NGAJI

0
455
NGAJI
kredit foto : islamsantun.org

Oleh lek Basyid Tralala

Ngaji bukan untuk jadi kiai atau orang suci,

Ngaji, bukan untuk menggurui, tapi ngaji adalah seni menata hati.

Agar hidup lebih berarti serta prilaku sedikit tertata rapi

Ngaji,  sebagai pengendali diri mengingat dunia kian hari kian penuh halusinasi banyak manusia yang terjebak hingga sulit untuk kembali dekat pada ilahi karena banyaknya tontonan yang berubah jadi tuntunan di hari menjelang kiamat ini.

Banyak tokoh yang seharusnya menginspirasi justru kini rajin caci mencaci hanya karena ingin numpang sensasi dan untuk mengukuhkan diri.

Ngaji adalah upaya diri untuk lebih terkendali agar di hari kelak nanti tidak sampai merugi. Karena banyak orang yang tajir rezeki justru mengakhiri hidup dengan prilaku yang tak terpuji.

Ngaji adalah pondasi diri agar amal ibadah memberkahi diri,

Meski hanya sebesar  biji sawi, semua tetap akan diakui karena itu bagian dari prestasi.

Ngaji merupakan ikhtiar yang tak henti meski umur setiap hari terus berganti seirama warna rambut tidak hitam lagi.

Dengan ngaji, amal ibadah kita semua terlandasi sehingga tidak ada amal merugi walau hidup hanya tinggal satu hari.

Mengaji, bagian dari kontrol diri agar diri kita tidak mudah mencaci maki walau berbeda persepsi sesama anak negeri.

Semakin luas mengaji, semakin sadar diri jika hidup ini dirimu tidak hidup seorang diri, semua orang juga butuh dihargai walau sodaqoh sebutir nasi.

Ngaji, sebagai preventif diri, agar diri ini  tidak terlalu parah manakala terkena polusi duniawi.

Ngaji bagian dari keteguhan hati, dan kemantapan pribadi dari  segala tipu daya yang tak pernah henti  mengingat jagat ini terus berjalan seirama tuntutan obsesi.

Ngaji, menjadi imun diri dari virus hidup ini yang datang silih berganti seirama tuntutan gengsi dan ambisi.

Ngaji,  juga upaya mendekatkan diri dengan para kiai, agar diri ini terus terberkahi oleh doa doa sepanjang hari.

Ngaji,  juga upaya membangun jalinan silaturahim yang dilandasi ilmu dan Budi pekerti.

Ngaji,  tradisi orang orang terpuji yang sampai sekarang tetap terjaga rapi meski jaman sudah berulang kali berganti.

Ngaji, bukan ingin untuk dipuji tapi bentuk  kerendahan  diri karena kita mau dinasihati oleh para kiai.

Ngaji,  bentuk kesadaran diri agar hidup ini tidak hanya dirasuki saling membenci hanya gara – gara perbedaan kitab suci.

Ngaji, membangkitkan motivasi diri untuk melangkah lebih pasti dalam menyongsong hari depan yang masih penuh misteri.

Ngaji, mengajarkan manusia untuk sadar diri bila hidup manusia tidak lepas dari takdir ilahi, yang terkadang membuat manusia sering sombong diri.

Ngaji, mengajarkan hidup ini untuk menyandarkan diri ridlo ilahi, sehingga keihlasan dan sabar tetap dikedepankan walau terkadang pahit di hati.