3 Pola Dakwah Wali Songo Menurut KH. Chudlori Tegalrejo

0
869

Oleh : Abdul Aziz Idris Abdan (Wakil Katib Syuriah PCNU Kabupaten Magelang)

nujateng.com Bahwa keberadaan dan kesuksesan Wali songo adalah fakta sejarah yang tidak bisa digugat dan dibantah, peninggalan  sejarahnya nyata dan ajaran ajarannya pun masih dianut sebagai bagian dari wujud aplikasi syariat Islam di negeri ini. Dalam satu kesempatan KH. Chudhori Pendiri Pondok pesantren API Tegalrejo pernah dawuh terkait keberhasilan dakwah Wali Songo di negeri ini yang berhasil dengan gilang gemilang. Bahwa pola dakwah dan hidmah kerja Wali songo sangat luar biasa, setidaknya ada tiga faktor disebut oleh KH. Chudhori, yakni : 

  1. ITQON

Punya keyakinan yang mantap atas kebenaran ajaran yang disampaikan. Ini adalah landasan awal bagi kaum Nahdliyin dalam bersikap. Maka sangat tepat kalau Ketum umum PBNU Prof Dr KH. Said Aqil Siraj MA selalu mendengungkan kembali kredo ini dengan bahasa beliau nahnu ashabul haq, alhaqqu diini  wal wathoni.

Kita adalah pemilik kebenaran dalam hal agama dan negara. Keyakinan ini didasar atas landasan yang kuat berupa ketersambungkan kaum Nahdhiyin terlebih para ulamanya dengan pembawa risalah kenabian, Rosululloh SAW secara ilmiah dengan sanad yang muttasil dan bahkan ketersambungan darah banyak para ulama bersambung nasab dengan para Wali Songo yang notabene adalah cucu-cucu Rasululloh SAW.

Pemilik kebenaran dalam bernegara jelas tergambar dengan kontribusi para ulama dalam berjuang mengusir penjajah dari negeri ini dan bahkan menjadi bagian tidak terpisahkan dengan ikut aktif menyusun dasar dasar pendirian negeri ini.

2. NIDHOM

Teratur, artinya dengan sistem pembagian serta tata kerja yang baik, disiplin dan jujur. Wali Songo dieranya adalah gambaran sistem organisasi yang maju denga pola kerja yang jelas, terstruktur dengan koordinasi yang rapi.

Gambaran nyata bagaimana para anggota Wali songo dengan kapasitas keulamaan yang tidak perlu di sangsikan lagi berperan dengan cara berbeda beda ketika berhadapan dengan masyarakat sesuai dengan keadaan dan model masyarakat saat itu. Maka kelahiran NU sebagai bagian penegasan formal dari tata kerja para ulama dalam melestarikan faham dan pemegang teguh ajaran Ahlu Sunnah Wal Jamaah.

3. IKHLAS

Artinya dalam mengemban amanah hidmah jamiyyah tidak mengharap apapun kecuali keridhoan Alloh SWT,  sebagai landasan pokok dan inti tiada khidmah, pengabdian dan gerakan kecuali sebuah prinsip mendasarinya yakni ikhlas.

Sebagaimana juga dikatakan oleh KH. Hasyim Muzadi : “Keikhlasanmu tidak tampak, dan tidak perlu ditampak tampakkan, tetapi Allah yang akan menampakkan hasil dari keikhlasanmu”. Dengan tiga faktor inilah khidmah ber-NU akan mengabadi sebagaimana Wali Songo yang terabadikan oleh sejarah.

*Dawuh KH. Chudhori dari riwayat KH.Drs. Zuhdi Syarbini Ketua PCNU Kab. Magelang tahun 1885 – 1990. Pertama kali diungga di laman PCNU Kab. Magelang dengan judul “Ber NU Ala Wali Songo Menurut KH. Chudhori Tegalrejo