Memaknai Arti Moderasi Beragama

0
770
Pencetus Moderasi Beragama di Indonesia, KH. Lukman Hakim Saefudin pada Webinar Moderasi Beragama Berbasis Indigenous Religiosity, Merawat Tradisi Keagamaan Walisongo dalam Kerangka Moderasi Beragama. Foto Caputer Youtube.

Semarang, nujateng.com – Berbicara mengenai moderasi beragama itu harus menyamakan dahulu  pengertian tentang moderasi beragama. Terkadang masih saja banyak disalahpahami dalam memaknai istilah moderasi beragama ini. Karena kata moderasi beragama bisa disalahpahami umat beragama untuk membuat umat beragama itu tidak kokoh dan tidak teguh dalam meyakini dan mengamalkan ajaran agamanya.

Kalimat itulah sebagai pembuka diskusi yang dipaparkan pencetus moderasi beragama di Indonesia, KH. Lukman Hakim Saefudin, dalam acara Webinar Nasional “Moderasi Beragama Berbasis Indigenous Religiosity, Merawat Tradisi Keagamaan Walisongo dalam Kerangka Moderasi Beragama” yang diselenggarakan UIN Walisongo Semarang bekerjasama dengan Rumah Moderasi Beragama, Rabu (15/7/2020).

Menurut Lukman Hakim, moderat itu dimaknai sesuatu yang berimplikasi terhadap toleransi, sehingga hakekatnya itu membuat orang dalam beragama itu tidak terlalu serius, tidak teguh memegang keimanannya, bahkan tidak mempunyai rasa kepedulian terhadap komunitas agama atau kepada simbol-simbol agama yang dilecehkan atau direndahakan.

“Moderasi beragama itu adalah upaya kita bersama bagaimana membaut moderat, tidak berlebih-lebihan, tidak ekstrem dalam beragama. Jadi yang bermoderasi itu cara kita beragama, jadi ini yang perlu kita pahami,” jelas KH. Lukman Hakim Saefudin, Menteri Agama Periode 2014-2019.

Sementara itu, Rektor UIN Walisongo Semarang, Prof. Dr. Imam Taufik, M.Ag dalam keynote speakernya menjelaskan bahwa Al-Qur’an adalah kitab sumber perdamaian, kitab sumbernya moderasi yang mengajak dan menjelaskan kepada kita secara gamblang bahwa aspek lokalitas itu sebagai pijakan dalam moderasi beragama, bisa dilihat  dalam sejarah kenabian misalnya.

“Salah satu pondasi keberhasilan Rasulullah Muhammad Saw dalam  membumikan budaya moderat yang damai adalah dengan mengharmonisasikan penduduk lokal Yastrib waktu itu /Madinah,”jelasnya.

Ditambahkan Prof. Imam Taufik, waktu itu ada dua suku yang bertikai, berperang dan konflik cukup lama hampir 300 tahun, suku Aus dan suku Khazraj. Ketika itu nabi datang dengan piagam Madinah. Nabi datang dengan mengharmonisasikan diantara mereka dan basisnya adalah menghargai keperbedaan mereka. Pola atau pondasi utama adalah membangun kota Yastrib, disini jelas bahwa aspek lokalitas memiliki peran utama dalam membangun visi kebersamaan.

“Dalam islam sering kita sebut islam agama yang santun, ramah, penuh kedamaian sekarang trend berparadigma wasathiyah (moderat) tentu ini menjadi kepentingan kita menjadikan agama manapun juga basisnya adalah mengantarkan pemelukmnya selamat dan menyelamatkan,”tandas Rektor UIN Walisongo Semarang.

Acara ini berlangsung daring melalui media Zoom yang dimulai dari pukul 10.00 – 12.20 WIB, dan diikuti lebih dari 100 orang dan disiarkan langsung melaui Youtube walisongodotco. Narasumber lain dalam Webinar ini antara lain Budayawan asli Semarang, Prie GS  dan Yeny Wahid, Pendiri Wahid Foundation. (Abdus Salam/003)