Ramadhan dan Kultur Hibrida Semarang

0
4500

Oleh : Rais (Alumnus PP Al Huda Kebumen)

nujateng.com Bingkai Ramadhan menawarkan perubahan  pada setiap individu Muslim guna melakukan transformasi kehidupan menuju kebaikan. Tawaran berupa pahala di setiap laku di dalam bulan suci menjadi pijakan kaum Muslim mengejawantahkan perbuatannya pada perbaikkan. Semangat perbaikan personal  pun seharusnya tidak hanya berorientasi vertikal (hablum minallah) an sich, namun dimensi horizontal (hablum minannas)  tak dilupakan.

Bingkai Ramadhan yang disabdakan oleh Rasulullah sebagai tameng bagi Muslim,

… dan puasa adalah tameng.  Bila salah seorang dari kali pada hari puasa jangalah ia berbuat, sia-sia dan jangalah ia banyak mendebat. Kalau orang lain mencercanya atau memusuhinya hendaknya ia berkata saya sedang berpuasa” (HR. Bukhari Muslim)

Sabda Nabi Muhammad menaruh perhatian pada kualitas beribadah (baik vertikal maupun horizontal)  yang dijadikan rambu-rambu dalam melakukan aktivitas sosial. Ujian setiap Muslim yang melaksanakan puasa  dikatakan pada Hadis di atas hanya berupa celaan.  Namun, hikmah yang dipetik dari ucapan tersebut adalah bahwa kondisi sosial yang beragam ini memberikan kesempatan pada setiap Muslim untuk berlaku toleran kepada sesama.

Poin toleran dalam berpuasalah yang perlu digaungkan kembali ditengah penuh sesak ujaran homogenitas akan realita sosial.  Ramadhan kali ini kita berpijak di bumi Indonesia yang pada hakikatnya telah terdapat pemandangan multikulturalisme. Kondisi demikian telah lama di alami oleh nenek moyang dan berlanjut hingga hari ini.  Keberagamanan yang alamiah justru memberikan keberuntungan warisan untuk menjaga identitas multikutural sekaligus membuka jalan bagi kelompok tertentu untuk menyeragamkan masyarakat.

Salah satu masyarakat yang memiliki ragam etnis dan agama berwarna adalah Semarang.  Dalam buku Menjaga Tradisi Di Garis Tepi ; Identitas, Pertahanan dan Perlawanan Kultural Masyarakat Etno-Religius karya Tedi Kholiudin menggambarkan bahwa daerah Semarang dianugerahi kultur hibrida amat kaya.

Rumah ibadah umat Konghucu berupa Klenteng di kawasan Pencinan dijadikan sentral kegiatan dan ingatan bersama akan peristiwa Geger Pecinan  pada abad ke-16. Kejadian tersebut justru memberikan buah representasi akan relasi masyarakat Jawa dan Tioghoa. Semarang sebagai salah satu wilayah di provinsi Jawa Tengah mengejawantahkan budaya kejawaanya. Pada saat itu, bersatunya kaum Tionghoa dan Jawa melawan satu musuh bersama bernama kolonialisme Belanda menjalar ke dalam pribadi masing-masing untuk menyampaikan sejarah dan berimbas pada konstruksi budaya setempat.

Tak hanya etnis Tioghoa, etnis Melayu yang memiliki basis di Sumatera dan juga Tionghoa dan Arab yang notabene dari luar  Indonesia. Pada abad ke -18, kantung-kantung etnis tersebutlah menjadi wilayah melakukan persentuhan antar-etnis sejauh ini masih harmonis. Akulturasi pada perangkat komunitas sosial berupa, bentuk bangunan dan pagelaran kebudayaan yang bertemu dalam satu geografis.

Lantas kultur hibrida[1] ini menaruh posisi kebudayaan Jawa dimana ? Tedi Kholiludin mengajukan argumen bahwa  cerminan budaya Jawa pada tradisi Gambang Semarang dan Manten Kaji atau Dugderan. Tradisi yang ditaruh pada pra-ramadhan menjadi bentuk identitas Muslim-Jawa di Semarang.  

Silang Budaya

Letak kebudayaan Jawa dan tradisi Islam menjadi salah satu partisipan pembentukan karakteristik masyarakat Semarang. Kelompok sosial yang sadar akan ekspresi keagamaan seorang Muslim yang merdeka dan mandiri secara individu sekaligus dinamis dalam melampaui rigidnya ajaran agama melalui pendekatan budaya setempat.

Kategorisasinya ada pada elemen-elemen masyarakat pesisir yang membentuk identitas masyarakat Semarang dan bingkai Muslim-Jawa menjadi fondasi kokoh untuk menandakan Islam yang tak abai pada geografi sosial.

Sejarawan, Djawahir Muhammad mengutarakan prinsip kebudayaan di kawasan Semarang sebagai kultur hibrida dikarenakan telah melampaui multikulturalisme dan pluralisme. Struktur masyarakat telah menancapkan fondasi masing-masing ditengah tarikan budaya globalisasi berlangsung. Tanpa ada gesekan yang terjadi sehingga hibriditas budaya itu berjalan mulus.

Kewajaranlah yang diperlukan oleh setiap insan untuk mengukuhkan jati dirinya. Kondisi sosial, ekonomi, teknologi dan industri yang ultra dinamis tidak dijadikan alasan untuk pengeroposan budaya. Ditambah lagi tingkat urbanisasi ke Semarang sebagai ibu kota provinsi  Jawa Tengah yang menimbulkan “kontestasi budaya” di lapangan terbuka.

Sebagaimana dikutip di awal bahwa kontestasi budaya di Semarang yang terimbas oleh urbanisasi justru mengharuskan Islam menawarkan solusi agar tidak terjadi gesekan antar individu melalui semangat Ramadhan.

Pertama, penghargaan atas pilihan individu untuk diekspresikan di ruang publik. Elastisitas budaya di Semarang sebagai ibu kota dengan membebaskan pilihan justru memberikan peluang kultur hibrida untuk terus digaungkan oleh setiap komponen masyarakat.

Dalam hari-hari berpuasa misalnya, melakukan sahur atau buka bersama lintas agama atau etnis harus difasilitasi oleh negara. Pertemuan-pertemuan seperti inilah yang memberikan gambaran untuk saling menolong antar individu. Hal ini sering dilakukan oleh istri Abdurrahman Wahid, Sinta Nuriyah setiap puasa.

Kedua, ajaran  kasih sayang tanpa kekerasan. Ghiroh ramadhan sebagai  salah satu pintu masuk menuju kebaikan. Manusia diciptakan dengan keadaan untuk saling menyayang tanpa merendahkan. Agama yang mengajarkan untuk saling mengajarkan satu sama lain menggunakan metode kasih sayang.  Dalam keadaan Semarang dengan kultur hibrida yang memberikan semangat untuk saling menyayangi yang berbeda bukan malah memaksakan kehendak homogenisasi

Ketiga, keterlibatan masyarakat dalam menjaga kultur hibrida . Perilaku saling memahami antar kultur yang terletak pada satu kondisi geografi dan sosial mengurangi potensi gesekan. Namun, tidak sebatas pada momen Ramadhan saja, melainkan bulan suci sebagai titik awal inspirasi menjaga masyarakat untuk terlibat aktif dalam menggaungkan keberagaman.

Menjaga tradisi di tengah gegap gempita daerah urban menjadi salah satu potret ramadhan yang unik. Ia memiliki diferensiasi yang perlu diutarakan dan menjadi catatan bagi Muslim, bahwa berpuasa bukan sekadar ibadah ­ansich, melainkan ada beban budaya yang selalu mengekor di belakangnya.


KONTEN MERUPAKAN KOLABORASI RAMADHAH BERSAMA NUJATENG.COM X JUSTISIA.COM

[1] Proses hibridisasi sosiokultural dimana struktur dan praktik yang tadinya terpisah, kemudian dikombinasikan  untuk menciptakana struktur, objek, dan praktik baru.