Gus Im Lebih “Gila” Membaca Buku dari Gus Dur

0
659
Gus Im Lebih “Gila” Membaca Buku dari Gus Dur
kredit : Haidar Latif

Oleh : Zaim Ahya (Pemilik takselesai.com)

Entah kenapa pagi ini terlintas ingin mendengarkan Friday Night in San Francisco: Live Concert, sebuah permainan gitar dari tiga maestro gitar: Al Di Meola, John McLaughlin dan Paco de Lucía.

Tampaknya ini lantaran membaca kata pengantar dari Gus Im dalam buku Gus Dur Ku Gus Dur Anda dan Gus Dur Kita karya Muhammad AS Hikam. Gus Im adalah panggilan akrab dari adik bugsu Gus Dur. Nama lengkapnya Hasyim Wahid. Dalam tulisannya yang berjudul Gus Dur: Kiai Pencerahan, Savic Ali menyebut Gus Im sebagai satu-satunya saudara Gus Dur yang punya minat kurang lebih sama dengan Gus Dur. A Khoirul Anam, dalam tulisannya yang berjudul Lima Buku yang Direkomendasikan Gus Dur untuk Santri (nu online, 13/12/2019), bahkan menyatakan Gus Im ini lebih “gila” dari Gus Dur dalam hal membaca buku.

Suatu hari Gus Dur menyita — dalam arti meminjam dengan niat tidak akan mengembalikan — salah satu CD musik penting milik adik bungsunya itu.

Ceritanya berawal dari — sebagaimana ditulis Gus Im — Gus Dur memintanya datang ke kantor PBNU. Waktu itu Gus Dur masih menjabat sebagai ketua umum. Gus Im dikenalkan oleh Gus Dur kepada AS Hikam. Gus Dur menjelaskan, bahwa Kang Hikam adalah Nahdliyyin asal Plumpang Tuban yang baru saja berhasil mempertahankan disertasinya dalam bidang ilmu politik di Hawaii Honolulu.

Tujuan Gus Dur mengundang Gus Im sebenarnya untuk mengajak diskusi dengan Kang Hikam perihal disertasinya itu. Namun Gus Im malah tanya kepada Kang Hikam, apakah di Honolulu ada toko musik yang punya koleksi CD musik cukup lengkap.

Mendengar pertanyaan adiknya itu, Gus Dur mengatakan sambil tertawa, “lo kita tadinya mau mendiskusikan disertasi Kang Hikam, kok kamu nitip dicarikan SD. Gimana sih?”

Gus Im pun menjawab, bahwa CD tersebut termasuk penting. Berisi Music Fusion yang dimainkan tiga maestro gitar yang namanya telah disebutkan di atas. Gus Dur dan Gus Im pun mulai mengungkapkan pendapatnya masing-masing. Singkat kata, mereka mendiskusikan tiga maestro gitar yang memainkan Music Fusion yang albumnya berjudul Friday Nigth in Francisco: Live Concert.

Lalu seperti biasa, Gus Dur melontarkan joke yang menurut kesaksian Gus Im dengan nada fatwa final, “Music Fusion seperti itu bisa membantu memahami praxis politik di Indonesia yang juga berupa Fusion. Bedanya politik Indonesia adalah Fusion dari politik aliran, partai politik oposisi seolah-olah dan macam-macam teori pembangunan yang wujud akhirnya jadi aneh dan sulit dimengerti apalagi dinikmati, hehehe…”

Setelah beberapa bulan, Kang Hikam yang telah lengkap bergelar Ph. D pulang ke Indonesia dan membawa pesanan Gus Im. Entah situasi politik apa, kata Gus Im, yang mengingatkan Gus Dur, sehingga dengan berlagak mengantuk menanyakan perihal CD album tersebut. Gus Im yang khawatir Gus Dur melakukan “investigasi silang” dalam arti juga telah menanyakan kepada Kang Hikam, Gus Im pun menjawab jujur.

Karena Gus Im sudah membaca gelagat Gus Dur yang tak berniat tak mengembalikan CD tersebut, Gus Im pun melakukan cloning sebelum CD tersebut diantarkan ke kakak sulungnya itu, sebagai usaha antisipasi. Gus Im menulis:

“Kehidupan telah mengajarkan saya bahwa antisipasi adalah bagian pokok dari upaya bertahan hidup (survival)”.

Kenapa Gus Dur berbuat demikian? Usut punya usut ternyata sebelumnya Gus Dur kehilangan dua magnum opus musik klasik yang digemarinya.

“Wah Im, saya kecopetan ‘Eine Kleine Nachtmusik’ karya Mozart dan Simfoni No. 9 nya Beethoven” kata Gus Dur sambil berlagak lebih mengantuk sebagaimana ditulis Gus Im.

Kata Gus Im, Gus Dur tahu betul, di lingkungan pergaulannya yang terdekat, hanya Gus Im yang senang dengan dua karya musik klasik tersebut dan tega mencopetnya dari Gus Dur.

“Dan Gus Dur pun meminjam (tanpa niat mengembalikan) CD tersebut dari saya sebagai bentuk serangan balasan (retaliasi) atas prilaku saya mencopet dua keping CD musik klasik miliknya”

Gus Dur dan Gus Im bisa dibilang memiliki kedekatan yang unik. Dalam catatan Greg Barton di buku Biografi Gus Dur, saat Gus Dur pingsan di kamar mandi di kantor PBNU yang menjadi awal dari masa-masa sulit Gus Dur dalam hal kesehatannya, Gus Im salah satu yang waktu itu berada di sana. Ceritanya, Gus Im menunggu kakaknya di kantor PBNU. Waktu itu Gus Dur sedang ke kamar mandi, namun karena lama, Gus Im merasakan ada kejanggalan, akhirnya bersama yang lain yang di lokasi memutuskan mendobrak pintu kamar mandi dan mendapati Gus Dur tak sadarkan diri. Adik Gus Dur yang Dokter Umar Wahid pun dipanggil dan Gus Dur pun dilarikan ke rumah sakit.

Gus Dur dan Gus Im juga pernah — meminjam istilah CD album musik yang disukai keduanya — melakukan fusion menerjemah karya Seyyed Hossein Nasr yang berjudul Ideals and Realities of Islam. Oleh dua bersaudara itu, judul tersebut diterjemahkan menjadi Islam dalam Cita dan Fakta.

Dari “berebut” CD musik sampai bersama menerjemahkan buku. Bukankah itu hubungan persaudaraan yang menarik sekaligus unik?

Tulisan ini saya tulis beberapa bulan lalu saat berkelana di Kampung Inggris Pare Kediri dan belum terpublikasikan. Pagi ini terdengar kabar Gus Im wafat.

Tak setenar kedua kakaknya, Gus Dur dan Gus Solah. Bahkan, menurut seorang teman, banyak santri Tebuireng yang tak mengenal beliau. Ibarat sinobi, Gus Im adalah seorang yang melindungi NU dari balik bayangan.

Alfatihah buat beliau…

Tulisan ini pertama kali terbit di lama takselesai.com dengan judul “Gus Dur dan Gus Im: Dari Berebut CD Musik Hingga Menerjemah Buku