Tafsir Keadilan Gender ala KH.Husein Muhammad

0
1016

Oleh : Fais (Alumnus Pondok Pesantren Apik Kaliwungu)

nujateng.com Panggung sejarah membuktikan bahwa perempuan selalu berada dalam posisi yang tidak menguntungkan dalam intereaksi sosialnya. Mereka hanya menjadi pelengkap atau bahkan sering menjadi korban, selain itu mereka selalu menjadi makhluk tuhan yang di nomere duakan bahkan dianggap sebuah barang kepemilikan. Dalam tradisi yunani laki laki boleh mengawini perempuan dengan jumlah tidak terbatas. Bila sudah dikawini maka menjadi milik laki-laki sepenuhnya. Bahkan filsuf besar Aristoteles beranggapan bahwa laki-laki adalah superior atas perempuan yang dianggap tidak memiliki akal cukup untuk mencerna dan memahami.

Peradaban yang lain seperti Arab, India, Tiongkok tidak jauh berbeda. Bahkan di Arab, perempuan dibunuh dengan alasan telah mencemarkan kehormatan keluarga. Jikapun tidak dibunuh, mereka akan dijadikan budak dan dirampas hak sosialnya. Tentu saja deskripsi ini menggambarkan peradaban yang cacat kemanusia’an. Kemunculan Islam lima belas abad silam menawarkan misi pembebasan hak perempuan namun tidak dapat dipungkiri tempat kelahiran Islam memiliki peradaban merendahkan kemanusia’an perempuan.

            Kedatangan Islam merupakan angin segar bagi kaum perempuan. Melalui wahyu yang disampaikan oleh Nabi Muhammad saw bahwa perempuan dan laki-laki sebagai subjek manusia yang utuh dan setara satu sama lain saling melengkapi dan bermitra saling kerja sama. Hal demikian adalah visualisasi dari ayat Al-Qur’an (QS.al-Hujurat (49);13)

“Wahai manusia ,kami telah ciptakan kalian dari laki-laki dan perempuan,lalu kami jadikan kalian bersuku-suku dan berbangsa-bangsa ,agar kalian saling mengenal satu sama lain.sesungguhnya yang paling mulia disisi Allah adalah yang paling bertakwa.”

Penjelasan deskripsi di atas tentu saja kita sepakat bahwa kedatangan islam membawa misi besar mengangkat kemanusia’an perempuan namun akhir-akhir ini cara pandang kita terhadap teks- teks sumber dan histori di awal islam belum sepenuhnya diterapkan dalam prilaku kita. Masih banyak tafsir yang belum memanusiakan perempuan.

Indonesia sebagai Negara meyoritas muslim pun belum sepenuhnya memahami tafsir kesetara’an. KH. Husein Muhammad salah satu ulama Indonesia yang cenderung memiliki pemikiran tafsir gender progresif. Beliau membuat formula baru fiqih perempuan dengan mempertimbangkan interpretasi Islam kita saat ini, apakah ikut bekontribusi memanusiakan perempuan atau malah sebaliknya justru menyampingkan dan menistakan. Dengan menela’ah kitab kitab klasik dan mengkaji tatanan sosial perempuan beliau menemukan beberapa pemikiran tafsir wacana keadilan dan kesetara’an gender.

Esensi Pencipta’an Manusia

Pemahaman perempuan tercipta dari tulang rusuk laki-laki telah menjadi keyakinan yang mengakar dalam tubuh masyarakat. Padahal dalam Al-Quran tidak ada satu ayatpun yang menyebutkanya. Faqihuddin Abdul Qadir dalam bukunya Qira’ah Mubadalah Tafsir Progresif untuk Keadilan Gender Dalam Islam menuturkan bahwa Imam Besar Masjid Istiqlal KH. Nasarudin Umar dalam analisisnya menyebutkan ada tiga bagian tafsir ayat pencipta’an manusia dalam berbagai tafsir (modern dan klasik) tentunya sama sekali tidak membedakan asal usul pencipta’an antara laki-laki dan perempuan.

Abu Hurairoh RA Meriwayatkan bahwa Rasulallah bersabda: “Istri itu (terkadang) seperti tulang rusuk (yang bengkok dan keras). Jika kamu meluruskan maka akan mematahkanya. Jika kamu (mendiamkan) menikmatinya maka kamu menikmati seorang yang ada kebengkokan (kekurangan) dalam dirinya.” (Shohih Bukhori no ,5239)

Hadist yang menerangkan perempuan tercipta dari tulang rusuk laki-laki ini perlu ada pemakna’an ulang karena hal ini tidak faktual dan bertentangan dengan teks-teks lain. Artinya Buya Husein Muhammad dalam bukunya Fiqih Perempuan Refleksi Kiai atas Tafsir Wacana Agama dan Gender tidak sependapat dengan pemakna’an teks hadist yang menerangkan sifat perempuan (kiasan) “ istri laksana tulang rusuk” yang kemudian diarahkan terhadap proses pencipta’an manusia.

Menurutnya esensi awal pencipta’an manusia dalam Al-Quran tidak menyebutkan lebih dahulu laki-laki kemudian perempuan dari tulang rusuknya sehingga laki-laki menjadi superior atas perempuan. Namun esensi awal penciptaan perempuan dan laki-laki yang ekplisit dan jelas salah satunya ada dalam QS.an-Nisa [4]; 1

“Wahai manusia, bertakwalah kalian kepada Tuhanmu,yang telah menciptakan kalian dari esensi yang satu, kemudian menciptakan dari jenis yang sama (esensi yang satu tersebut) pasanganya, lalu dari keduanya mengembangbiakan para laki-laki dan perempuan dengan banyak. Bertakwalah kepada Allah dst (QS.an-Nisa’[4];1)

Aurat Perempuan dan Pertimbangan Kemanusia’an

Dalam disiplin ilmu kata Aurat yang diperbincangkan adalah yang mempunyai muatan arti dalam ayat An-Nur yaitu yang berarti sebagian anggota tubuh manusia yang dalam pandangan umum buruk dalam kitab fiqih dasar seperti Safinatunnajah fii madzhabi syafii menyebutkan aurat adalah sesuatu yang bila diperlihatkan timbul rasa malu dan bila dibiarkan terbuka akan menimbulkan fitnah seksual.

Oleh karena itu Islam lewat pemikiran para ulama ulama menyatakan bahwa aurat wajib ditutup dari pandangan orang orang yang dapat membawa fitnah seksualitas dan selain itu juga dianjurkan tidak berpakaian dengan pakaian yang dapat tembus pandang (berpakaian namun terlihat bagian dalamnya) dan berpakaian yang membentuk lekukan pada organ tubuh. Karena sejauh penelitian kasus pelecehan seksual dimulai dari bagaimana seseorang berpakaian kemudian menimbulkan syahwat sampai pada fitnah seksualitas.

Memang dalam hal berpakaian kita diberi kebebasan untuk memilih dan tidak ada pengkhususan untuk berpakaian dalam Islam Namun dalam rangka menghilangkan fitnah maka diaturlah konsep Aurat untuk menjaga kehormatan seorang perempuan. Pada dasarnya tindak kriminal dan kekerasan seksual bermula dari pikiran yang buruk dari setiap manusia, tapi dalam rangka mengangkat dan menjaga martabat perempuan, Yang perlu digaris bawahi adalah urusan menutup aurat bukan cara berpakaian karena berpakaian itu mengikut adat dan budaya masyarakat setempat.

Buya Husein Muhammad dalam bukunya Fiqih Perempuan Refleksi Kiai atas Tafsir Wacana Agama dan Gender menyebtkan bahwa perintah menutup aurat adalah dari agama (teks syara’) akan tetapi batasan dan cara menutupinya ditentukan oleh pertimbangan pertimbangan kemanusiaan dalam berbagai aspek untuk itu menentukan batasan aurat diperlukan mekanisme tertentu yang akomodatif dan responsif terhadap segala nilai yang berkemban di masyarakat.

Sehingga dalam tingkat tertentu batasan itu bisa diterima oleh sebagian besar komponen masyarakat. Dalam hal ini  pertimbangan khowaf al fitnah dan dapat menimbulkan fitnah seksualitas yang berujung pada kekerasan seksual juga harus menjadi salah satu penentu pertimbangan. Supaya tubuh manusia khususnya perempuan tidak dieksploitasi untuk kepentingan kepentingan rendah dan murahan, yang bahkan bisa menimbulkan gejolak pelecehan dan mengakibatkan kerusakan yang tidak diinginkan entah dari psikology pribadinya atau bagi tatanan kehidupan bermasyarakatnya.