Hukum Mengkarantina Korban Covid-19

0
303
Hukum Mengkarantina Korban Covid-19
kredit foto: Ilustrasi kesehatan mental saat wabah Virus. FOTO/iStockphoto

nujateng.com Wabah Covid-19 sampai saat ini memang tidak dapat dipastikan kapan akan berakhir walaupun di sebagian daerah sudah ada yang menyatakan zero covid-19. Namun tetap saja yang harus menjadi tolak ukur adalah kasus nasional, ketika kasus nasional belum mengalami penurunan, berarti belum selesai.

Perlu diperhitunkan kondisi masyarakat di daerah yang masih zona merah, berkaitan dengan masalah ini semakin banyaknya penyebaran kasus, kita harus lebih waspada lagi. Dan selalu ikhtiar dengan semaksimal mungkin untuk pencegahan wabah corona.

Terutama soal mengkarantina orang yang suspect covid-19 harus lebih diperketat lagi. Dalam kajian keislaman (fiqih) sudah diatur bahwa mengkarantina orang yang positif atau orang dalam pantauan wajib di karantina.

Dalam kitab Bughiyah Mustarsyidin hal 98 terbitan Darr al-Fikr

يجب منع الابراص والمجذوم من الجماعة ومن مخالفة الناس سواء الامام وغيره ممن قدر علي ذلك لانه من باب الامر بالمعروف والنهي عن المنكر

“Wajib bagi Imam ataupun lainya dari orang-orang yang mampu untuk mencegah orang yang terkena penyakit lepra dan kusta (penyakit menular) untuk bergaul dengan mereka, karena hal itu termasuk amar ma’ruf nahi munkar”

Memang, tidak dapat diketahui secara pasti kapan pandemi ini akan usai. Selagi vaksin belum diketemukan, akan terus berputar, tapi kalau dibiarkan dan diacuhkan lebih membahayakan. Tidak ada cara lain, kesadaran dan kewaspadaan harus ditumbuhkan. (Fais Abdullah/Ed: 011)