Arti Cinta Menurut Syaikh Mutawalli As-Syarwani

0
607

nujateng.com– Syaikh Mutawalli As-Syarwani adalah salah satu ulama Mesir yang terkemuka. Beliau salah satu ulama yang dikenal dengan metodenya yang bagus dan mudah difahami dalam menafsirkan Al-Quran dan Hadist. Jenis metode tafsirnya sesuai dengan kebutuhan semua kalangan dan kebudayaan. Hal itulah yang menjadikan pemikiranya diterima oleh masyarakat luas.

Dalam kesempatan wawancaranya beliau menerangkan bahwa cinta adalah ketika hati mampu menghadap kepada yang dicintai. Oleh karena itu dengan lantaran cinta antara satusama lain saling mendapatkan manfaat, begitu juga sebaliknya ketika salahsatunya dirugikan otomatis yang lainya juga sama. Disela-sela perbincanganya beliau memiliki pandangan bahwa cinta ada dua pertama cinta akal dan kedua cinta hati.

Cinta akal adalah ketika akal memilih sesuatu karena ada manfaatnya seperti orang sakit ia akan menaruh perhatian dengan obat walaupun itu pahit, layaknya orang yang normal ia akan benci dengan rasa pahit, namun setiap orang sakit akan mencintai dengan akalnya, karena obat menyebabkan sembuh. ini disebut cinta akal, namun cinta hati tidak perlu petunjuk akal, seperti orang tua mencintai anaknya meskipun ia bodoh dan terkadang orang tua mencintai anak musuhnya meski dia pintar.

Ketika Rasulallah Saw berkata pada sayyidina Umar “Tidak sempurna imanya salah seorang dari kalian hingga aku lebih dia cintai dari dirinya” kita tahu bahwa Umar adalah lelaki yang sangat jujur atas dirinya lantas ia membalas “Wahai Rasulalallah Saw saya mencintai anda melebihi harta dan anakku, namun jika melebihi diriku maka tidak (tidak mencintai)”.

Rasulallah Saw mengulanginya lagi kepadanya “Tidak sempurna iman salah seorang dari kalian hinga aku lebih dia cintai dari dirinya” Rasulallah Saw mengulanginya sampai ketigakalinya. Ketika Rasulallah Saw mengulanginya tiga kali. Umar mengetahui jika ini ucapan perintah tidak ada tawaran (Azimah). Artinya ucapan beliau mengandung sebuah perintah yang tidak bisa dinego.

 Kemudian Umar juga berkata dengan jujur jika tidak bisa mencintai setidaknya ia bisa berkata dengan baik. setelah beberapa saat ia memberi waktu untuk memaksa hatinya. lantas apa yang dikatakan Umar “Sekarang saya mencintai engkau wahai Rasulallah Saw” setelah ia berkata seperti itu dapat disimpulkan ketika dia menegaskan cinta Rasulallah seolah dia tidak mencintai dengan hati karena cinta hati tidak bisa dipaksakan.

 Namun Umar menghendaki cinta akal. sebelum percakapnya dengan Rasulallah berakhir Umar sempat berkata “Saya tetap dalam jahiliyah jika tidak karena Rasulallah jika saya tetap begitu (Jahiliyah) maka saya dalam bencana. oleh karenanya saya cinta Rasulallah dengan akalku” Syaikh Mutawalli lanjut menyimbulkan cinta akal ini bisa naik menjadi cinta hati.

Maka cinta ada dua, cinta akal dan cinta hati. kedua pembagian ini adalah perbuatan makhluk. berbeda dengan cintanya Allah swt kepada makhluknya, ketika Allah swt bersumpah misalnya aku mencintaimu (Dengan memberi rizqi) yang dimaksud bukan cinta akal dan bukan cinta hati namun perbuatan dzat Allah swt. Kenapa Allah swt mencintai makhluknya dengan memberi pahala karena para makhluknya melakukan kehendaknya. [Abdullah Fais/Ed:011]