Islam di Arab Saudi, Tak Kaku Sebab Tidak Laku

0
21793
Islam di Arab Saudi, Tak Kaku Sebab Tidak Laku
kredit cover ; Elsa Press

nujateng.com Melihat kondisi masyarakat Arab Saudi yang sudah membuka pintu terhadap modernisme perlu menjadi bahan kritik terhadap pandangan kita. Tentang imaji Arab Saudi menerapkan syariat secara kaffah menjadikan sebagian Muslim di Indonesia silau. Ada baiknya kita membaca salah satu karya Profesor King Fahd University, Sumanto Al Qurtuby berjudul Islam Kaku Tidak Laku; Potret Masyarakat Arab dan Dunia Islam.

Buku yang terdiri dari 27 artikel ini menggambarkan kehidupan di Arab Saudi yang perlahan membuka diri kepada dunia luar. Hasil pengamatan selama mengajar di King Fahd University, melihat bahwa “Islam Kaku”  yang di anut Arab Saudi didasarkan pada pemahaman tektualis, terkungkung pada masa lalu dan tidak adaptif terhadap perkembangan zaman “Tidak Laku”.

Sebagai salah satu pengajar di universitas di Arab Saudi, Sumanto melihat fenomena kekinian di Arab Teluk wa bil khusus negara-negara yang tergabung Gulf Cooperation Council sangat mudah mendapatkan pelayanan publik menggunakan bahasa Inggris. Terlihat seperti “lebih elit, terhormat dan ekspat professional”. Kalau pun di ruang publik menggunakan bahasa Arab, seringkali menggunakan bahasa Arab gaul (ammiyah) ketimbang fushah.

Fakta ini menegaskan bahwa masyarakat Arab yang sering dinisbatkan “Bangsa Muslim” tanpa dilihat secara etnologi dan geografis. Keduanya entitas itu membentuk kompleksitas dan pluralitas dari aspek kebudayaan hingga  sistem politik. (h.17)

Pluralitas yang berkembang di dunia Arab menjadi kabar gembira bagi setiap Muslim yang sedih karena seringkali Timur Tengah diidentifikasi dengan angkat senjata dan segala cerita kekerasan. Bagi mereka yang mengidap Muslim-Phobia juga dapat mengenal salah satu negara Timur Tengah, Saudi Arabia yang anti modernis dan konservatif, perlahan mulai membuka mata terhadap perkembangan dunia luar.

Perkembangan sistem politik di Timur Tengah kini sudah tidak monolitik sebagaimana imaji kita. Hanya Arab Saudi, Bahrain, Yordania, Maroko, Oman, menganut sistem monarki. Selain itu, Oman dengan kesultanannya, Kuwati dengan monarki konstitusional, Qatar dengan keamiran dan Uni Emirat Arab dengan kerajaan Federal.

Justru kini banyak “Bangsa Arab” menggunakan republik sebagai sistem pemerintahan, seperti, Mesir, Yaman, Sudan, Libanon, Aljazair, Suriah, Irak, dslb. Dari paparan ini memahami monolitik bangsa Arab adalah sebuah kekeliruan mendasar sehingga surplus mendengungkan model khilafah, defisit membaca sistem politik yang dianut.  (h.16)

Sistem politik yang tidak monolitik itu berdampak pada program kebudayaan di bidang industri perfilman. Sebelum tahun 2018, seringkali pelancong dari Arab Saudi menggunakan akhir pekan di daerah Bahrain, Qatar, dan Uni Emirat Arab demi menikmati film terbaru di layar lebar. Kini peluncuran industri film di Saudi ini digadang-gadang mampu mendorong para sineas  sekaligus aktor bagi warga Saudi. Ahd Kamel salah satu, sineas cum produser mengungkap rasa optimismenya bahwa pembukaan industri sinema itu dapat mendongkrak perekonomian sekaligus dapat menjadikan film-film garapan orang Arab di ajang Dubai International Film Festival dan Berlin International Film Festival. (h.53)

Suka cita ini bukan tanpa sebab di sambut oleh warga Saudi. Musababnya, industri sinema di Arab Saudi pernah mengalami awan gelap. Aksis terorisme-ekstremis Juhayman al-Otaibi di tahun 1979 melakukan aksi berdarah “kudeta Ka’bah”. Meski gagal sebagaimana diceritakan Yaroslav Trofimov dalam buku The Siege of Mecca, kaum radikal konservatif justru menguasai wacana keislaman dan politik yang melarang pembukaan bioskop karena sebagai “kejahatan moral” melawan nilai-nilai syariat keislaman.

Jika industri film yang dahulu kala pernah mengalami masa kelam, lantas bagaimana perkembangan fashion penutup aurat di Arab Saudi?

Sebagian Kelompok Islam gemar memakai jubah atau gamis dalam rangka mengikuti “Sunah Nabi”. Sebagai orang Arab, Nabi Muhammad juga mengenakan jubah sebagai pakaian tradisional Arab dan Timur Tengah. Di sana pakaian tradisional dikenakan oleh Muslim maupun non-Muslim (Yahudi, Kristen, Zoroaster dan sebagainya).

Jubah tradisional di Timur Tengah kerap disalahpahami oleh sebagian kecil Muslim, bahwa itu adalah identitas kebanggan bagi penduduk yang mengenakannya. Variannya pun macam-macam. Misalnya, Jubah Emirati, Jubah Kuwaiti, Jubah Qatari, Jubah Yamani memiliki corak masing-masing. Meski demikian, pakaian tradisional itu kini mulai ditinggalkan oleh generasi muda sebab ada proses modernisasi di Kawasan Arab dan Timur Tengah. (h.85)

Selain perubahan jubah yang dikenakan oleh para pria, reformasi busana perempuan di Saudi dan Timur Tegagah juga disambut optimis dan positif meski dengan penuh kekhawatiran jika ada respon dari kelompok militant dan kalangan konservatif. Abaya yang sering digunakan oleh kaum hawa kini telah memiliki nilai estetika yang berujung pada identifikasi kelas.

Konteks abaya di Saudi menjadi penanda moralitas perempuan tetapi juga kelas sosial. Kelas menengah ke atas akan mengenakan abaya dengan desain yang warna-warni sedangkan kelas menengah ke bawah mengenakan abaya minimalis. Jadi ada hukum tak terltulis yang menyatakan, bahwa abayamu adalah dirimu. (84).

Perubahan-perubahan yang kini terjadi di Arab Saudi akan berjalan dengan lancar selama tak mengguncang kebutuhan dasar finasial dan kesejahteraan ekonomi keluarga (misalnya uang, pendidikan gratis, kesehatan terjamin, sewa rumah, harga bahan bahan pokok tidak naik). Pragmatisme yang dianut masyarakat Saudi menjadi salah satu kunci “Arab Spring” tidak mampu menjamah Saudi (hal. 86).

Buku yang terdiri dari 27 artikel ini menggambarkan kehidupan di Arab Saudi yang perlahan membuka diri kepada dunia luar  seringkali mengingatkan Muslim Indonesia yang kadung silau dengan Islam di Arab Saudi, sehingga tidak urut secara pembahasan. Dibandingkan dengan karya Hali Barakat yang menghadirkan secara urut tentang masyarakat Arab yang memiliki potensi persatuan berbarengan dengan perpecahan. Hali Barakat dalam Dunia Arab; Masyarakat, Budaya dan Negara memotret komprehensi dengan menonjolkan kompleksitas, kekhususan dan dinamikanya.

Begitulah gambaran perkembangan kontemporer di dunia Arab, seperti potret masyarakat Arab Teluk seperti, Arabia, Kuwait, Bahrain, Oman, Uni Emirat Arab, Qatar, dan Yaman. Arab yang dulu bukan Arab yang sekarang. Seyogianya keterbukaan yang terjadi dapat menjembatani segala perbedaan [Ed: 011]

Judul Buku : Islam Kaku Tidak Laku ; Potret Masyarakat Arab dan Dunia Islam

Penulis : Sumanto Al Qurtuby

Penerbit : Elsa Press

Tahun : April, 2019

Jumlah Halaman : xiv+20

Resensi terbit pertama kali di lama islami.co dengan judul “Islam Arab Saudi yang Kaku Sudah Tidak Laku