Unwahas Lahir dari Para Tokoh dan Ulama Kharismatik di Jawa

0
240
Unwahas Lahir dari Para Tokoh dan Ulama Kharismatik di Jawa
kredit foto : Universitas Wahid Hasyim

Semarang nujateng.com Pandemi Covid-19 yang sedang melanda negeri ini tidak mengurangi khidmatnya kegiatan peringatan hari ulang tahun sebuah perguruan tinggi di kota Semarang. Perguruan tinggi yang didirikan pada tanggal 8 Agustus 2000 ini tepat berusia 20 tahun pada hari Sabtu, 8 Agustus. Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) merupakan kampus yang berdiri ditandai dengan turunnya ijin penyelenggaraan 10 program studi oleh Dirjen Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan Nasional.

“Kini Unwahas mengelola 21 program studi yang terdiri dari program S1, S2, S3, serta profesi,” ungkap Rektor Unwahas Mahmutarom saat acara tasyakuran Dies Natalis ke-20 di Aula Kampus Fakultas Kedokteran , Sabtu (8/8).

Mahmutarom menjelaskan meski sekarang pandemi, namun Unwahas tetap diberi kesehatan baik dari sisi akademis, maupun finansial. “Alhamdulillah, meski suasana pandemi, Unwahas tetap dalam kondisi sehat, baik secara akademis maupun finansial” tutur guru besar bidang hukum pidana Unwahas ini.

“Tantangan ke depan Unwahas untuk mendorong penelitian produktif didukung aset yang dimiliki oleh lembaga. Seluruh aset Unwahas juga digunakan untuk kepentingan dari, oleh, dan untuk seluruh civitas akademika Unwahas,” tutur Sekretaris Jam’iyyah Ahlith Thoriqoh Al Mu’tabaroh An Nahdliyyah (Jatman) Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Tengah.

Pada gelaran Dies Natalis ke-20, diberikan penghargaan kepada para dosen dengan karya penelitian dan pengabdian kepada masyarakat paling produktif di Unwahas. Penghargaan bidang kemahasiswaan juga turut dianugerahkan kepada para dosen pendamping Program Kreativitas Mahasiswa. Di tingkat universitas terpilih Indah Hartati dari Fakultas Teknik sebagai peneliti paling produktif dengan publikasi bereputasi internasional terbanyak.

Ketua umum Yayasan Wahid Hasyim Semarang, Noor Achmad, dalam sambutannya menceritakan bagaimana sejarah berdirinya Unwahas. Beberapa tokoh yang berperan atas lahirnya Unwahas. Diantaranya, Mantan Ketua PWNU Jawa TengahKH. Achmad, Mantan Gubernur Jawa TengahAli Mufiz, dan KH. Dzikron Abdullah.

Peran para kyai kharismatik di Jawa seperti Mbah KH. Dimyati Pandeglang, Mbah KH. Dimyati Wonosobo, Mbah KH. Abdul Hamid Pasuruan juga turut mewarnai sejarah Unwahas di awal pendiriannya. Disamping kontribusi ulama dan tokoh-tokoh Jawa Tengah, Gubernur Jawa Tengah saat itu Mardiyanto, peran tokoh nasional, Gus Dur juga ikut tercatat membesarkan salah satu kampus terbaik milik NU ini.

“Kita patut berterima kasih kepada keluarga KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang telah mewakafkan tanah untuk pengembangan kampus Unwahas Sampangan,” ucap Sekretaris Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia Pusat.

Acara dies natalis ke-20 digelar dengan pembacaan tahlil untuk para sesepuh, pembacaan manaqib oleh ketua Jatman PWNU Jateng, KH. Dzikron Abdullah , serta ziarah ke makam pendiri Unwahas KH. Syamsuddin Anwar.

“Kegiatan ziarah ke makam pendiri Unwahas KH. Syamsuddin Anwar di Kudus, dilakukan sebagai bagian dari tradisi ahlussunnah waljamaah annahdliyah dalam mendoakan para tokoh yang ikut membangun Unwahas,” tutup Helmy Purwanto ketua kegiatan dies natalis yang juga Wakil Rektor Unwahas. (Ed: 011)