Apakah al-Anfal Ayat 60 “Ayat Kekerasan?”

0
532
Khilafah vis a vis Khalifah
foto ilustrasi : Dok. Pribadi

Oleh : Ayang Utriza Yakin (Visiting Professor in Arabic & Islamic Studies (Middle East Studies) Universitiet Gent)

nujateng.com Salah satu kekeliruan orang dalam menilai agama orang lain adalah membaca salah satu ayat dalam kitab suci itu, lalu menghakiminya dengan cara pandang kekinian. Kesalahan orang-orang yang benci Islam di Eropa itu: ia mencatut satu ayat, lalu mengatakan Islam itu x, y, z. Di antara yang sering dicatut & disalahpahami adalah QS. 8:60.

Dengan ayat ini, pembenci jahil itu ingin menunjukkan bahwa Islam adalah agama kekerasan. Dengan kata lain, Islam berdasarkan ajarannya di dalam all-Quran memerintahkan umatnya untuk berbuat kerusakan. Tentu, orang-orang itu tidak tahu & tidak bisa membedakan mana ayat perang dan mana ayat damai, mana ayat-ayat yang lunak dan mana ayat-ayat yang keras, karena tidak belajar.

Seringnya, orang tersebut juga tidak melihat ayat sebelum & sesudahnya dan dalam konteks apa ayat ini diturunkan. Semua ini menunjukkan bahwa orang-orang itu adalah orang yang sama sekali tidak mengerti Islam. Kebencian mendorong orang mencari ayat untuk membenarkan prasangkanya.

Sekarang, kita sedikit telaah QS. 8:60. Ayat ini adalah termasuk ke dalam ayat-ayat perang. Ini terlihat jelas jika, paling tidak, 5 ayat sebelumnya dibaca dan ditelaah. Ayat 55-59 berbicara mengenai orang-orang kafir yang tidak beriman kepada Allah dan Rasulullah. Ayat ini turun kepada 6 suku Yahudi, antara lain Ibn Tabut. Juga, ayat ini turun kepada Bani Quraizhah yang terus melakukan permusuhan kepada umat Islam, sementara umat Islam sudah melakukan perdamaian.

Ayat ini turun untuk mengizinkan Rasulullah dan umat Islam memerangi Yahudi yang mengingkari perjanjian damai, antara lain Yahudi Bani Quraizhah. Apa kata para mufassir tentang QS. 8: 60 ini? Yuk, kita baca beberapa kitab tafsir muktamad & muktabar. Saya kutipkan beberapa saja:

Imam Muhammad Thahir Ibn ‘Asyur dalam Tafsirnya al-Tahrîr wa al-Tanwîr (Tunisia: Dâr Sahnûn, 1997, juz 10, hlm. 46- 58) ayat 55-60 menjelaskan bahwa ayat 55 menandakan perpindahan topik pembicaraan dari masalah kaum musyrikin secara umum kepada persoalan orang-orang kafir yang terdapat perjanjian antara mereka dan umat Islam.

استئناف ابتدائي انتقل به من الكلام على عموم المشركين إلى ذكر كفّار آخرين هم الذين بينّهم بقوله: {ٱلَّذِينَ عَـٰهَدتَّ مِنْهُمْ ثُمَّ يَنقُضُونَ عَهْدَهُمْ}

Dan ayat 61, juga, menurut Syaikh Ibn Asyur merupakan perpindahan topik pembahasan lagi. Setelah 5 ayat tadi berbicara mengenai tata-cara dan tata pergaulan dengan musuh dalam peperangan (ingkar janji, pengkhianatan dll.) kepada suasana perdamaian. Ketika mereka meminta perdamaian & perlindungan, maka umat Islam wajib menyambutnya.

انتقال من بيان أحوال معاملة العدوّ في الحرب: من وفائهم بالعهد، وخيانتهم، وكيف يحلّ المسلمون العهد معهم إن خافوا خيانتهم، ومعاملتهم إذا ظفروا بالخائنين، والأمر بالاستعداد لهم؛ إلى بيان أحكام

السلم إن طلبوا السلم والمهادنة، وكفّوا عن حالة الحرب. فأمر الله المسلمين بأن لا يأنفوا من السلم وأن يوافقوا من سأله منهم.


Jadi, 5 ayat antara 55 ke 60 membicarakan perang terhadap orang-orang kafir yang menjadi musuh umat Islam, karena mereka mengingkari dan membatalkan perjanjian dan berkhianat.

Menurut Ibn Jarîr al-Thabari dalam tafsirnya (Dâr al-Ma’rifah: 30 Juz, Juz X, hlm. 21) menulis bahwa ayat ini adalah ayat bertahan: jika diserang, maka seranglah. Jika orang-orang Yahudi berkhianat terhadap perjanjian yang telah ditandatangani dan memerangi kalian umat Islam, maka perangilah mereka. Persiapkanlah semua peralatan yang kamu bisa himpun untuk memerangi mereka, sehingga mereka takut kepada kalian umat Islam.

Imam al-Qurthubi menjelaskan QS. 8:60 dalam tafsirnya (Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, Juz 8, hlm. 35) menulis bahwa Rasulullah diperintah mempersiapkan kekuatan untuk memerangi musuh-musuh Islam, walau sebenarnya Allah sendiri bisa melakukannya. Hal ini dilakukan untuk menguji sebagian manusia, sahabat Nabi, mana yang benar beriman dan mana yang tidak.

Imam al-Biqâ’i dalam tafsirnya Nazhm al-Durar (Juz 3, hlm. 235) menjelaskan ayat 58-63: Ayat ini menunjukkan bahwa betapa Rasulullah sangat kuatir dan takut merusak perjanjian yang telah ditandatangani dengan suku-suku Yahudi, walau mereka sendiri sudah mengingkarinya dengan cara menginjak-injak isi perjanjian dengan hina dina. Struktur kata dan kalimat dalam ayat ini menunjukkan bahwa Rasulullah dapat memerangi mereka etelah amat yakin melalui tanda-tanda dan bukti-bukti yang sangat kuat bahwa mereka memang akan memerangi umat Islam. (Kata takhafanna menjelaskan hal tersebut).

Dari penjelasan dengan mengutip 4 kitab tafsir di atas & kitab Asbabun Nuzul, jelaslah bahwa QS. 8:60 itu dalam konteks perang yang diawali pengkhianatan perjanjian. Jadi, orang-orang Eropa yang asal comot 1 ayat Alquran untuk menilai Islam & menuduhnya x, y, z: hanya menampilkan kejahilan.

Ini pelajaran bagi kita umat Islam, misalnya: agar tidak membaca Perjanjian Baru, lalu memilih satu ayat dan mengatakan agama Kristen adalah x, y, z. Semua ayat dalam kitab suci punya latar belakang dan konteks yang mengitarinya. Perlu belajar “alat” untuk membaca kitab suci umat lain. Jangan pernah menilai agama orang dengan prasangka. Umat Islam tidak perlu alergi (apalagi takut) belajar agama lain. Di Pesantren, perbandingan agama itu diajari. Untuk apa? agar bisa menghargai agama yang lain. Wallahu a’lam

Pertama kali diunggah di akun Twitter Ayang Utriza Yakin berjudul “Ayat Kekerasan QS. 8:60 ?