Kemaslahatan Agama Perspektif Perempuan

0
231
Kemaslahatan Agama Perspektif Perempuan
kredit foto: wahidfoundation.org

Oleh : Nur Rofiah (Dosen Pascasarjana Prodi Ilmu Tafsir Perguruan Tinggi Ilmu Al-Quran (Institut PTIQ) Jakarta, dan Founder Ngaji KGI (Keadilan Gender Islam)

Kemaslahatan agama tentu saja didasarkan pd tuntunan agama. Namun, ia juga dipahami, dirumuskan, dan diimplementasikan lwt ikhtiyar manusia shg sumber yg sama bs melahirkan kesimpulan beda. Demikian pula konsep kemaslahatan yang dikaitkan dengan isu kependudukan, khususnya yang berkaitan dengan perempuan. Misalnya Keluarga Berencana (KB), Kesehatan Reproduksi (Kespro)  termasuk Kespro Remaja (KRR), Kesehatan Ibu, Kekerasan Berbasis Gender (KBG), dan perkawinan anak.

Sebagai negara yang setiap penduduknya wajib beragama, maka perspektif agama penting sekali dalam membincang setiap persoalan.  Terutama perspektif Islam sbg agama mayoritas. Begitupun saat membincang tentang kependudukan, termasuk isu-isu yang terkait dengan perempuan.

Perspektif Islam dlm merespon isu2 perempuan di Indonesia agaknya alami perubahan menarik. Dua saja ingin kusebutkan:

1. Perspektif Islam bertujuan meyakinkan bhw ikhttiyar atasi masalah tkait isu perempuan ini tidak bertentangan dg semangat Islam utk wujudkan kemaslahatan. Cara ini tentu saja merespon resistensi sebagian masyarakat Muslim yang menolaknya. Lahirlah dua pandangan keagamaan yang berbeda atas setiap isu. Misalnya:

KB melawan takdir Allah vs KB jalankan perintah Allah untuk lahirkan generasi berkualitas. Pendidikan KRR = bekali remaja untuk seks bebas tanpa khawatir hamil vs pendidikan KRR justru bekali remaja untuk tau sistem reproduksinya sehingga bisa jaga diri dengan baik agar terhindar dari seks bebas. Kematian ibu saat melahirkan adalah syahid sehingga tidak perlu dicegah vs menjaga ibu dari kematian akibat melahirkan adalah bagian dari menjaga jiwa. Pemukulan istri untuk pendidikan adalah baik vs pemukulan istri adalah bertentangan dengan prinsip muasyarah bil ma”ruf.

Perkawinan anak adalah solusi untuk mencegah zina vs perkawinan anak sebagai hambatan mewujudkan sakinah dalam keluarga. Poligami adalah adil dan jadi solusi untuk mencegah perselingkuhan agar tidak terjadi zina sehingga tidak perlu diatur-diatur vs praktek poligami tidak adil juga justru kerap diawali dengan perselingkuhan yang bisa mendekatkan seseorang pada zina sehingga mesti diatur dll. Kedua kelompok masyarakat Muslim sama-sama beradu teks-teks keislaman sebagai dasar legitimasi pandangan keagamaannya. Perdebatan umumnya diwakili oleh tokoh agama laki-laki sehingga minim perspektif pengalaman perempuan dalam mempertimbangkan rumusan tentang kemaslahatan.

2. Perspektif Islam digunakan untuk meyakinkan bahwa apa yang disebut kemaslahatan, mesti mempertimbangkan pengalaman perempuan. Apalagi isu tentang perempuan atau berkaitan erat dan berdampak langsung pada perempuan. Prinsip dasarnya: Sesuatu disebut maslahat hanya jika ia maslahat juga bagi perempuan. Sesuatu tidak disebut maslahat jika ia berdampak buruk bagi perempuan, apalagi bahaya meskipun sesuatu tersebut maslahat bagi laki-laki.

Apa itu kondisi khas perempuan? 

Ia adalah 5 pengalaman biologis perempuan: menstruasi, hamil,  melahirkan, nifas, dan menyusui, dan 5 pengalaman sosialnya: stigmatisasi, marjinalisasi, subordinasi, kekerasan, dan beban ganda yang kelimanya dialami hanya karena jadi perempuan. 5 pengalaman biologis perempuan berdurasi jam2an (melahirkan), harian (melahirkan, menstruasi), mingguan (menstruasi, nifas), bulanan (hamil, nifas), dan tahunan (menyusui).

Semua pengalaman tersebut dari sononya disertasi rasa sakit (adza)  bahkan sakit yang berlipat-lipat (wahnan ala wahnin). Juga kerap berdarah-darah (menstruasi,  melahirkan, dan nifas). Laki-laki tidak mengalami 1 pun lima pengalaman biologis di atas. Bandingkan dengan pengalaman biologis mereka, yaitu hubungan seksual dan mimpi basah yang hanya berlangsung dalam durasi menit dan semua memberi sensasi nikmat.

Hubungan seksual tentu juga dialami perempuan, namun karena struktur alat kelamin perempuan berbeda, ditambah posisi sosial yang kerap sebabkan mereka tidak bisa menolak, maka pengalaman ini walau berpotensi membahagiakan juga sangat mungkin sebaliknya.  Terutama saat terjadi perkosaan. 5 pengalaman sosial perempuan tersebut adalah kezaliman pada perempuan. Tidak seorang pun boleh diperlakukan buruk karena sesuatu yang ditentukan oleh Allah, termasuk menjadi perempuan. Mereka dilarang keras distigma, dipinggirkan, direndahkan, menerima kekerasan, dan diberi beban yang tidak proporsional.

Penyebutan adza (sakit) pd menstruasi, dan wahnan ala wahnin (kepayahan berlapis) pada hamil dan melahirkan, serta tuntunan untuk mendengar keinginan ibu bayi dalam proses pemberian asi (in arodna) adalah petunjuk nyata untuk menyikapi pengalaman biologis perempuan secara empati. Sikap empati terefleksikan pada aturan khusus/dispensasi bagi perempuan saat menstruasi, hamil, melahirkan, nifas dan menyususi dalam rukun Islam berupa shalat, puasa, dan haji untuk ringankan mereka tanpa sedikit pun kurangi kualitas ibadah dan spiritualitas mereka sebagai hanya hamba Allah.

Islam juga berikan contoh bagaimana perempuan diselamatkan dari ketidakadilan hanya karena jadi perempuan.   Penghapusan stigmatisasi, perempuan bukan sumber fitnah dan tidak bawa dosa turunan dari Hawa As yang telah bujuk rayu Adam As utk memakan buah terlarang sehingga keduanya terusir dari surga. Syetanlah yang menggoda keduanya, lalu keduanya tergoda, keduanya makan buah terlarang, keduanya terusir dari surga, keduanya minta ampun,  dan keduanya pun diampuni. Bukan Hawa tapi syetanlah sang penggoda dan tidak ada dosa bawaan karena keduanya telah diampuni sejak awal.

Penghapusan marjinalisasi: perempuan pada awalnya dijadikan warisan, lalu Islam larang keras jadikan mereka sebagai warisan, menjamin hak waris mereka, bahkan menjamin mereka sebagai pihak yang mewariskan hartanya setelah wafat.  Islam mengubah perempuan dari obyek menjadi subyek waris. Contoh penghapusan subordinasi: perempuan semula dipandang sebagai milik mutlak laki-laki seumur hidupnya. Pertama ayah, lalu suami, lalu anak laki-laki. Mereka mesti tunduk mutlak pada pemiliknya seperti hamba.

Islam ltegaskan bhw manusia, baik laki-laki maupun perempuan hanya lebih tunduk mutlak pada Allah (Tauhid) sehingga dilarang keras taat pada sesama makhluk dalam ma’shiat kepada Allah, dan hanya boleh taat dalam kebaikan (Laa thoata lamakhluqin fii ma’shiatil Khaliq. Innamath thoatu fil ma’rufi). Contoh penghapusan kekerasan: memberikan alternatif lain pada kebiasaan memukul istri dengan menegaskan bahwa tujuan perkawinan adalah ketenangan jiwa (sakinah) kedua belah pihak sehingga keduanya mesti menjadikan kasih sayang (mawaddah wa rahmah) sebagai dasar relasi. Keduanya juga dituntut untuk saling bergaul dengan cara-cara yang bermartabat (muasyarah bil ma’ruf) sehingga spirit ayat tentang pemukulan istri dengan memberi altermatif nasehat dan pisah ranjang adalah jangan main pukul pada istri.

Demikian pula poligami. Awalnya masyarakat menganut norma sosial 1 laki-laki bisa menikahi perempuan dalam jumlah tak terbatas dan tanpa syarat adil, lalu Islam membatasi maksimal 4 dengan syarat adil dan mengingatkan bahwa adil sangat sulit, lalu Islam mendorong untuk monogami yang adil. Contoh selamatkan perempuan dari beban ganda: penegasan bahwa sebagai manusia, laki-laki dan perempuan sama-sama emban mandat hidup wujudkan kemaslahatan di bumi. Jadi, keduanya adalah subyek penuh sistem kehidupan sehingga sama-sama wajib wujudkan kemaslahatan di dalam dan luar rumah, sekaligus berhak menikmatinya.

Rasul juga teladankan bagaimana mengerjakan pekerjaan rumah seperti mengasuh anak,  memerah susu onta,  menjahit sandal yang putus, dll dan membimbing umat laki-laki dan perempuan bekerjasama di ruang publik (monggo baca Tahrirul Mar’ah fi Ashrir Risalah yang sudah diterjemahkan jadi kebebasan wanita). Singkat kata: sesuatu disebut kemaslahatan hanya jika tidak menambah rasa sakit perempuan saat menjalani pengalaman biologisnya dan tidak mengandung atau menyebabkan perempuan mengalami 1 pun dari lima pengalaman sosialnya.

Berdasarkan istidlal teks-teks keislaman yang panjang-lebar dan analisis yg juga panjang lebar atas pengalaman khas perempuan, maka Kongres Ulama Perempuan Indonesia pada tahun 2017 memutuskan bahwa:

1) hukum mencegah perkawinan yang membahayakan anak adalah wajib.

2) hukum melakukan kekerasan seksual adalah haram, baik di dalam maupun di luar perkawinan.

3) hukum melakukan perusakan alam adalah haram,  meskipun atas nama pembangunan.

Demikian semoga bermanfaat.

Pamulang, 25 Agustus 2020

Salam KGI.