Mengenang Warisan Studi Bisri Efendy

0
513
Mengenang Warisan Studi Bisri Efendy
kredit foto : NU Online

Oleh : Tedi Kholiludin (Dosen Unwahas)

Meski mungkin bukan yang pertama, tetapi harus diakui, Bisri Effendy adalah ilmuwan mula-mula yang mengenalkan studi dan kritik kebudayaan kepada anak-anak muda Nahdlatul Ulama (NU). Ia mendirikan lembaga Desantara setelah sebelumnya bergulat di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Sosok yang sangat memahami pemikiran kebudayaan KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) itu meninggal pada 17 Agustus 2020 kemarin.

Meski tak banyak kesempatan bertatap muka, pikiran-pikiran Bisri Effendy yang termaktub dalam pelbagai tulisannya, sudah cukup menggambarkan posisi intelektualnya. Dari sanalah saya bisa memahami jalan pemikiran laki-laki kelahiran Jember, 12 Maret 1953.

Satu-satunya kesempatan mengaji langsung padanya terjadi ketika ia mengisi salah satu sesi dalam kegiatan bertajuk Akademi Kepemimpinan Gusdurian yang diselenggarakan oleh Sekretariat Nasional Jaringan Gusdurian di Depok, 29 November-1 Desember 2019.

Pak Bisri diminta untuk mendedah pikiran kebudayaan Gus Dur yang tentu saja sangat dikuasainya. Mula-mula, antropolog itu mengkritik kecenderungan umum dimana kebudayaan yang seringkali bersifat tertutup. “Artinya, hanya orang-orang tertentu saja yang boleh memahami, memakai (kebudayaan, red). Dalam hal ini negara berkolaborasi dengan (kelompok) agama dan pemodal,” kritik Bisri. Modal itu, lanjutnya, terjadi karena artefakisasi kebudayaan. “(Modal) ini yang kemudian mendorong Kementerian Ekonomi Kreatif membuat semua kesenian menjadi gantungan kunci. Reog jadi gantungan kunci,” ujarnya.

Situasi dimana kebudayan menjadi sesuatu yang eksklusif inilah dikritik oleh Gus Dur. Ketika menulis “Pesantren sebagai Sub-Kultur” ia sebenarnya tengah mengawali untuk mendekonstruksi ini. Bagi Gus Dur, kebudayaan itu pertarungan antara kultur dan kultur dominan. “Kebudayaan sebagai pertarungan adalah hal pertama yang saya garis bawahi dari pemikiran Gus Dur,” Bisri memberi penjelasan.

Aspek kedua dari pemikiran Gus Dur tentang kebudayaan adalah maknanya sebagai human social life. “Jadi, kebudayaan itu adalah nafas kehidupan. Maka, Gus Dur mengajukan bahwa kebudayaan itu terbuka bagi siapapun,” katanya. Bahkan, kebudayaan juga menjadi sesuatu yang dikonstruksi, diciptakan. “Karena itu, tidak ada heritage. Pewarisan budaya itu tidak ada,” simpulnya.

Ketiga, menurut Gus Dur, kebudayaan itu adalah emansipasi sebagai kehidupan seseorang untuk mencapai kehidupan survive. “Oleh karena itu, maka Gus Dur termasuk tetap bertahan, dalam seluruh tulisannya, bahwa human social life itu harus dipertahankan,” Bisri menjelaskan makna kebudayaan terakhir menurut Gus Dur.

Karena human social life, maka hak budaya dari kebudayaan itu ada di pundak masing-masing warga bangsa, bukan dimonopoli oleh seseorang. Tetapi kenyataannya, kebudayaan kemudian dikooptasi oleh kekuatan-kekuatan tertentu yang siapapun tidak boleh menafsirkannya.

“Soal Taman Mini Indonesia Indah itu bagaimana, Pak Bisri” saya mengajukan pertanyaan tentang bagaimana negara memaknai kebudayaan.

“Ya, karena negara memahami kebudayaan sebagai artefak, cerminnya ya seperti itu. Seolah-olah itulah yang disebut kebudayaan. Padahal kebudayaan dan budaya itu berbeda. Pembatik itu alat kebudayaan. Tapi batiknya itu budaya. Yang tidak bisa diwariskan itu kebudayaannya (proses kreatifnya), bukan batiknya. Budaya itu artefak,” katanya menjawab pertanyaan-pertanyaan dari audiens [Ed: 011]

Artikel ini pertama kali terbit di elsaonline.com dengan judul “Warisan (Studi) Kebudayaan (alm) Bisri Effendy