggu bayinya dan urusan-urusan setiap individu setelah salat.

Namun, anggapan orang Khawarij tidak sedemikian, sebab salat harus khusyu dan jangan memngingat selain Tuhan. Lha, perilaku demikian malah ingat orang lain yang menjadi penyebab salatnya tidak khusyu?

Islam yang Memudahkan Umat

Jadi agama itu tidak menyusahkan, malah memudahkan umatnya. Jangan sampai agama membuat repot. Melakukan salat Qabliyah dan Bakdiyah diperbolehkan, tapi jangan sampai kedua sunah itu malah medekati hal-hal yang wajib.

Sekali perkara sunah mendekata wajib, bahaya bagi agama itu. Orang fasik ingin melakukan salat, malah tidak jadi karena menyangka semua ibadah itu wajib.

Sehingga saat Nabi Muhammad ditanya Sahabat tentang kewajiban melakukan salat fardlu, dijawab dengan tegas.

“Apakah Allah  mewajibkan salat sehari semalam hanya lima waktu?,” tanya Sahabat

“Ya,” jawab Nabi.

“Pas, tak ada yang wajib selain itu ?,” kembali bertanya.

“Tidak, kecuali kamu melakukan salat sunnah,” tegas Nabi.

Artikel ini mengambil dari ceramah KH. Ahmad Bahauddin Nur Salim di channel Santri Gayeng berjudul “Gus Baha: Salat Jangan Kelamaan, Bisa Merusak Islam!