Sepak Terjang Gus Dur Membela Minoritas

0
567

nujateng.com Sepanjang hidup Gus Dur dikenal sebagai tokoh yang membela minoritas. Walau pun banyak yang menilai minoritas yang dibela Gus Dur bukanlah dalam arti jumlah yang sedikit. Minoritas yang dibela Gus Dur adalah siapapun yang mendapat pelemahan. Apakah Gus Dur pernah bela mayoritas?

Tentu. Sepanjang Orde Baru, komunitas muslim menjadi salah satu kelompok yang mendapat represi. Buntut enggannya ormas Islam menyetujui asas tunggal Pancasila versi Orba. Secara politik, kelompok Islam begitu dipinggirkan karena dianggap mengancam. Salah satu kekerasan yang terjadi adalah peristiwa Tanjung Priok pada bulan September 1984. Puluhan atau bahkan ratusan orang tewas dalam insiden tersebut. Gus Dur mengkritik cara kekerasan yang dilakukan oleh aparat, bahkan sampai menghilangkan nyawa.

Pada saat itu tafsir asas tunggal Pancasila memang masih diperdebatkan. Tak berselang lama, pada Muktamar NU Situbondo, Gus Dur bisa menjembatani perdebatan yang tak pernah usai. Kata Gus Dur, agama dan Pancasila tak perlu dipertentangkan. Keduanya justru bisa saling mengisi. Maka NU menjadi Ormas Islam pertama yang menerima asas Pancasila, lalu diikuti oleh ormas Islam lainnya. Peristiwa berdarah itu ternyata disebabkan oleh penafsiran yang keliru perihal pemosisian Pancasila sebagai asas negara

Selain di Priok, pada tahun 1989 Gus Dur juga membela warga yang digusur di Kedung Ombo. Pada saat itu, Orba memiliki proyek pembangunan waduk bersama World Bank. Namun biaya ganti ruginya sangat tdk layak. Hanya Rp700 per-meter. Warga yg belum mau pindah, direpresi oleh aparat. Lokasi Kedung Ombo berada di 3 kabupaten (Sragen, Karanganyar, Grobogan). Proyek tersebut mengharuskan ribuan orang meninggalkan kampung halamannya dengan ganti rugi yg jauh dari kata layak. Namun sebagian warga menerima karena tidak tahan dengan perlakuan represif yang diterima.

Sebagian yang masih bertahan dipaksa melihat air mengaliri kampungnya. Mereka terpaksa mencari lokasi yang lebih tinggi agar tidak tenggelam. Gus Dur beserta tokoh agama lain seperti Romo Mangunwijaya kemudian mendampingi warga, membangun musala, dan mencarikan guru ngaji. Tidak cukup di situ, Gus Dur juga mengkritik tajam sikap pemerintah yang semena-mena terhadap rakyatnya. Bisa dikatakan bahwa pada saat itu Gus Dur satu-satunya tokoh yang secara terbuka menentang Orba yang sangat berkuasa.

Pembelaan Gus Dur terhadap warga Kedung Ombo membuat mereka begitu mencintai Gus Dur. Sampai-sampai ada satu jembatan yang dinamai jembatan Gus Dur. Oh, ya. Perjuangan warga Kedung Ombo dalam memperjuangkan haknya masih berlangsung hingga hari ini. Ketika Gus Dur menjadi presiden, ia memanfaatkan jabatannya untuk melakukan pembelaan pada kelompok-kelompok tertindas seperti etnis Tionghoa dan Papua. Sejak tahun 1966, etnis Tionghoa dilarang gunakan adat istiadatnya. Barongsai hingga nama Tionghoa dilarang keras.

Tak heran apabila banyak saudara Tionghoa yang menyandang nama-nama seperti Hartono, Sukamulyo, Purnomo, dan lain sebagainya. Konghucu sebagai agama leluhur pun dilarang dan memaksa mereka memilih lima agama resmi yang ada di Indonesia. Gus Dur menggugurkan peraturan itu sehingga etnis Tionghoa bisa lagi memainkan Barongsai. Bisa merayakan hari besarnya. Bahkan Imlek menjadi hari libur yang tidak perlu ditutup-tutupi lagi. Konghucu pun kemudian ditetapkan menjadi agama resmi keenam yang diakui negara.

Sementara bagi warga Papua, Gus Dur adalah orang yang mengabulkan tiga tuntutan utama. 1. Ganti nama Irian Jaya jadi Papua. 2. Perbolehkan kibarkan bendera Kejora. 3. Bolehkan menyanyi lagu daerah ‘Tanahku Papua’. Pendekatan militer di masa Orba diganti dengan pendekatan dialog. Salah satu kiatnya dengan menarik basis militer yang ada di Papua. Gus Dur mempersilakan Papua mengemukakan pendapatnya melalui Kongres Rakyat Papua. Negara bahkan membiayai kongres tersebut. Gus Dur ingin mendengar secara langsung keinginan warga Papua melalui kongres tersebut.

Sayangnya, beberapa saat kemudian, jalan yang sudah dirintis oleh Gus Dur tidak dilanjutkan karena presiden-presiden setelahnya kembali menggunakan pendekatan militer dalam penyelesaian konflik di Papua. Padahal, cara dialog yang dilakukan Gus Dur sudah sangat tepat. Gus Dur juga berupaya mencabut TAP MPRS No.25 Tahun 1966 tentang larangan ajaran Marxisme-Leninisme yang ditafsirkan secara serampangan oleh banyak pihak. Akibat peraturan tersebut, banyak warga yang di-komunis-kan kemudian dibatasi hak-haknya oleh negara.

Dalam sebuah acara, Gus Dur pernah ditanya, apakah mencabut larangan itu tidak membahayakan? Secara tegas ia menjawab tidak. Apakah tidak takut PKI bangkit? Gus Dur juga menyebut tidak. Ngapain takut PKI? Lha wong memang komunis sudah runtuh dan tidak mungkin bisa bangkit. Yang jadi concern Gus Dur adalah jutaan orang didiskriminasi hanya karena mereka keluarga dari orang yang dituduh terlibat. Padahal yg dituduh belum tentu terlibat. KTP mereka bertanda ET yg berarti eks-tapol. Jika demikian, mereka tidak akan bisa mengakses fasilitas dari negara.

Gus Dur juga pernah membela band Dewa yang mendapat polemik akibat logo Laskar Cinta yang dianggap mirip lafaz Allah. Dewa menggunakan simbol tersebut sebagai alas yang diinjak-injak. Front Pembela Islam menjadi kelompok yang menyuarakan bahwa Dewa telah melecehkan umat Islam. Bagi Gus Dur, persoalan tersebut hanyalah masalah kecil dan teknis. Gus Dur justru meminta Habib Rizieq dan FPI supaya tidak mempersoalkan lebih jauh masalah ini. Alasannya, masalah tersebut tidak prinsipil. “Habib Rizieq tidak bisa berbicara atas nama umat. Pusing-pusing amat.”

Sebelum kasus Dewa, Gus Dur pernah membela Arswendo Atmowiloto, pemred Monitor, yang dianggap melecehkan agama karena menempatkan Nabi Muhammad sebagai tokoh terpopuler kesebelas di majalahnya, versi survei pembaca Monitor. Banyak yang menuntut pemberedelan Monitor Gus Dur menolak itu dan menjadikan hasil survei sebagai bagian kebebasan berpendapat. Apalagi pembaca Monitor kebanyakan pengunjung klub malam. Akan sangat aneh jika Nabi Muhammad menjadi tokoh terpopuler, bukan? Beberapa waktu kemudian, banyak yang sependapat dengan Gus Dur.

Dorce Gamalama pun mendapat pengalaman serupa. Ktk banyak orang menghujat dirinya krn ingin operasi ganti kelamin, Gus Dur jadi satu-satunya tokoh yg menyerahkan sepenuhnya keputusan itu pada Dorce. Sesaat setelah operasi, ia mengunjungi Gus Dur & menyampaikan kabar operasi tsb. “Oh, kamu yang dulu Banser terus berubah jadi Fatayat, ya?” Begitu jawaban Gus Dur yang disambut gelak tawa. Banser adalah ‘tentara’, sementara Fatayat adalah organisasi kepemudaan putri. Masalah yang rumit dijawab dengan humor.

Bagi Gus Dur, sekontra apapun dengan seseorang atau kelompok, tidak diperbolehkan diskriminatif. Apalagi sampai melakukan tindakan yang membahayakan jiwa seseorang. Pembelaan Gus Dur pada banyak kelompok mengajarkan kita untuk tidak bersikap diskriminatif dengan dasar apapun. Terutama bagi negara, konstitusi adalah harga mati yang harus dijalankan. Negara yang merepresi adalah negara yang tidak amanah terhadap konstitusi.

Karenanya, Gus Dur sangat menentang Orde Baru yang semena-mena. Namun di sisi lain, Gus Dur juga memiliki hubungan yang baik dengan Suharto. Gus Dur bisa membedakan sikap Suharto sebagai presiden dan sebagai individu (manusia). Ketika lebaran, Gus Dur selalu berkunjung ke Cendana. Sikap yang tidak mudah, apalagi di kondisi politik saat ini yang mendukung dan mencela sebuah kebijakan bukan berdasar orientasi pada permasalahan rakyat, tetapi pada sentimen individu. Lahirnya kadrun vs cebong membuat inti permasalahan menjadi kabur.

Namun kita bisa belajar banyak dari Gus Dur yang melakukan sesuatu berdasar kemaslahatan rakyat. Di luar itu, ia akan bersahabat dengan ‘musuh’ politiknya. Seperti kata Gus Dur, satu-satunya tokoh di Indonesia yang layak jadi musuhnya adalah Soeharto. Itu pun masih dikunjunginya. Artinya apa? Gus Dur mengajarkan agar kita tidak memiliki musuh, dong. Apalagi dalam urusan politik, kita semua ingin yang terbaik. Hanya saja cara dan jalannya berbeda.

Di #harlahgusdur ini semoga kita bisa belajar untuk membela yang lemah tanpa didasari sentimen apapun. Karena yang dibela ya yang pantas dibela. Bukan karena dia kawan. Bukan karena satu pemikiran.Sekali lagi, selamat #harlahgusdur. Gus Dur sudah meneladankan saatnya kita melanjutkan. [Ed: 011]

Tulisan ini pertama kali terbit sebagai utas di twitter Jaringan Gusdurian berjudul “Gus Dur dan Minoritas”